Seharusnya Rumah Kita Merupakan Miniatur Suasana Rumah Surga Kita

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ragam43 Dilihat

Oleh: Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Rumah seorang mukmin bukan sekadar tempat makan, tidur, dan berkumpul. Rumah adalah tempat pertama yang seharusnya memantulkan cahaya iman.

Jika kita berharap memiliki rumah di surga, maka rumah kita di dunia seharusnya menjadi miniatur kecil dari rumah surga yang kita rindukan.

Rumah yang Dipenuhi Salam

Penghuni surga saling menyapa dengan kedamaian.

Di rumah kita, jangan biarkan kata-kata kasar lebih sering terdengar daripada ucapan yang lembut.

Jangan sampai anak-anak lebih sering mendengar bentakan daripada doa.

Jangan sampai pasangan lebih sering menerima kritik daripada penghargaan.

BACA JUGA :  Ternyata Kita Butuh Cahaya, Kita Butuh Terang

*Rumah yang Dipenuhi Zikir dan Al-Qur’an*

Surga adalah tempat yang dipenuhi pujian kepada Allah.

Maka rumah kita hendaknya hidup dengan lantunan Al-Qur’an, doa, dan zikir.

Bukan hanya dipenuhi suara televisi, gawai, dan pertengkaran.

Rumah yang jarang mengingat Allah akan mudah kehilangan keberkahan.

Rumah yang Dipenuhi Kasih Sayang

*Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling lembut kepada keluarganya*

Surga tidak dibangun di atas kemarahan.

Surga dibangun di atas cinta, maaf, dan kasih sayang.

Karena itu, jangan pelit memeluk anak.

Jangan pelit mengucapkan terima kasih kepada pasangan.

BACA JUGA :  Menjadi Hamba Allah Seutuhnya

Jangan pelit meminta maaf ketika bersalah.

Rumah yang Menenangkan Hati

Allah menggambarkan surga sebagai tempat yang menenteramkan.

Ketika seseorang pulang ke rumahnya, ia seharusnya merasakan ketenangan.

Bukan ketakutan.

Bukan tekanan.

Bukan suasana yang membuatnya ingin segera pergi.

Jadilah sebab ketenangan bagi keluarga yang Allah titipkan kepada kita.

Rumah yang Dipenuhi Ibadah

Di surga tidak ada kemaksiatan.

Karena itu, jangan jadikan rumah sebagai tempat yang mengundang murka Allah.

Biarkan rumah kita mengenal suara shalat malam.

Biarkan rumah kita menjadi tempat anak-anak belajar mencintai Al-Qur’an.

Biarkan rumah kita menjadi saksi sujud-sujud terbaik kita.

BACA JUGA :  Ketika Akhirnya Tubuhmu Tak Bisa Kulihat

*Muhasabah*

Kita semua merindukan rumah di surga.

Namun pertanyaannya:

Jika suasana rumah kita hari ini dipindahkan ke surga, apakah kita akan nyaman tinggal di dalamnya?

Jika jawabannya belum, maka masih ada waktu untuk memperbaikinya.

Mulailah dari senyum yang lebih tulus.

Mulailah dari kata-kata yang lebih lembut.

Mulailah dari shalat berjamaah yang lebih terjaga.

Karena sesungguhnya, rumah yang paling indah bukanlah rumah yang paling mewah, tetapi rumah yang paling dekat dengan Allah.

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Editor : Ust M. Ismail Chair Tanjung, SH.I