ULAMA AKHIRAT

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ragam14 Dilihat

Oleh: Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Ulama akhirat bukan sekadar orang yang banyak mengetahui dalil.

Ia adalah orang yang semakin takut kepada Allah setelah ilmunya bertambah.

Semakin luas pengetahuannya, semakin dalam kerendahan hatinya.

Semakin banyak manusia memujinya, semakin kuat ia mengoreksi dirinya.

Ia tidak merasa besar karena banyak orang duduk di hadapannya.

Ia justru merasa takut.

Jangan-jangan setiap kata yang ia sampaikan akan ditanya oleh Allah pada hari kiamat.

Ilmunya Membawanya Menangis

Ulama akhirat tidak menjadikan ilmu sebagai hiasan lisan.
– Ilmu itu masuk ke dalam hati.
– Menghidupkan rasa takut.
– Menumbuhkan rasa malu.

Mendorongnya untuk semakin taat.
– Ketika membaca ayat tentang azab, hatinya bergetar.
– Ketika membaca ayat tentang surga, ia merindukannya.
– Ketika membaca kisah orang-orang saleh, ia merasa amalnya masih sangat sedikit.

Ia mengajarkan manusia untuk menangis kepada Allah, karena ia sendiri telah lebih dahulu menangis dalam kesendirian.

*Tidak Menjual Agama demi Dunia*

Ulama akhirat tidak menjadikan agama sebagai tangga menuju kekuasaan.
– Ia tidak menggadaikan kebenaran untuk mendapatkan jabatan.
– Ia tidak memuji orang zalim demi memperoleh kedekatan.

Ia tidak menghalalkan yang haram hanya karena tekanan manusia.
– Ia tahu bahwa dunia akan berakhir.
– Kursi akan ditinggalkan.
– Popularitas akan padam.
– Pujian akan berhenti.

Namun pertanggungjawaban di hadapan Allah tidak pernah dapat dihindari.

Ulama akhirat lebih takut kehilangan ridha Allah daripada kehilangan dukungan manusia.

BACA JUGA :  ASHABUL A‘RAF, Mereka yang Berdiri di Antara Surga dan Neraka

Berani Menasihati Penguasa

Ulama akhirat tidak selalu berbicara keras. Namun ia tidak pernah diam terhadap kezaliman karena takut kehilangan kenyamanan.
– Ia menasihati dengan hikmah.
– Ia menjaga adab.
– Ia memilih kata yang baik.

Tetapi ia tidak menyembunyikan kebenaran.

Ia tidak menjadi pembenar bagi kebijakan yang menindas rakyat.

Ia tidak menjadikan fatwa sebagai alat untuk melindungi kepentingan penguasa.
– Ia berdiri sebagai penjaga agama.
– Bukan penjaga kekuasaan.
– Tidak Haus Pengikut

Ulama akhirat tidak merasa sedih ketika manusia tidak mengenalnya.
– Ia tidak gelisah ketika majelisnya sepi.
– Ia tidak marah ketika namanya tidak disebut.

Baginya, yang paling penting bukan berapa banyak manusia yang mengikutinya.

Berapa banyak manusia yang semakin dekat kepada Allah karena nasihatnya.
– Ia tidak membangun pengagum.
– Ia membangun hamba-hamba Allah.
– Ia tidak mengikat manusia kepada dirinya.

Ia mengarahkan manusia kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan jalan keselamatan. Akhlaknya Mendahului Lisannya

Ulama akhirat tidak hanya pandai menjelaskan sabar.
– Ia menunjukkan kesabaran.
– Ia tidak hanya berbicara tentang ikhlas.
– Ia menjaga amalnya dari pujian manusia.
– Ia tidak hanya mengajarkan kasih sayang.
– Ia lembut kepada orang lemah.
– Ia tidak hanya menjelaskan bahaya kesombongan.
– Ia bersedia duduk bersama orang miskin.

