Menjadi Hamba Allah Seutuhnya

Ragam58 Dilihat

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Oleh: Ust. Abdul Latif Khan
(Pembina Al Hijrah Islamic Global School)

MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Mampukah kita menjadi hamba Allah yang seutuhnya, didalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Mari kita ikuti penjelasan yang disampaikan dibawah ini.

Episode 1:
Kita Ini Siapa Sebenarnya?

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang menipu…
kita sering lupa satu hal paling mendasar:

– Kita ini hamba… bukan pemilik hidup.
– Kita bangun pagi mengejar dunia
– Siang berlari untuk dunia.
– Malam kelelahan karena dunia.

Namun, berapa banyak waktu yang benar-benar kita berikan untuk Allah?

Padahal Allah telah menegaskan:

> وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Kita diciptakan bukan untuk sibuk, tetapi untuk beribadah.

Namun tragisnya, kita hidup seolah-olah ayat itu tidak pernah ada sama kita.

Kita takut kehilangan pekerjaan, tapi anehnya kita tidak takut kehilangan Allah.

Kita sibuk memperbaiki citra di hadapan manusia,
tapi kita selalu lupa memperbaiki hati di hadapan-Nya.

 

Episode 2:
Ketika Allah Mengawasi, Tapi Kita Lalai

Pernahkah kita sadar sebagai manusia, bahwa tidak ada satu detik pun hidup ini yang luput dari pengawasan Allah?

BACA JUGA :  Fitnah Kubur dan Cara Selamat Darinya

> يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Allah tahu, pandangan mata yang tersembunyi, dan bisikan hati yang paling dalam. Namun mengapa kita masih berani bermaksiat ?

Mengapa kita lebih takut kepada manusia, dari pada kepada Allah?

Mengapa kita lebih sibuk terlihat baik, dari pada benar-benar menjadi baik?

 

Episode 3:
Ibadah yang Kehilangan Ruh

– Kita shalat, tapi hati kita entah kemana-mana.
– Kita berzikir, tapi pikiran kita sibuk dengan dunia.
– Kita membaca Al-Qur’an, tapi tidak ada yang berubah dalam hidup kita.

 

Tragedi terbesar:

– Ibadah ada, tapi kehambaan hilang.
– Allah bahkan mengingatkan:

> فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ • الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Celaka, bukan bagi yang tidak shalat saja, tetapi bagi yang shalat tanpa hati.

 

Episode 4:
Hamba atau Hanya Mengaku?

Banyak yang berkata:
“Aku hamba Allah…”

Tapi realitasnya?

• Lisan berkata Allah tujuan hidupku, tapi keputusan dikendalikan dunia

• Mengaku tawakal,
tapi hati penuh kecemasan

• Rajin ibadah, tapi mudah bermaksiat saat sendiri

Ibnu Qayyim berkata:

> “Kehambaan itu tampak pada amal dan keadaan hati.”

BACA JUGA :  Menguji Keseriusan Kejari Medan Membongkar Dugaan Korupsi di Pemko Medan

Maka ukurannya bukan apa yang kita katakan, tetapi siapa kita ketika tidak ada yang melihat.

 

Episode 5:
Penyakit yang Paling Berbahaya

Yang paling menakutkan bukan dosa besar, tetapi hati yang mati tanpa kita sadari.

• Riya : ingin dilihat manusia
• Ujub : merasa diri sudah baik
• Kibr : menolak kebenaran

Dan yang lebih halus lagi, tapi membahayakan

Istidraj

Ketika hidup terasa lancar, rezeki mengalir, tapi kita semakin jauh dari Allah.

> سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

Itu bukan nikmat, bisa jadi itu jebakan yang halus.

 

Episode 6:
Mengapa Hati Kita Gelisah?

Pernahkah kita merasa…
– Gelisah tanpa sebab
– Kosong meski dunia ada di tangan
– Bingung meski hidup terlihat “baik-baik saja”

Jawabannya sederhana:

Karena kita jauh dari Allah.

> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Hati hanya tenang, jika dekat dengan-Nya.

 

Episode 7:
Jalan Kembali Itu Masih Ada

Selama kita masih bernafas.
– Pintu taubat belum tertutup
– Jalan kembali masih terbuka
– Allah masih menunggu kita

Tidak perlu menunggu sempurna

Mulailah dari:
– Satu taubat yang jujur dan ikhlas
– Satu sujud yang benar-benar khusyuk
– Satu air mata yang jatuh karena Allah

BACA JUGA :  Fitnah Kubur dan Cara Selamat Darinya

Karena bisa jadi, satu langkah kecil itu yang menyelamatkan kita di hadapan-Nya.

 

Episode 8:
Jika Hari Ini Kita Dipanggil

Mari mulai kita bayangkan, jika malam ini adalah malam terakhir kita.

– Apakah kita sudah siap?
– Apakah kita pantas dipanggil:

> “Wahai hamba-Ku…”

Atau kita datang dengan:
– Hati yang penuh dunia kesombongan.
– Amal yang kosong dari keikhlasan.
– Hidup yang jauh dari Allah.

 

Penutup:
Panggilan yang Kita Rindukan

Ada satu panggilan, yang seharusnya kita rindukan sepanjang hidup:

> يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Wahai jiwa yang tenang… kembalilah kepada Tuhanmu, dalam keadaan ridha dan diridhai.

Itulah akhir perjalanan seorang hamba.

Bukan sekadar banyaknya amal, tetapi diterimanya kita oleh Allah.

Jika hari ini hati kita mulai gelisah, mulai terasa berat, bahkan mulai ingin menangis, maka itu tanda:

– Hati kita masih hidup.
– Dan selama hati masih hidup, kita masih punya harapan untuk kembali.

Editor : Ust. Ismail Chair Tanjung, S.PI

News Feed