Kenapa Semakin Langka Pemimpin Yang Shalih?

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ragam25 Dilihat

Oleh: Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA. NEWS

Kita tidak kekurangan orang pintar.

Kita tidak kekurangan orang berpendidikan.

Kita juga tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang perubahan, keadilan, kesejahteraan, dan kepentingan rakyat.

Kita sering merasa kekurangan satu hal :
– Pemimpin yang shalih.
– Pemimpin yang takut kepada Allah ketika tidak ada manusia yang melihatnya.
– Pemimpin yang merasa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri.
– Pemimpin yang lebih takut terhadap hisab akhirat daripada kehilangan kekuasaan.

*Pertanyaannya, mengapa pemimpin seperti ini semakin langka?*

1. Karena Keshalihan Tidak Lagi Menjadi Ukuran Utama

Dalam banyak keadaan, manusia memilih pemimpin berdasarkan popularitas, kekayaan, kekuatan kelompok, penampilan, atau kemampuan membangun citra.

Keshalihan sering diletakkan di belakang.

Kejujuran dianggap kurang menarik.

Kesederhanaan dianggap tidak menjual.

Sikap takut kepada Allah dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak berkaitan dengan kepemimpinan.

Padahal Allah mengajarkan bahwa kepemimpinan harus diserahkan kepada orang yang kuat dan dapat dipercaya.

Allah berfirman:

«“Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
(QS. Al-Qashash: 26)»

Kekuatan tanpa amanah dapat melahirkan kezaliman.

Kecerdasan tanpa iman dapat melahirkan manipulasi.

Keberanian tanpa takut kepada Allah dapat melahirkan kesewenang-wenangan.

2. Karena Jabatan Lebih Banyak Dikejar daripada Dihindari

Dahulu, orang-orang shalih merasa takut ketika ditawari jabatan.

Mereka khawatir tidak mampu berlaku adil.

Mereka takut ada hak manusia yang terabaikan.

Mereka menangis membayangkan pengadilan Allah.

Hari ini, jabatan sering dikejar dengan segala cara.

Orang berlomba membangun jaringan.

Orang mengeluarkan biaya besar.

Orang melakukan lobi.

Sebagian rela menjual prinsip, mengorbankan persaudaraan, menebar kebohongan, bahkan menghalalkan yang haram.

Ketika jabatan diperoleh melalui jalan yang rusak, sangat sulit berharap kekuasaan itu dipakai untuk kebaikan.

Orang yang membeli jabatan biasanya akan berusaha mengembalikan biaya yang telah dikeluarkan.

Akhirnya kekuasaan berubah menjadi ladang keuntungan.

Rakyat tidak lagi dipandang sebagai amanah.

Rakyat dipandang sebagai angka, alat dukungan, dan jalan mempertahankan kekuasaan.

3. Karena Kita Memisahkan Agama dari Kepemimpinan

Sebagian orang menganggap agama hanya diperlukan di masjid.

Agama cukup dibicarakan dalam pengajian.

Agama cukup ditampilkan saat acara keagamaan.

Namun ketika berbicara tentang kekuasaan, anggaran, hukum, kebijakan, dan kepentingan masyarakat, nilai agama mulai disingkirkan.

Inilah kesalahan besar.

Islam tidak hanya mengatur cara manusia shalat.

Islam juga mengatur cara manusia memegang amanah.

Islam tidak hanya mengajarkan zikir.

Islam juga mengajarkan keadilan.

Islam tidak hanya memerintahkan puasa.

Islam juga melarang pengkhianatan, suap, korupsi, kezaliman, dan perampasan hak manusia.

BACA JUGA :  Indonesia Dalam Kegentingan Korupsi Yang Menggurita, Presiden Prabowo Diuji Kemampuannya

Keshalihan seorang pemimpin harus terlihat dalam kebijakannya.

Bukan hanya dalam penampilannya.

Bukan hanya dalam pidatonya.

Bukan hanya ketika ia berdiri di depan kamera.

4. Karena Orang Shalih Sering Menjauh dari Urusan Publik

Ada orang baik yang merasa politik, pemerintahan, dan kekuasaan adalah wilayah yang terlalu kotor.

Mereka memilih menjauh.

Mereka tidak mau terlibat.

Mereka menyerahkan ruang kepemimpinan kepada siapa saja yang berani masuk.

Akibatnya, ruang publik diisi oleh orang-orang yang memiliki ambisi besar, tetapi tidak selalu memiliki iman dan amanah yang kuat.

Menjaga diri dari fitnah kekuasaan memang penting.

Namun meninggalkan seluruh urusan masyarakat kepada orang yang tidak layak juga dapat melahirkan kerusakan.

