Ketika Sepi Mendera Hati

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ragam16 Dilihat

Oleh: Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Ada saat-saat dalam hidup ketika hati terasa begitu sepi.

Bukan karena tidak ada manusia di sekitar. Bukan karena tidak ada teman berbicara. Bukan pula karena tidak ada kesibukan yang mengisi hari.

Namun ada ruang kosong yang tak mampu diisi oleh keramaian.

Kita tersenyum di hadapan orang lain, tetapi menangis diam-diam ketika malam datang. Kita tertawa dalam pertemuan, tetapi hati terasa rapuh ketika sendiri. Kita memiliki banyak kontak di telepon, namun tak menemukan tempat untuk bersandar.

Sepi itu nyata.

Dan terkadang, sepi itu mendera hati dengan sangat kuat.

Sepi yang Mengingatkan Kita kepada Allah

Sesungguhnya tidak semua sepi adalah musibah.

Ada sepi yang Allah kirim sebagai surat cinta-Nya.

Allah ingin kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Allah ingin kita sadar bahwa selama ini kita terlalu bergantung kepada makhluk.

Kita mencari kekuatan dari manusia.
Kita mencari penghargaan dari manusia.
Kita mencari ketenangan dari manusia.

Padahal hati ini diciptakan hanya akan tenang ketika kembali kepada Rabb-nya.

BACA JUGA :  Ketika Harus Menyaksikan Hembusan Nafas Terakhir dari Orang yang Kau Cintai

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketika manusia menjauh, mungkin Allah sedang memanggil kita untuk mendekat.

Terkadang Allah Mengosongkan Agar Dia Mengisi

Ada kehilangan yang membuat hati terluka.

Ada orang yang pergi tanpa pamit.

Ada sahabat yang berubah.

Ada harapan yang runtuh.

Ada doa yang belum menjadi nyata.

Semua itu meninggalkan ruang kosong dalam jiwa.

Namun ketahuilah, Allah sering mengosongkan sesuatu agar Dia sendiri yang mengisinya.

Sebab selama hati penuh dengan selain Allah, sering kali kita lupa kepada-Nya.

Maka Allah mengambil sebagian yang kita cintai agar kita menemukan kembali Yang Maha Dicintai.

Nabi Pun Pernah Merasakan Kesepian

Jangan merasa aneh ketika hatimu sepi.

Orang-orang saleh sebelum kita juga pernah merasakannya.

Rasulullah ﷺ pernah kehilangan Khadijah radhiyallahu ‘anha, pendamping terbaik yang selalu menguatkannya.

Beliau juga kehilangan Abu Thalib, pelindung yang selama ini membelanya.

Tahun itu dikenal sebagai ‘Amul Huzn, tahun kesedihan.

Namun dari kesedihan itu lahir kedekatan yang lebih kuat dengan Allah.

BACA JUGA :  Haji Itu Bukan Status Sosial, Tapi Prosesi Kejujuranmu sebagai Hamba di Hadapan Rabb-mu

Karena ketika semua pintu bumi terasa tertutup, pintu langit justru terbuka lebar.

Jangan Lari dari Sepi

Banyak orang berusaha membunuh sepi dengan berbagai cara.

Ada yang menenggelamkan diri dalam hiburan.
Ada yang sibuk tanpa henti.
Ada yang terus mencari keramaian.

Namun setelah semuanya selesai, sepi itu tetap ada.

Mengapa?

Karena sepi hati bukan masalah kurangnya manusia.

Sepi hati adalah masalah jauhnya hubungan dengan Allah.

– Maka jangan lari dari sepi.
– Gunakan sepi itu untuk berdoa.
– Gunakan sepi itu untuk menangis di hadapan Allah.
– Gunakan sepi itu untuk memperbanyak istighfar.
– Gunakan sepi itu untuk membaca Al-Qur’an.

Boleh jadi di saat semua manusia tidak memahami luka kita, Allah sedang mendengar setiap isak yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun.

*Sepi yang Akan Berbuah Manis*

– Percayalah, tidak ada malam yang berlangsung selamanya.
– Tidak ada kesedihan yang abadi.
– Tidak ada air mata yang sia-sia di sisi Allah.

Jika hari ini hati terasa sepi, jangan putus asa.
– Tetaplah bersujud.
– Tetaplah berdoa.
– Tetaplah berharap.

BACA JUGA :  Fitnah Kubur dan Cara Selamat Darinya

Karena sering kali Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah daripada yang kita bayangkan.

Dan ketika saat itu tiba, kita akan mengerti bahwa sepi yang dulu menyakitkan ternyata adalah jalan yang mengantarkan kita lebih dekat kepada-Nya.

Muhasabah

Mungkin hari ini engkau merasa sendiri.

Mungkin tidak ada yang memahami beban yang engkau pikul.

Mungkin tidak ada yang mendengar tangisanmu.

Namun ingatlah satu hal.

Jika seluruh dunia meninggalkanmu, Allah tidak pernah meninggalkanmu.

Jika seluruh manusia melupakanmu, Allah tetap mengingatmu.

Jika tidak ada bahu tempat bersandar, masih ada sajadah tempat bersujud.

Dan sering kali, pada saat hati merasa paling sepi, justru saat itulah Allah berada paling dekat dengan hamba-Nya.

Maka jangan takut pada sepi.

Takutlah jika sepi itu tidak membawamu kembali kepada Allah.Semoga tulisan ini menjadi bahan renungan dalam Serial Muhasabah dari Mihrab Maya.

Editor : Ust M. Ismail Chair Tanjung, SH.I