ASHABUL A‘RAF, Mereka yang Berdiri di Antara Surga dan Neraka

Karya : Ust Abdul Latif Khan

Ragam58 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Di hari Kiamat nanti, manusia tidak lagi diukur dari rupa, jabatan, harta, atau popularitasnya. Semua akan ditimbang dengan keadilan Allah سبحانه وتعالى. Ada yang masuk surga dengan rahmat-Nya. Ada pula yang dilemparkan ke neraka karena kekafiran dan dosa-dosanya.

Namun Al-Qur’an juga mengabarkan tentang satu golongan yang sangat menggetarkan hati. Mereka bukan penghuni surga. Belum pula dimasukkan ke neraka. Mereka tertahan di sebuah tempat tinggi yang disebut Al-A‘raf.

Mereka adalah Ashabul A‘raf.

Keadaan mereka menggambarkan betapa dahsyatnya hari hisab. Betapa tipisnya jarak antara keselamatan dan kebinasaan.

Apa Itu Al-A‘raf?

Kata Al-A‘raf berasal dari kata:

> عُرْف

yang berarti tempat tinggi atau sesuatu yang menonjol dan terlihat jelas.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

> وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌۚ وَعَلَى الْاَعْرَافِ رِجَالٌ يَّعْرِفُوْنَ كُلًّاۢ بِسِيْمٰىهُمْۚ وَنَادَوْٓا اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْۗ لَمْ يَدْخُلُوْهَا وَهُمْ يَطْمَعُوْنَ

“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada batas; dan di atas Al-A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru kepada penghuni surga: ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk surga, tetapi mereka sangat ingin memasukinya.”
(Q.S. Al-A‘raf [7]: 46)

Ayat ini menunjukkan bahwa Al-A‘raf adalah tempat tinggi yang dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus.

Siapakah Ashabul A‘raf?

Para ulama tafsir menjelaskan beberapa pendapat tentang siapa mereka. Pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang timbangan amal kebaikan dan keburukannya seimbang.

BACA JUGA :  NERAKA: Peringatan Bagi Hati Yang Lalai

Tidak cukup berat untuk masuk surga. Namun tidak pula cukup buruk untuk langsung masuk neraka.

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:

> “Mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya sama.”
(Tafsir Ibnu Katsir, tafsir Q.S. Al-A‘raf: 46)

Mereka berdiri menunggu keputusan Allah سبحانه وتعالى.

Bayangkan keadaan itu.

Melihat surga di depan mata. Mendengar kenikmatannya. Menyaksikan para penghuni surga bersenang-senang. Namun mereka belum diizinkan masuk.

Di sisi lain, mereka juga melihat neraka menyala-nyala. Mendengar jeritan penghuninya. Menyaksikan azab yang mengerikan.

Hati mereka dipenuhi harapan dan ketakutan sekaligus.

Dialog Penghuni Al-A‘raf

Allah سبحانه وتعالى menggambarkan keadaan mereka dengan sangat menyentuh:

> وَاِذَا صُرِفَتْ اَبْصَارُهُمْ تِلْقَاۤءَ اَصْحٰبِ النَّارِۙ قَالُوْا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang-orang yang zalim.’”
(Q.S. Al-A‘raf [7]: 47)

Lihatlah bagaimana mereka gemetar ketika melihat neraka.

Mereka sadar bahwa sedikit saja rahmat Allah tidak turun kepada mereka, maka mereka bisa menjadi penghuni jahannam.

– Mereka tidak merasa aman.
– Mereka tidak sombong dengan amal.
– Mereka tidak percaya diri di hadapan hisab Allah.

Pelajaran Besar dari Ashabul A‘raf

1. Jangan Meremehkan Dosa

BACA JUGA :  Menguji Keseriusan Kejari Medan Membongkar Dugaan Korupsi di Pemko Medan

Banyak manusia menganggap dosa kecil sebagai hal biasa. Padahal dosa-dosa kecil yang terus dikumpulkan dapat menjadi sebab kebinasaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Jauhilah dosa-dosa kecil yang diremehkan. Karena sesungguhnya dosa-dosa itu akan berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.”
(HR. Ahmad)

Ashabul A‘raf menjadi pelajaran bahwa keselamatan akhirat bukan perkara ringan.

2. Jangan Ujub dengan Amal

Ada orang rajin ibadah tetapi merasa aman dari azab Allah. Ia kagum dengan amalnya sendiri. Ia merasa pasti masuk surga.

Padahal para salaf dahulu sangat takut amal mereka ditolak.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

*> وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ*

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sementara hati mereka takut karena mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”
(Q.S. Al-Mu’minun [23]: 60)

Aisyah رضي الله عنها bertanya tentang ayat ini. Apakah mereka orang yang berzina dan mencuri?

Rasulullah ﷺ menjawab:

> “Bukan. Mereka adalah orang yang shalat, berpuasa, bersedekah, namun mereka takut amal mereka tidak diterima.”
(HR. Tirmidzi)

3. Rahmat Allah Adalah Penentu Keselamatan

Tidak ada seorang pun yang masuk surga hanya karena amalnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang masuk surga karena amalnya.”
Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

BACA JUGA :  Menjadi Hamba Allah Seutuhnya

Ashabul A‘raf mengajarkan bahwa manusia sangat membutuhkan rahmat Allah.

Akhir Perjalanan Ashabul A‘raf

Sebagian ulama menjelaskan bahwa pada akhirnya Allah سبحانه وتعالى memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya.

Mereka telah merasakan penantian yang panjang, ketegangan yang dahsyat, dan ketakutan yang mengguncang hati.

Karena itu, jangan merasa aman dengan amal sedikit. Jangan menunda taubat. Jangan hidup tanpa muhasabah.

Boleh jadi hari ini manusia memuji kita. Namun yang menentukan nasib akhirat bukan pujian manusia, melainkan timbangan Allah سبحانه وتعالى.

Penutup

Ashabul A‘raf adalah cermin bagi manusia yang lalai.

Mereka bukan orang kafir. Namun amal mereka belum cukup menyelamatkan mereka secara langsung.

Betapa banyak manusia hari ini sibuk menghitung keuntungan dunia, tetapi lupa menghitung amalnya sendiri.

Betapa banyak manusia takut miskin, tetapi tidak takut berdiri tertahan di hadapan Allah pada hari Kiamat.

Semoga Allah سبحانه وتعالى menjadikan timbangan amal kebaikan kita berat.
Semoga Allah melindungi kita dari kehinaan hari hisab.
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya tanpa azab dan tanpa tertahan di Al-A‘raf.

> اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ مَوَازِيْنَنَا ثَقِيْلَةً بِالْحَسَنَاتِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنْ اَهْلِ الْخُسْرَانِ

“Ya Allah, jadikanlah timbangan kami berat dengan kebaikan, dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Diterbitkan oleh: Rumah Dakwah As Sakinah

Editor : Mhd. Ismail Chair Tanjung, S.PdI