Orang shalih tidak boleh hanya sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Ia juga harus memikirkan keselamatan masyarakat.

Ia harus menyiapkan generasi yang jujur.

Ia harus mendidik calon pemimpin yang memahami agama, memiliki kecakapan, dan sanggup melayani rakyat.

5. Karena Masyarakat Terbiasa Memaafkan Keburukan Pemimpin

Pemimpin yang melanggar amanah sering tetap dibela.

Kesalahannya dianggap kecil.

Kezalimannya dicari pembenaran.

Korupsinya dianggap biasa.

Kebohongannya disebut strategi.

Selama ia berasal dari kelompok yang sama, kesalahan besar pun dapat ditutup.

Inilah salah satu sebab pemimpin shalih semakin langka.

Masyarakat tidak lagi menuntut keshalihan.

Masyarakat hanya menuntut keberpihakan kepada kelompoknya.

Ketika kesalahan pemimpin terus dibela, ia akan semakin berani berbuat salah.

Ketika rakyat takut menyampaikan nasihat, penguasa akan merasa tidak memiliki batas.

Pemimpin yang baik membutuhkan masyarakat yang berani berkata benar.

Bukan masyarakat yang selalu memuji.

6. Karena Ulama dan Tokoh Agama Tidak Selalu Tegas

Pemimpin shalih lahir dalam lingkungan yang menghormati ilmu dan nasihat.

Namun kerusakan akan semakin besar ketika orang berilmu memilih diam karena takut kehilangan kedekatan, fasilitas, atau kedudukan.

Nasihat berubah menjadi pujian.

Kritik berubah menjadi pembenaran.

Kesalahan penguasa ditutupi dengan bahasa agama.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

«“Agama adalah nasihat.”
(HR. Muslim)»

Nasihat kepada pemimpin bukan bentuk kebencian.

Nasihat adalah bentuk kasih sayang.

Pemimpin yang tidak pernah dinasihati akan mudah merasa dirinya selalu benar.

Pemimpin yang hanya dikelilingi penjilat akan kehilangan kemampuan melihat kenyataan.

7. Karena Pendidikan Kita Lebih Banyak Melahirkan Pencari Kedudukan

Anak-anak sering didorong untuk menjadi sukses.

Namun sukses didefinisikan sebagai jabatan tinggi, penghasilan besar, dan pengaruh luas.

Mereka jarang diajarkan bahwa keberhasilan terbesar adalah tetap jujur ketika memiliki kuasa.

Mereka jarang diajarkan untuk takut mengambil hak orang lain.

Mereka jarang diajarkan bahwa satu tanda tangan dapat menzalimi ribuan manusia.

BACA JUGA :  Haji Mabrur Bukan Sekadar Pulang Membawa Gelar

Kita melatih kecerdasan mereka.

Namun kita kurang melatih hati mereka.

Kita membangun kemampuan berbicara.

Namun kita kurang membangun keberanian untuk berkata benar.

Kita menyiapkan mereka menjadi pejabat.

Namun kita lupa menyiapkan mereka menjadi hamba Allah.

8. Karena Kekuasaan Menyingkap Isi Hati

Tidak semua orang berubah setelah berkuasa.

Sebagian orang hanya menampakkan sifat aslinya setelah memiliki kekuasaan.

Ketika lemah, ia terlihat ramah.

Ketika membutuhkan dukungan, ia terlihat rendah hati.

Ketika belum memiliki jabatan, ia berbicara tentang penderitaan rakyat.

Namun setelah berkuasa, bahasa dan sikapnya berubah.

Kekuasaan membuka apa yang selama ini tersembunyi.

Jika di dalam hati terdapat ketakwaan, kekuasaan akan menjadi jalan pelayanan.

Jika di dalam hati terdapat kesombongan, kekuasaan akan menjadi alat penindasan.

Karena itu, pemimpin shalih tidak cukup hanya memiliki kemampuan.

Ia harus memiliki hati yang terus diawasi oleh rasa takut kepada Allah.

9. Karena Dunia Lebih Dicintai daripada Akhirat

*Akar dari banyak kerusakan kepemimpinan adalah cinta dunia.*
– Cinta kepada harta.
– Cinta kepada pujian.
– Cinta kepada kedudukan.
– Cinta kepada pengaruh.
– Cinta kepada kehidupan mewah.

*Ketika dunia menguasai hati, pemimpin akan sulit berlaku adil.*
– Ia akan takut kehilangan jabatan.
– Ia akan takut kehilangan fasilitas.
– Ia akan takut ditinggalkan pendukung.
– Namun ia tidak takut kehilangan ridha Allah.
– Dan tidak takut sama Allah.

