Belajar Hidup dari Lebah

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ragam20 Dilihat

Oleh Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Bahkan seekor lebah yang kecil, yang sering luput dari perhatian manusia, ternyata menyimpan pelajaran besar tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menjalani hidupnya.

Lebah tidak memiliki tubuh yang besar. Ia tidak memiliki taring yang menakutkan. Ia juga tidak mempunyai kekuatan yang mampu merobohkan pohon. Namun Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an. Bukan tanpa alasan.

Mungkin karena manusia perlu belajar bahwa ukuran kemuliaan bukan terletak pada besarnya tubuh, tingginya jabatan, atau banyaknya harta. Kemuliaan terletak pada manfaat yang diberikan.

Lebah Selalu Mencari yang Baik

Lebah tidak hinggap di tempat-tempat kotor. Ia mencari bunga yang baik. Ia mendatangi taman yang indah. Ia memilih sari yang terbaik untuk dibawanya pulang.

Begitulah seharusnya seorang mukmin.

Hatinya mencari majelis ilmu. Lisannya mencari kata-kata yang baik. Matanya mencari hal-hal yang diridhai Allah. Telinganya memilih untuk mendengar nasihat daripada ghibah.

Banyak kerusakan dalam hidup bermula dari pilihan tempat kita singgah.

BACA JUGA :  Mengambil Hikmah dari Kisah Ujian yang Menimpa Nabi Ayyub ‘Alaihissalam

Jika lebah memilih bunga, mengapa kita sering memilih lingkungan yang merusak iman?

Lebah Mengambil yang Baik, Tidak Merusak

Saat lebah hinggap di atas bunga, ia tidak merusaknya. Ia mengambil sari bunga dengan lembut.

Begitulah akhlak seorang mukmin.

Kehadirannya tidak menjadi beban bagi orang lain. Ia tidak meninggalkan luka dalam pergaulan. Ia tidak merusak persaudaraan. Ia tidak menebar kebencian.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Betapa indah jika setiap kehadiran kita justru menghadirkan ketenangan bagi orang lain.

Lebah Menghasilkan Madu, Bukan Racun

– Yang keluar dari perut lebah adalah madu.
– Sesuatu yang manis. Sesuatu yang bermanfaat.
– Sesuatu yang menjadi obat.

Pertanyaannya, apa yang keluar dari diri kita?
– Apakah lisan kita mengeluarkan doa atau cacian?
– Apakah tulisan kita melahirkan manfaat atau permusuhan?
– Apakah kehadiran kita membawa kesejukan atau justru kegelisahan?
– Apa yang keluar dari seseorang biasanya adalah isi hatinya.
– Hati yang dipenuhi iman akan melahirkan kelembutan.
– Hati yang dipenuhi cinta kepada Allah akan melahirkan kasih sayang kepada manusia.

BACA JUGA :  "SURGA" Tempat Pulang yang Dirindukan atau Dilupakan?

Lebah Bekerja Tanpa Banyak Bicara

Kita jarang mendengar suara lebah. Namun kita melihat hasil kerjanya.

Sebaliknya, manusia sering banyak berbicara tentang rencana, tetapi sedikit dalam pelaksanaan.

Lebah mengajarkan bahwa keberkahan tidak lahir dari banyaknya ucapan, tetapi dari kesungguhan dalam bekerja.

Ia terbang dari pagi hingga petang. Mengumpulkan sedikit demi sedikit. Tidak mengeluh. Tidak pamer. Tidak meminta pujian.

Dan akhirnya, lahirlah madu yang dicari banyak orang.

Lebah Hidup untuk Memberi Manfaat.
– Tidak ada yang rugi karena keberadaan lebah.
– Madu bermanfaat.
– Penyerbukan bunga bermanfaat.
– Keberadaannya bermanfaat.

Inilah salah satu ciri orang beriman.
Ia hadir membawa manfaat.
– Keluarganya merasakan manfaatnya.
– Tetangganya merasakan manfaatnya.
– Masyarakat merasakan manfaatnya.

Bahkan setelah ia meninggal, manfaat itu masih terus mengalir.
– Ilmu yang diajarkan.
– Anak saleh yang dididik.
– Sedekah yang ditinggalkan.
– Dakwah yang diwariskan.

BACA JUGA :  "Para Penghuni Neraka”

Semuanya menjadi madu yang terus menetes hingga ke alam kuburnya.

Muhasabah

Ketika melihat seekor lebah, jangan hanya melihat kecilnya tubuhnya.

Lihatlah besarnya pelajaran yang dibawanya.
– Jadilah seperti lebah.
– Datanglah kepada yang baik.
– Ambillah yang baik.
– Tinggalkan yang buruk.
– Jangan merusak.
– Hasilkan kemanfaatan.
– Tebarkan kemanisan akhlak.

Karena kelak ketika kita meninggalkan dunia ini, manusia tidak akan mengingat seberapa besar tubuh kita, seberapa tinggi jabatan kita, atau seberapa banyak harta kita.

Mereka akan mengingat satu hal:

Apakah selama hidup kita menjadi madu yang mengobati, atau justru racun yang melukai.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang seperti lebah, kecil dalam pandangan diri sendiri, tetapi besar manfaatnya di sisi Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Ust. M. Ismail Chair Tanjung, SH.I