LIPPSU : Erni Sitorus Tidak Punya Hati Nurani, Tolak Pengaduan Korban TPPO. Teuku Akbar : Erni Sitorus Tak Layak Jadi Ketua

By : Ir. Syafaruddin Sikumbang

Sumut480 Dilihat

Medan, 6 Januari 2026.

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Orang Tua Korban TPPO Nezza Safitri Nasution kecewa aspirasinya tidak di terima oleh Ketua DPRD Sumut bahkan dirinya juga menemui Irham Buana Anggota DPRD Sumut namun juga tidak di gubris.

“Kemana lagi saya mengadu, Ketua DPRD Sumut aja gak mau menerima saya, bang Irham Buana juga gak mau dengar, ” ungkap Nezza sambil menangis, Selasa (6/1/2026)

Teuku Akbar, sesalkan sikap 2 Anggota DPRD dari Golkar, tidak empaty keluhan masyarakat korban TPPO.

Teuku Akbar Aktifis Muda Sumatera Utara sangat menyayangkan sikap Erni Ariyanti Sitorus Ketua DPRD Sumut dan Irham Buana yang tidak mau mendengar Aspirasi rakyat Korban TPPO, yang keduanya dari Partai Golkar.

“Ada apa dengan mereka yang telah di beri amanah rakyat, di sumpah jabatan menerima gaji, dapat fasilitas dari APBD yang bersumber dari pajak malah santai-santai saja, abaikan keluhan masyarakat, aneh mereka ini menurut saya,” katanya.

Teuku Akbar Aktifis Muda Sumatera Utara.

 

Lanjut Teuku Akbar mengatakan kami akan melakukan Aksi Demo karena Ketua DPRD Sumut tidak mau menerima Aspirasi Korban TPPO, bagaikan bersubahat membiarkan masyarakat pencari kerja jadi korban maksiat.

BACA JUGA :  LIPPSU: Jangan Bungkam Aspirasi Pemekaran Sumatera Pantai Timur
Mobil Dinas Ketua DPRD Sumut yang dinikmati; tapi rakyat mengadu dicueki.

 

“Kita akan menggelar Aksi dan menyatakan sikap Erni Sitorus tak layak menjadi Ketua DPRD Sumut,” katanya.

Ajudan Ketua DPRD Sumut mengaku Polisi mengatakan bahwa Ketua DPRD Sumut lagi ada tamu.

“Ibu Ketua DPRD Sumut, lagi ada tamu Bang, tak bisa dijumpai,” pungkasnya.

LIPPSU,  sikap Erni Sitorus Ketua DPRD Sumut tidak punya Empaty dan Nurani atas Korban TPPO Jadi Budak Sex

Ditempat terpisah,  Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) Azhari A.M Sinik, Selasa, (6/1-2026) menanggapi, sangat menyesalkan sikap seorang tokoh masyarakat selaku ketua DPRD Sumut yang juga seorang wanita menolak kehadiran korban TPPO untuk menyampaikan pengaduan.

“Sangat disesalkan sikap Seorang Ketua DPRD Sumut Erni Sitorus yang juga seorang Wanita,  menolak kehadiran masyarakat yang jadi korban TPPO mengadu atas kejadian pada diri anaknya, yang dipekerjakan jadi budak sex, penolakan ini membuktikan Erni Sitorus tidak punya empaty dan hati nurani dan bersubahat dengan maksiat, mendukung korban TPPO menjadi “budak sex” dan tempat maksiat”, jelasnya.

BACA JUGA :  LIPPSU: “Jangkrik Boss”, Perusahaan Blacklist Dapat Proyek Jasa Rp50 M di Pemprovsu

Kronologis kisah korban TPPO

Sebelumnya Nezza Safitri Nasution mengatakan bahwa Minggu Malam Sekitar Jam 21.38 Wib (6/7/2025), anak kandungnya korban TPPO (Nabila Aisyah) dan sherlock lokasi kejadian serta nomor WhatsApp diduga korban penyekapan.

Adapun dua Wanita Yang masih bawah umur diduga korban, yakni sdr.Nabila Aisyah (17), dan sdr.Nia Permata Sari Simatupang (18).

Nabila Aisyah (17) mengaku disekap, di tipu dalam hal dipekerjakan ke tempat hiburan malam yang sebutan cafe remang² dan disuruh untuk menggunakan baju sex sambil disuruh melayani tamu para laki-laki hidung belang, di sebuah cafe remang² milik Ririn, yang berada di  Lipat Kain kecamatan Kampar kiri kabupaten Kampar provinsi Riau.

Kemudian, Nabila Aisyah (17) membenarkan dan menjelaskan kejadian tersebut kepada Athia wartawan dan mengaku ada lagi korban lainnya kerabatnya. Nia Permata Sari Simatupang (18), sambil memohon untuk diselamatkan malam itu, Minggu (6/7/2025).

Saya sudah lolos dari cafe remang-remang milik Ririn dan saya sedang perjalanan, kalau kawanku Nia Permata Sari masih belum lolos, tolong bantu ya pak kasihan dia dikurung tadi, kami pun sempat disekap oleh dua orang laki-laki dan perempuan kalau perempuan namanya Yesi dan laki-laki bernama Brayan. Dan Ini nomor WA kawanku mohon bantu selamatkan ya pak ; keluhnya Nabila Aisyah pada malam itu, Minggu 6/7/2025

BACA JUGA :  Tapsel Dijajah, Hutan Batang Toru Digunduli Emas Dijarah, Masyarakatnya Dimiskinkan Dipaksa untuk Diam

Lebih lanjut awak media melalui nomor WA Nia Permata Sari, juga membenarkan kejadian itu dan menjelaskan ;

Iy Pak, benar perisitiwa itu dan kawan saya sudah lolos setelah ada yang bayar ganti ongkos nya, dan saya masih di cafe remang² ini karena uangku belum ada, nggak dibolehkan pulang saya dari tempat usaha tempat cafe remang2 ini sebelum kubayar juga seperti kawanku.

Kami tidak tau Pak kalau kami dijual agensi untuk bos yang nyarik tenaga kerja di cafe remang2 seperti ini, rupanya kami dijual ke usaha cafe remang2 milik Ririn di wilayah lipat kain kec Kampar kiri, awalnya kami tidak tau sebelumnya., jelasnya Nia permata Sari sejak malam itu hingga pagi hari senin 7/7/2025.

By : Syafaruddin Sikumbang