Kilas Berita Eksekutif: Diaspora Indonesia di Iran Pertanyakan Netralitas dan Marwah Diplomasi Kabinet Prabowo

Nasional, News137 Dilihat

Teheran, 7 Maret 2026.

TEHERAN IRAN, PROMEDIA.NEWS | Dalam sebuah teguran terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto, Ustadz Ismail Amin selaku WNI di Iran menyuarakan kekecewaan mendalam atas memudarnya wibawa diplomasi Indonesia. Ia menyoroti pergeseran persepsi Iran terhadap Indonesia—dari pionir Gerakan Non-Blok yang disegani menjadi negara yang dianggap kehilangan netralitasnya dalam menyikapi konflik Timur Tengah, khususnya agresi Israel dan Amerika Serikat.

 

Poin-Poin Kritis & Kutipan Kunci (Transkripsi Substantif)

1. Kehilangan Kepercayaan Diplomatik & Marwah Non-Blok

Narasumber mengungkapkan rasa malunya karena status WNI yang dulunya sangat dihormati kini mulai dipertanyakan. Ia mencatat manuver diplomatik yang tidak biasa dari pihak Iran.

“Anda tahu tidak Pak? Duta Besar Iran lebih memilih berkonsultasi ke Pak JK (Jusuf Kalla) dibanding ke Anda atau ke Menlu Anda. Itu adalah isyarat Iran mulai tidak percaya pada Anda. Anda sudah dilihat sebagai orangnya Trump, bukan orang Non-Blok dan netral lagi.”

 

BACA JUGA :  LIPPSU Soroti Sejuta Kupak Kapik Jalan di Langkat

2. Lambatnya Respon Kemanusiaan dan Sikap Diam atas Agresi

Kritik juga diarahkan pada lambannya respons Istana terhadap peristiwa krusial di Iran, serta absennya kecaman terhadap agresi militer Barat.

“Anda baru mengeluarkan pernyataan duka atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, itu setelah Dubes Iran ketemu JK… Mengapa terlambat itu, Pak? Belum lagi, saya belum mendengar Anda mengecam serangan ilegal Israel dan Amerika atas Iran. Apa hanya karena keduanya adalah teman Anda? Sudah punya satu grup WA dengan keduanya?”

 

3. Kritik terhadap Proposal Mediasi dan Keterlibatan di Board of Peace (BOP)

Narasumber mempertanyakan logika mediasi yang ditawarkan Indonesia dan keterlibatan negara dalam Board of Peace (BOP) yang diketuai oleh Donald Trump. Ia mengutip pandangan Presiden Palestina terkait hal ini.

BACA JUGA :  Menyusuri Jejak BTT Rp.174,5 Miliar Di Balik Banjir Di Kota Medan

“Presiden Palestina secara kasarnya bilang begini: yang perlu Anda mediasi itu adalah negara yang lebih dulu mengawali agresi… Posisi Iran dari dulu tegas dan jelas, Iran tidak pernah mau memulai perang, tapi kalau diserang, ya Iran membalas.”

“Apa iya perdamaian bisa terwujud kalau ketuanya sendiri (Donald Trump) yang malah mencabik-cabik perdamaian itu?”

 

4. Kontradiksi Narasi Hegemoni Barat

Ia membongkar hipokrisi narasi Barat yang selalu menyudutkan Iran sebagai pihak yang tidak aman, sementara pihak lain secara terang-terangan melakukan pelanggaran HAM berat.

“Siapa yang mensuplai senjata tidak henti tanpa batas untuk Israel, yang dengan senjata itu Gaza digenosida sampai hari ini? Siapa yang menghancurkan Irak? Siapa yang mendanai pemberontak bersenjata di Suriah? Siapa yang menyerang Yaman? Iran hanya baru menyerang ketika diserang.”

 

BACA JUGA :  LIPPSU: Anggaran Pendidikan Dikuras, MBG pun Bermasalah

5. Kritik Internal terhadap KBRI Teheran

Selain mengkritik pusat pemerintahan, narasumber juga menyoroti pasifnya perwakilan negara di Teheran dibandingkan dengan elemen masyarakat sipil.

“Perwakilan Indonesia di Iran, dalam hal ini KBRI Teheran, sampai saat ini belum juga mengeluarkan pernyataan resmi berbela sungkawa… Masih lebih peka organisasi mahasiswa Indonesia yang ada di Iran.”

Rekaman ini memberikan sinyal kuat adanya ketidakpuasan dari akar rumput diaspora terkait arah kompas geopolitik Indonesia saat ini.

Penulis: Lhynaa Marlinaa (Marlina)  https://www.facebook.com/share/1CtvyzonYV   Daily Vlog | News Agregator | Citizen Journalist

By: Syafaruddin Sikumbang,