LIPPSU: 12 Tower Transmisi PLN Sumut Bengkok Diterjang Puting Beliung, Pasti Nanti Minta Maaf Lagi, Kemudian Sibuk Memperbaiki, Bosan Dari Dulu Terus Begitu

News398 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Belum genap sebulan sejak peristiwa blackout yang melumpuhkan sistem kelistrikan Sumatera pada 22 Mei 2026, infrastruktur ketenagalistrikan kembali diterpa gangguan serius. Kali ini, sebanyak 12 tower transmisi milik PT PLN (Persero) di Sumatera Utara dilaporkan roboh dan bengkok akibat cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin puting beliung pada Kamis (4/6/2026) malam.

Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menilai rentetan gangguan kelistrikan yang terjadi dalam waktu berdekatan tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah dan PLN.

“Belum sebulan masyarakat mengalami blackout besar, kini kembali terjadi kerusakan infrastruktur transmisi akibat cuaca ekstrem. Jangan sampai pola yang terjadi hanya sebatas minta maaf, lalu sibuk memperbaiki setelah kejadian. Yang dibutuhkan masyarakat adalah langkah antisipatif dan penguatan sistem agar kejadian serupa tidak terus berulang,” kata Azhari, Jumat (5/6/2026).

Azhari mengatakan, masyarakat hampir dapat menebak respons yang akan disampaikan PLN setiap kali terjadi gangguan besar pada sistem kelistrikan. Menurutnya, permintaan maaf kepada pelanggan memang penting, namun tidak boleh menjadi pola yang terus berulang tanpa diikuti langkah pencegahan yang lebih kuat.

BACA JUGA :  Adies Kadir Siap Dicalonkan Kembali sebagai Ketum Ormas MKGR, Tunggu Keputusan Resmi di Bulan Agustus

“Saya yakin nanti PLN kembali menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat. Permintaan maaf itu sudah berulang kali kita dengar setiap kali terjadi gangguan besar. Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar permintaan maaf, tetapi jaminan bahwa kejadian serupa tidak terus berulang melalui penguatan infrastruktur, perawatan berkala, dan sistem mitigasi yang lebih baik,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, kerusakan terjadi pada dua jalur transmisi utama. Pada jalur SUTET 275 kV Galang–Simangkuk, tiga tower dilaporkan roboh yakni Tower 18, 19, dan 20, sementara Tower 17 dan 21 mengalami bengkok. Sedangkan pada jalur SUTT 150 kV Tebing Tinggi–Sei Rotan, enam tower roboh yakni Tower 77 hingga Tower 82, serta satu tower mengalami bengkok pada Tower 76.

Kronologi Kejadian
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 20.03 WIB saat hujan deras dan angin kencang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Cuaca ekstrem menyebabkan kerusakan fisik pada jaringan transmisi sehingga mengganggu pasokan listrik di beberapa daerah.

Menyikapi kondisi tersebut, PLN melakukan manuver jaringan dan mengerahkan tim tanggap darurat untuk memulihkan pasokan listrik. Upaya awal normalisasi berhasil dilakukan pada Jumat dini hari sekitar pukul 02.38 WIB sehingga sebagian besar pelanggan terdampak kembali memperoleh pasokan listrik secara bertahap.

BACA JUGA :  "Konflik Iran & United States of Israel: Awal runtuhnya Petro-Dollar?"

Untuk mempercepat pemulihan sistem, PLN juga membangun Tower Emergency sebagai pengganti sementara sembari menunggu proses perbaikan permanen. Selain itu, perusahaan menerapkan manajemen beban di sejumlah wilayah guna menghindari gangguan yang lebih luas selama proses perbaikan berlangsung.

Tidak Terkait Blackout Mei, Namun Jadi Sorotan
Secara teknis, robohnya 12 tower transmisi di Sumut tidak berkaitan langsung dengan blackout Sumatera yang terjadi pada 22 Mei 2026. Blackout tersebut dipicu putusnya kabel transmisi interkoneksi 275 kV di wilayah Muaro Jambi akibat cuaca ekstrem yang kemudian memicu gangguan berantai pada sistem kelistrikan Sumatera.

Dalam insiden blackout Mei lalu, kabel transmisi antara Tower 175 dan 176 di Desa Tempino, Muaro Jambi, putus sekitar pukul 18.44 WIB. Gangguan itu memicu keluarnya jalur transmisi utama dari sistem, menyebabkan perpindahan daya secara mendadak dan berujung pada pemadaman massal yang meluas dari Jambi hingga Aceh. Pemulihan sistem baru dapat diselesaikan secara penuh pada 25 Mei 2026.

Meski berbeda penyebab dan lokasi, dua gangguan besar yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari dua minggu itu menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap ketahanan infrastruktur kelistrikan Sumatera dalam menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

BACA JUGA :  Borok Inspektorat Sumut Terbongkar dalam Sidang Korupsi Topan Ginting, Semua Bermain..!

Azhari menegaskan, PLN dan pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem transmisi dan jaringan interkoneksi yang menjadi tulang punggung pasokan listrik Sumatera.

“Peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi total. Infrastruktur kelistrikan harus mampu menghadapi perubahan cuaca yang semakin ekstrem. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban akibat lemahnya mitigasi dan perencanaan,” tegasnya.

Menurut Azhari, rentetan gangguan kelistrikan yang terjadi dalam waktu berdekatan, mulai dari blackout Sumatera pada Mei 2026 hingga robohnya 12 tower transmisi di Sumatera Utara awal Juni 2026, seharusnya menjadi alarm keras bagi PLN untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap ketahanan jaringan listrik. Ia menilai keandalan pasokan listrik merupakan kebutuhan vital yang berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dunia usaha, sektor industri, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Jangan sampai setiap terjadi gangguan besar masyarakat hanya disuguhi permintaan maaf yang sama. Yang diperlukan adalah langkah nyata agar kejadian serupa tidak terus berulang dan kepercayaan publik terhadap layanan kelistrikan tetap terjaga,” pungkasnya.

Penulis : Heriyanto