*Allah berfirman :*

«“Sedangkan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A‘la: 17)»

*Pemimpin shalih memahami bahwa jabatan hanya sementara.*
– Kantor akan ditinggalkan.
– Pengawalan akan berakhir.
– Pujian manusia akan berhenti.

*Pada akhirnya, ia akan berdiri seorang diri di hadapan Allah.*
– Tidak ada staf.
– Tidak ada pendukung.
– Tidak ada partai.
– Tidak ada kekuatan yang dapat menolongnya.

*Pemimpin Shalih Bukan Pemimpin Tanpa Kesalahan*
– Pemimpin shalih bukan malaikat.
– Ia dapat keliru.
– Ia dapat mengambil keputusan yang kurang tepat.

*Namun ketika diingatkan, ia kembali.*
– Ketika melakukan kesalahan, ia mengakuinya.
– Ketika ada rakyat terzalimi, ia berusaha memperbaiki.
– Ketika memiliki kesempatan memperkaya diri, ia menahan dirinya.
– Ia tidak merasa hina karena meminta maaf.
– Ia tidak menganggap kritik sebagai permusuhan.
– Ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
– Keshalihan membuat seorang pemimpin tetap memiliki hati.

*Belajar dari Umar bin Khattab*
– Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bukan pemimpin yang hidup untuk kemewahan.
– Ia hidup dalam rasa takut kepada Allah.
– Ia berjalan malam untuk melihat keadaan rakyat.
– Ia menangis ketika menyadari ada rakyat yang lapar.
– Ia merasa setiap kesulitan rakyat adalah bagian dari tanggung jawabnya.

BACA JUGA :  Aku Taat dan Menyembah-Mu, Mengapa Ujian Ini Tak Berkesudahan Ya Rabb?

*Ia tidak bertanya :*
– “Apakah rakyat masih mendukungku?”

*Ia bertanya dalam hatinya :*
– “Bagaimana aku menjawab semua ini di hadapan Allah?”

*Jiwa Pemimpin Shalih.*
– Ia tidak hanya ingin dicintai rakyat.
– Ia ingin diridhai Allah.
– Kita Juga Memiliki Tanggung Jawab

Pemimpin yang shalih tidak lahir dari ruang kosong.
– Ia lahir dari keluarga yang menanamkan iman.
– Ia tumbuh dari pendidikan yang mengajarkan amanah.
– Ia dibentuk oleh masyarakat yang tidak mentoleransi kebohongan.
– Ia dikuatkan oleh ulama yang berani menasihati.

Karena itu, jangan hanya mengeluhkan langkanya pemimpin shalih.
– Didiklah anak-anak kita agar takut kepada Allah.
– Ajarkan mereka bahwa jabatan bukan kemuliaan.
– Jabatan adalah ujian.

Ajarkan mereka bahwa orang besar bukan orang yang banyak dilayani.

Orang besar adalah orang yang banyak melayani.

Ajarkan mereka bahwa kekuasaan tidak membuat seseorang lebih tinggi di hadapan Allah.

Yang membuat manusia mulia adalah takwa.

Pemimpin shalih semakin langka karena kita hidup pada zaman ketika citra lebih mudah dijual daripada karakter.

Janji lebih mudah disampaikan daripada ditunaikan.

Simbol agama lebih mudah ditampilkan daripada nilai agama dijalankan.

Namun kita tidak boleh kehilangan harapan.

Selama masih ada keluarga yang mendidik dengan iman, masih ada guru yang mengajarkan kejujuran, masih ada ulama yang berani berkata benar, dan masih ada masyarakat yang menolak kezaliman, harapan itu tetap ada.

Kita membutuhkan pemimpin yang ketika dipuji tidak mabuk.

Ketika dikritik tidak marah.

Ketika berkuasa tidak lupa diri.

Ketika memiliki harta tidak rakus.

Ketika mengambil keputusan selalu mengingat Allah.

Sebab negeri ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas.

Negeri ini membutuhkan pemimpin yang memiliki hati.

Hati yang hidup.

Hati yang takut kepada Allah.

Hati yang sadar bahwa setiap kekuasaan akan berakhir.

Dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami pemimpin yang beriman, jujur, adil, amanah, dan menyayangi rakyatnya. Jauhkan kami dari pemimpin yang menipu, berkhianat, zalim, dan menjadikan kekuasaan sebagai jalan memuaskan hawa nafsunya.

Karena satu pemimpin yang shalih dapat menjadi sebab turunnya banyak keberkahan.

Dan satu pemimpin yang zalim dapat menjadi sebab panjangnya penderitaan.

Editor : Ust M. Ismail Chair Tanjung, Sh.I