Masyarakat mengenalnya bukan hanya melalui ceramahnya. Namun melalui akhlaknya.
– Keluarganya merasakan kelembutannya.
– Tetangganya merasakan kebaikannya.
– Murid-muridnya merasakan ketulusannya.
– Tidak Merasa Paling Suci

BACA JUGA :  NERAKA: Peringatan Bagi Hati Yang Lalai

Ulama akhirat tidak mudah merendahkan orang lain.
– Ia tidak merasa surga hanya milik kelompoknya.
– Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menghina.
– Ia tetap tegas terhadap penyimpangan.

Namun ia menjaga lisannya dari kesombongan.

Ia sadar bahwa hidayah adalah milik Allah.

Hari ini seseorang tersesat. Besok mungkin ia mendapat petunjuk.

Hari ini seseorang tampak saleh.

Besok belum tentu ia mampu menjaga keistiqamahan.

Karena itu, ulama akhirat sibuk memohon keselamatan bagi dirinya.

Ia tidak merasa aman dari fitnah.

Kehadirannya Mengingatkan kepada Allah

Ada orang yang ketika berbicara, manusia mengagumi kepandaiannya.

Ada pula orang yang ketika berbicara, manusia mengingat Allah.

Itulah ulama akhirat.

Nasihatnya tidak hanya memenuhi kepala.

Nasihatnya mengetuk hati. Kata-katanya tidak selalu indah. Namun keluar dari hati yang hidup.

Ia mungkin tidak dikenal luas. Namanya mungkin tidak viral.

Wajahnya mungkin tidak banyak muncul di media. Namun doanya naik ke langit.

Air matanya menjadi saksi. Keikhlasannya diketahui oleh Allah. Mereka Takut pada Akhir Kehidupan

*Ulama akhirat tidak pernah merasa cukup dengan amalnya.*

– Ia takut jika ilmu tidak diamalkan.
– Ia takut jika dakwah tercampur riya.
– Ia takut jika pujian manusia menipu dirinya.
– Ia takut jika pada hari kiamat manusia memanggilnya ulama, tetapi Allah tidak menerimanya.
– Karena itu, ia terus beristighfar.
– Ia memohon agar ilmunya menjadi cahaya.
– Bukan hujah yang memberatkannya.
– Ia memohon agar lisannya menjadi jalan hidayah.
– Bukan jalan menuju kehancuran dirinya.

BACA JUGA :  Indonesia Dalam Kegentingan Korupsi Yang Menggurita, Presiden Prabowo Diuji Kemampuannya

*Kita Membutuhkan Ulama Akhirat*

– Zaman ini tidak kekurangan orang pandai berbicara.
– Kita tidak kekurangan mimbar.
– Kita tidak kekurangan siaran.
– Kita tidak kekurangan konten agama.
– Kita sangat membutuhkan ulama yang takut kepada Allah.
– Ulama yang tidak dapat dibeli.
– Ulama yang tidak mudah dibungkam.
– Ulama yang tidak silau oleh jabatan.
– Ulama yang mengasihi umat.
– Ulama yang berani berkata benar.
– Ulama yang lebih sibuk menyelamatkan manusia daripada membesarkan namanya.

*Ulama akhirat adalah pelita di tengah gelapnya zaman.*

– Ia tidak hidup untuk dipuji.
– Ia hidup untuk mengabdi.
– Ia tidak mengumpulkan dunia melalui agama.
– Ia menggunakan dunia untuk menjaga agama.
– Ia tidak ingin dikenang sebagai orang besar.
– Ia hanya ingin pulang kepada Allah dalam keadaan diterima.

*Semoga Allah menjaga para ulama yang ikhlas.*

– Semoga Allah menguatkan mereka ketika menghadapi tekanan.
– Semoga Allah melindungi mereka dari godaan harta, jabatan, popularitas, dan kekuasaan.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai umat yang mencintai ulama akhirat.

– Bukan karena ketenaran mereka.
– Mereka membawa hati kita semakin dekat kepada Allah.

Ulama akhirat tidak sekadar menunjukkan jalan menuju surga.

Mereka berjalan di jalan itu lebih dahulu, dengan rasa takut, air mata, dan keikhlasan.

Editor : Ust M. Ismail Chair Tanjung, Sh.I