Ketika Umat Butuh Hiburan, Mereka Ingin Ustadz Menjadi Penghibur, Bukan Penuntun. Ada Apa?

Ragam13 Dilihat

Oleh: Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS Ada sesuatu yang sedang berubah di tengah umat. Banyak orang datang ke majelis bukan lagi untuk mencari kebenaran, tetapi mencari kenyamanan. Bukan untuk ditegur, tetapi untuk dihibur. Bukan agar hatinya berubah, tetapi agar suasana hatinya membaik.

Akibatnya, ukuran seorang ustadz pun perlahan bergeser.

  • Bukan lagi seberapa kuat ia mengantarkan manusia kepada Allah.

  • Tetapi seberapa pandai ia membuat jamaah tertawa.

  • Bukan lagi seberapa berani ia menyampaikan kebenaran.

  • Tetapi seberapa sedikit ia menyinggung perasaan.

Ketika Dakwah Diukur dari Tawa

  • Padahal para nabi tidak diutus untuk menghibur manusia.

  • Mereka diutus untuk memberi petunjuk.

  • Terkadang petunjuk itu membuat hati tenang.

  • Namun tidak jarang petunjuk itu juga membuat hati gelisah karena dosa-dosa yang selama ini disembunyikan.

BACA JUGA :  Obat Hati yang Tak Pernah Kadaluarsa

Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengguncang hati.

Ia mengingatkan tentang kematian.

  • Tentang kubur.

  • Tentang hisab.

  • Tentang neraka.

  • Tentang surga.

  • Tentang taubat.

  • Tentang akhir kehidupan.

Semua itu bukan untuk membuat manusia putus asa, tetapi agar mereka kembali kepada Allah.

Dakwah Bukan Sekadar Membuat Orang Betah Duduk

Majelis ilmu memang boleh disampaikan dengan bahasa yang lembut, indah, bahkan sesekali diselingi humor yang tidak berlebihan.

Namun tujuan akhirnya bukanlah tawa.

Tujuan akhirnya adalah berubahnya hati.

Sebab jika seseorang pulang dari majelis hanya membawa cerita lucu, tetapi tidak membawa taubat, maka ada sesuatu yang perlu direnungkan.Mengapa Ini Terjadi?

  • Karena hati telah terlalu lama dipenuhi hiburan.

  • Setiap hari mata dimanjakan.

  • Telinga dimanjakan.

  • Pikiran dimanjakan.

BACA JUGA :  Indonesia Dalam Kegentingan Korupsi Yang Menggurita, Presiden Prabowo Diuji Kemampuannya

Akhirnya nasihat yang mengajak muhasabah terasa berat.

  • Padahal obat sering kali pahit.

  • Bukan karena ingin menyiksa.

  • Tetapi karena ingin menyembuhkan.

Ustadz Bukan Artis Panggung

  • Seorang dai bukan sedang berlomba menjadi orang paling lucu.

  • Ia memikul amanah para nabi.

  • Kadang ia harus menyampaikan ayat yang membuat orang menangis.

  • Kadang ia harus mengingatkan tentang dosa yang selama ini disembunyikan.

  • Kadang ia harus mengatakan yang benar, meskipun tidak semua orang menyukainya.

Bila semua nasihat harus mengikuti selera manusia, lalu siapa yang akan mengingatkan manusia ketika mereka mulai jauh dari Allah?

Muhasabah untuk Kita Semua

Mungkin yang perlu berubah bukan cara para ustadz berdakwah.

Mungkin yang perlu diperbaiki adalah cara kita datang ke majelis.

  • Datang bukan untuk mencari hiburan.

  • Datanglah untuk mencari hidayah.

BACA JUGA :  “Apakah Engkau Yakin Masih Hidup Sampai Siang, Wahai Ayah?”

Karena hidayah tidak selalu membuat kita tertawa.

Sering kali ia membuat kita menangis.

Tangisan itulah yang menghapus dosa.

Tangisan itulah yang melembutkan hati.

Tangisan itulah yang mengantarkan seorang hamba kembali kepada Rabb-nya.

Semoga Allah menjadikan hati kita mencintai nasihat meskipun terasa pahit, mencintai kebenaran meskipun menegur, dan mencintai para ulama yang membimbing kita menuju keselamatan, bukan sekadar menghibur kita di dunia.

“Sebab seorang penuntun mungkin tidak selalu menyenangkan, tetapi ia akan mengantarkanmu sampai ke tujuan. Adapun penghibur mungkin membuatmu tertawa di sepanjang perjalanan, namun belum tentu membawamu selamat hingga akhir.”

Editor : Ust. M Ismail Chair Tanjung, Sh.I

News Feed