Oleh : Ust Abdul Latif Khan.
MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Serial dari Mihrab Maya, dalam hal membahas tentang ibu, Ibu merupakan tumpuhan kadih sayang yang ternilai dalam kehidupan berkeluarga. Dia adalah pemanis, tanpa kehadirannya dalam keluarga rumahpun sangat suram tidak ceria, ibu adalah dalam keluarga kita.
*Berilah Waktu untuk Kami…*
Ibu…
Kami tahu engkau lelah.
Kami tahu ada banyak pekerjaan yang harus engkau selesaikan.
Kami tahu engkau berjuang agar kami bisa makan, bisa sekolah, bisa hidup lebih baik.
Tetapi izinkan kami mengatakan sesuatu yang mungkin tak pernah terucap oleh bibir kecil kami.
– Kami merindukanmu.
– Bukan uangmu.
– Bukan hadiahmu.
– Bukan apa yang engkau belikan untuk kami.
– Tetapi dirimu.
– Kehadiranmu.
– Suaramu.
– Pelukanmu.
– Dan waktu yang engkau luangkan untuk kami.
*Ibu, Engkaulah Sekolah Pertama Kami*
Jauh sebelum kami mengenal bangku sekolah, kami telah belajar darimu.
Kami belajar berbicara dari kata-katamu.
Kami belajar mencintai dari kasih sayangmu.
Kami belajar menghormati orang lain dari sikapmu.
Kami belajar mengenal Allah dari sujud dan doa-doamu.
Tanpa sadar, kami sedang membaca sebuah buku setiap hari.
Dan buku itu adalah kehidupanmu.
Apa yang engkau lakukan akan lebih kami ingat daripada apa yang engkau katakan.
Karena itu kami membutuhkanmu.
Bukan hanya sebagai ibu yang memberi makan tubuh kami.
Tetapi sebagai guru yang membesarkan jiwa kami.
*Ibu, Engkaulah Rumah Kami*
Bagi dunia, rumah mungkin dinding dan atap.
Tetapi bagi kami, rumah adalah tempat di mana hati merasa aman.
Dan sering kali, rumah itu adalah engkau.
– Ketika kami terluka, kami mencari ibu.
– Ketika kami takut, kami mencari ibu.
– Ketika kami gagal, kami mencari ibu.
Ketika seluruh dunia tidak memahami kami, kami berharap masih ada satu tempat yang menerima kami tanpa syarat.
– Tempat itu adalah pelukanmu.
– Tempat itu adalah senyummu.
– Tempat itu adalah hatimu.
*Jangan Biarkan Masa Kecil Kami Berlalu Tanpa Kenangan Bersamamu*
Ibu…
Suatu hari mainan kami akan hilang.
Suatu hari buku-buku sekolah kami akan usang.
Suatu hari kami akan tumbuh dewasa dan pergi menjalani kehidupan kami sendiri.
Tetapi ada sesuatu yang akan tinggal sangat lama dalam ingatan kami.
Apakah dahulu ibu punya waktu untuk kami?
Apakah dahulu ibu mau mendengar cerita-cerita kecil kami?
Apakah dahulu ibu menemani kami tertawa?
Apakah dahulu ibu memeluk kami ketika kami menangis?
Anak-anak tidak selalu mengingat apa yang dibelikan orang tuanya.
Tetapi mereka akan mengingat siapa yang hadir dalam hidupnya.
*Berilah Waktu untuk Kami Sebelum Waktu Mengambil Kami Darimu*
Ibu…
Hari ini kami masih memanggilmu.
Hari ini kami masih berlari mencarimu.
Hari ini kami masih ingin duduk di sampingmu.
Tetapi masa kecil tidak menunggu.
Ia berjalan diam-diam.
Lalu suatu hari ia pergi dan tidak pernah kembali.
Maka sebelum hari itu tiba, berilah kami sebagian dari waktumu.
Duduklah sebentar bersama kami.
Dengarkan cerita kami yang mungkin menurutmu sederhana.
Tatap mata kami ketika kami berbicara.
Peluklah kami tanpa alasan.
Karena mungkin yang paling kami butuhkan bukanlah dunia yang lebih besar.
Tetapi seorang ibu yang mau hadir dalam dunia kecil kami.
Ibu…
Kami membutuhkan engkau sebagai sekolah yang mengajarkan kehidupan kepada kami.
Kami membutuhkan engkau sebagai rumah yang selalu membuat kami ingin pulang.
Berilah waktu untuk kami.
Sebab suatu hari nanti, yang tersisa bukanlah berapa banyak yang engkau berikan kepada kami, melainkan berapa banyak cinta dan waktu yang sempat kami rasakan bersamamu.
Diterbitkan oleh Rumah Dakwah As Sakinah.
Editor : Ust. M. Ismail Chair Tanjung, SH.I











