Dari Ikan Lele hingga Sapi: Laporan Terakhir Kepala BGN di Hadapan Prabowo

Nasional69 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA. NEWS – Suasana Sidang Kabinet kala itu berlangsung seperti biasa. Para menteri dan kepala lembaga satu per satu menyampaikan laporan kepada Presiden. Di antara berbagai paparan yang disampaikan, ada satu laporan yang menarik perhatian, yakni pemaparan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Dengan penuh semangat, ia menjelaskan bagaimana program tersebut dijalankan di lapangan. Salah satu menu yang disajikan kepada para siswa adalah ikan lele utuh. Setiap anak mendapatkan satu ekor lele yang telah dibersihkan. Kepalanya dibuang, namun tubuh ikan diberikan utuh agar kandungan gizinya tetap maksimal.

Penjelasan itu membuat Presiden Prabowo Subianto tersenyum dan mengenang masa lalunya sebagai seorang prajurit.

BACA JUGA :  Qodari pun resmi jadi kurator konten pribadi Presiden

“Lebih bagus daripada sewaktu saya jadi tentara dulu. Lelenya dipotong kecil-kecil. Luar biasa itu,” gumam Presiden, disambut tawa dan senyum para peserta sidang.

Tak hanya soal lele, Kepala BGN juga memaparkan kebutuhan daging sapi yang sangat besar untuk mendukung program tersebut. Ia menggambarkan skala program yang luar biasa.

Menurutnya, satu dapur pelayanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan pasokan daging yang setara dengan satu ekor sapi. Jika pada akhir tahun jumlah SPPG mencapai 19.000 unit, maka setiap hari dibutuhkan ribuan ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan protein anak-anak Indonesia.

Angka itu menunjukkan betapa besar dampak ekonomi yang diharapkan dari program makan bergizi. Bukan hanya memberikan makanan sehat bagi anak-anak, tetapi juga menggerakkan peternak, nelayan, petani, hingga pelaku usaha pangan di seluruh daerah.

BACA JUGA :  Kilas Berita Eksekutif: Diaspora Indonesia di Iran Pertanyakan Netralitas dan Marwah Diplomasi Kabinet Prabowo

Kala itu, laporan tersebut menjadi gambaran optimistis tentang masa depan program yang digadang-gadang sebagai salah satu proyek strategis pemerintah. Sebuah program yang tidak hanya berbicara soal makanan di atas meja, tetapi juga tentang kesehatan generasil mendatang dan perputaran ekonomi rakyat.

Namun tak lama kemudian, publik dikejutkan oleh kabar yang berbeda. Sosok yang sebelumnya berdiri di ruang sidang kabinet menjelaskan kebutuhan lele dan sapi untuk anak-anak Indonesia, kini harus menghadapi proses hukum setelah ditetapkan sebagai tersangka.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun sebuah program, dan setinggi apa pun jabatan yang diemban, prinsip transparansi, integritas, dan akuntabilitas tetap menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan.

BACA JUGA :  PDIP Beberkan Bukti Anggaran Program MBG Diambil dari Dana Pendidikan

Di satu sisi, Program Makan Bergizi Gratis tetap menjadi harapan bagi jutaan anak Indonesia. Di sisi lain, penegakan hukum menunjukkan bahwa pengelolaan uang rakyat harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Dari laporan tentang seekor lele untuk setiap anak hingga kebutuhan ribuan sapi setiap hari, kisah itu kini menjadi catatan penting dalam perjalanan salah satu program terbesar yang pernah dijalankan pemerintah Indonesia. Sebuah catatan yang mengajarkan bahwa cita-cita besar harus selalu berjalan beriringan dengan tata kelola yang bersih dan amanah.

Laporan : Suardi, SH