Abu Dzarr Al-Ghifari : Sahabat yang “Keras” Memusuhi Dunia, dan Pedas Menasihati Para Penguasa

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ragam28 Dilihat

Oleh: Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Ada manusia yang lembut kepada orang miskin, tetapi keras terhadap kesombongan.

Ada manusia yang tenang menghadapi hinaan manusia, tetapi tidak mampu diam ketika melihat agama Allah dilecehkan.

Salah satu sosok itu adalah Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu.

Beliau bukan seorang sahabat yang dikenal karena kekayaan, kedudukan, atau pengaruh politiknya. Namun namanya abadi karena kejujuran, keberanian, dan kezuhudannya.

Abu Dzarr adalah manusia yang hatinya sudah merdeka dari dunia. Baginya, dunia bukan tempat untuk membesarkan diri, tetapi tempat untuk mengumpulkan bekal menuju perjumpaan dengan Allah.

*Dunia Tidak Berharga di Matanya*

Abu Dzarr melihat dunia dengan pandangan akhirat.

Ia tidak membenci dunia karena dunia itu haram. Tetapi ia membenci ketika dunia mulai menguasai hati manusia.

Baginya, harta yang membuat seseorang lupa kepada Allah adalah musibah. Jabatan yang membuat seseorang jauh dari keadilan adalah fitnah. Kekuasaan yang membuat seseorang merasa tinggi di hadapan manusia adalah kehinaan.

BACA JUGA :  Ketika Umat Butuh Hiburan, Mereka Ingin Ustadz Menjadi Penghibur, Bukan Penuntun. Ada Apa?

*Rasulullah ﷺ bersabda:*

> “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Al-Bukhari)

Hadis ini benar-benar hidup dalam diri Abu Dzarr.

Ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. Dunia hanya kendaraan menuju Allah.

*Lidah yang Tajam Karena Cinta kepada Kebenaran*

Abu Dzarr dikenal sebagai sahabat yang berani menyampaikan kebenaran, bahkan kepada mereka yang memiliki kekuasaan.

Namun keberaniannya bukan lahir dari kebencian. Ia lahir dari rasa takut kepada Allah.

Ia memahami bahwa diam terhadap kesalahan karena takut kehilangan kedudukan adalah bentuk kelemahan iman.

Baginya, manusia boleh marah. Penguasa boleh kecewa. Orang-orang boleh menjauh.

Tetapi jangan sampai Allah murka karena kita memilih menyenangkan manusia dengan mengorbankan kebenaran.

Inilah prinsip yang sering menggambarkan jalan hidupnya:

> “Mendapatkan ridha Allah dengan murkamu lebih aku sukai, daripada mendapatkan ridhomu dengan murka Allah.”

BACA JUGA :  Neraka Jahanam, Ciri-Ciri dan Para Penghuninya

Sebuah kalimat yang menggambarkan jiwa yang telah terbebas dari perbudakan kepada manusia.

*Berani Mengingatkan Para Penguasa*

Abu Dzarr tidak takut kepada kekuasaan karena ia tahu bahwa kekuasaan manusia sangat kecil dibandingkan kekuasaan Allah.

Ia mengingatkan para pemimpin agar tidak terlena dengan kemewahan, karena di balik jabatan ada pertanggungjawaban yang berat di hadapan Allah.

Ia melihat bahwa semakin tinggi seseorang berada di dunia, semakin besar pula pertanyaan Allah kepadanya.

*Rasulullah ﷺ bersabda:*

> “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Dzarr memahami hadis ini bukan hanya sebagai nasihat, tetapi sebagai ancaman bagi orang-orang yang menggunakan amanah untuk kepentingan pribadi.

*Keras kepada Dunia, Lembut kepada Orang Lemah*

– Banyak orang salah memahami karakter Abu Dzarr.
– Beliau bukan manusia kasar tanpa kasih sayang. Justru hatinya sangat lembut kepada kaum miskin dan tertindas.
– Kerasnya adalah kepada keserakahan.
– Pedasnya adalah kepada kezhaliman.
– Tegasnya adalah kepada penyimpangan.

BACA JUGA :  Ketika Sepi Mendera Hati

Karena orang yang benar-benar mencintai manusia tidak akan membiarkan manusia berjalan menuju kehancuran.

*Pelajaran untuk Kita*

Di zaman ketika banyak orang berlomba mencari pujian manusia, Abu Dzarr mengajarkan:

Jangan jual prinsip hanya demi diterima.

Jangan diam hanya karena takut kehilangan posisi.

Jangan ukur kebenaran dari siapa yang menyampaikan, tetapi ukur dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Sebab pada akhirnya, bukan manusia yang menentukan keselamatan kita.

Bukan penguasa yang menentukan kemuliaan kita.

Bukan dunia yang menentukan keberuntungan kita.

*Tetapi Allah*

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mencintai kebenaran, berani menegakkan kebaikan, dan tidak menjadi tawanan dunia yang fana.

“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebesar-besar cita-cita kami. Jadikan ridha-Mu sebagai tujuan tertinggi hidup kami.”

Editor : Ust M. Ismail Chair Tanjung, Sh.I