Hujan Tak Mau Pergi, Bencana Pun Datang: Sumut Dikepung Banjir dan Longsor Ulah Pimpinan Tangan Kotor

Sumut114 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Hujan yang turun sejak Sabtu pekan lalu, seolah menghapus batas siang dan malam di Sumatera Utara. Air dari langit jatuh tanpa kompromi hingga Rabu malam, (26/11 2025), membuat tanah-tanah perbukitan lembut, dan sungai-sungai meluap membawa kisah duka dari berbagai penjuru.

Dari ruang kerjanya yang sibuk menerima laporan, Kepala BPBD Sumatera Utara, Tuahta Ramajaya Saragih, mengumumkan kabar buruk itu.

“Tujuh kabupaten dan kota terdampak banjir dan longsor. Empat warga Mardame, Sitahuis, Tapteng, ditemukan meninggal tertimbun longsor,” katanya dengan suara menurun.

*Tapanuli Tengah & Selatan: Dua Lembah yang Paling basah*

Di Tapanuli Tengah, khususnya Kecamatan Tukka, banjir bandang menerjang begitu cepat hingga ratusan tempat tinggal warga dan tak sempat menyelamatkan lebih dari pakaian di badan. Mereka mengungsi dalam gelap yang duka, hanya berbekal senter dan langkah gugup.

BACA JUGA :  Bulog Sumut Salurkan 524 Ton Gula untuk Stabilkan Harga; Permintaan Melonjak saat Ramadhan

Di Tapanuli Selatan, air bah menyapu Huta Godang, Batangtoru, membuat warga gelisah menanti hasil pendataan. Meski belum ada laporan korban jiwa, ancaman masih mengintai. Sementara itu, longsor di Desa Rianite, Angkola Sangkunur, memutus jalur utama Tapsel menuju Mandailing Natal. Jalan itu kini tak lebih dari hamparan tanah merah yang runtuh ke lembah.

*Tapanuli Utara: Rumah-Rumah Dikepung Air dan Longsor Ulah Pemimipin Tangan Kotor*

Di Taput, dua desa Sitolubahal dan Robean diguyur banjir setelah Aek Mahassan meninggi hingga merendam sekitar 60 rumah. Longsor di Robean menimpa dua unit rumah, menyebabkan satu keluarga terluka.

Kepala Polsek Pahae Jae, AKP Hitler Hutagalung, menuturkan bahwa para korban telah dievakuasi ke rumah warga lain. “Mereka menunggu rujukan ke Puskesmas Janjiangkola,” ujarnya.

BACA JUGA :  LIPPSU: Copot Dirut PT TDM Dugaan Korupsi Rp19,8 Miliar

*Mandailing Natal: Delapan Kecamatan Menyimpan Lelah*

Banjir juga merayap ke Mandailing Natal. Hujan yang tak berhenti sejak Sabtu membuat delapan kecamatan terendam. Di Panyabungan Selatan, tanah longsor memutus akses sebagian warga. Kepala BPBD setempat, Mukhsin Nasution, memastikan belum ada korban jiwa.

*Nias Selatan, Gunungsitoli, dan Sibolga: Hujan Mengoyak Pulau dan Pesisir*

Di Nias Selatan, jalan antar kabupaten di Kecamatan Hilimegai terhambat tanah longsor. Fanayama mencatat satu rumah rusak berat, sementara akses di Onolalu tertutup material longsor.

Kota Gunungsitoli dihantam longsor subuh pada Senin, sekitar pukul 01.00 WIB. Dua titik di Hiligodu Ombolata dan Desa Samasi menutup jalan sepanjang 25 meter dan merusak rumah warga.

Sementara itu di Sibolga, air naik hingga 30-50 sentimeter, merendam empat kecamatan sekaligus: Sibolga Kota, Sambas, Selatan, dan Utara. Warga berjibaku menahan barang-barang agar tak hanyut.

BACA JUGA :  Berawal Cinlok di Kantor, Oknum Jaksa di Madina Tersandung Dugaan Perselingkuhan

*Korban Jiwa Masih Terbatas di Tapteng*

Hingga kini, laporan resmi BPBD Sumut menyebutkan bahwa korban jiwa baru tercatat di Desa Mardame, Sitahuis, Tapteng. Wilayah lain masih dalam tahap evakuasi dan pendataan kerusakan.

Hujan yang tak kunjung enyah membuat banyak masjid, balai desa, dan rumah kerabat disulap menjadi tempat mengungsi darurat. Di berbagai sudut Sumatera Utara, aroma tanah basah, suara mesin penyedot air, dan langkah-langkah cemas menjadi musik malam yang tak diharapkan. Ini perbuatan oleh pemimpin yang tangan kotor, mengeruk dan merusak alam tanpa memikir sebab akkbatnya, alam mulai marah dan tidak bersahabat. (520)