LIPPSU: Umat Islam Harus Bersatu Bangkit Lawan AS–Israel

News341 Dilihat

Medan, 28 Februari 2026.

MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilai terus meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari AM Sinik, di Medan, Sabtu (28/2/2026), mengatakan situasi yang terus memanas menunjukkan bahwa jalur militer masih lebih dominan dibandingkan pendekatan diplomasi, sehingga berisiko memperluas konflik dan menyeret negara-negara lain ke dalam pusaran ketidakstabilan regional.

Serangan militer gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dilaporkan terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026, ketika kedua negara melancarkan operasi militer yang menargetkan sejumlah lokasi strategis di wilayah Iran.

Laporan media internasional menyebutkan serangan dilakukan sebagai operasi militer terkoordinasi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, dengan ledakan dilaporkan terjadi di beberapa titik, termasuk ibu kota Teheran.

Data korban masih terus berkembang dan berbeda menurut sumber, namun sejumlah laporan awal mencatat:

Sedikitnya 40 orang tewas setelah serangan udara menghantam sebuah sekolah dasar putri di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan.

BACA JUGA :  Kisah Nyata: Israel Hampir Berdiri di Argentina, Bukan di Timur Tengah

Puluhan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Korban terdiri dari anak-anak usia sekolah, dengan laporan menyebut para korban berusia sekitar 7–12 tahun.

Selain di Iran, terdapat laporan korban di negara lain di kawasan, termasuk satu korban tewas di Uni Emirat Arab dan dua korban di Irak akibat dampak konflik yang meluas.

Beberapa laporan media juga menyebut angka korban dapat meningkat karena proses evakuasi dan pendataan masih berlangsung di lokasi serangan.

Konflik Memanas Di Timur Tengah Pasca Serangan Israel ke Iran (28/2) (Photo Ilustrasi AI PromediaNews).

Situasi Masih Berkembang

Serangan ini disebut mendorong kawasan Timur Tengah ke fase konflik baru, dengan ketegangan regional meningkat dan sejumlah negara terdampak dalam status siaga keamanan.

Iran kemudian dilaporkan melakukan respons militer balasan, termasuk peluncuran rudal ke arah wilayah Israel, menandai eskalasi yang berpotensi meluas.

Ringkasan Fakta Utama (Per 28 Februari 2026)

Tanggal serangan: Sabtu, 28 Februari 2026.

BACA JUGA :  Marak "Tembak KTP" di Samsat Medan Utara

Pihak terlibat: Operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran.

 

Lokasi terdampak:

Beberapa wilayah Iran, termasuk Teheran dan Hormozgan.

Korban awal dilaporkan: ±40 orang tewas dan puluhan luka-luka, mayoritas dari insiden serangan ke sekolah.

Status: Konflik masih berlangsung dan jumlah korban berpotensi bertambah.

Menurutnya, perkembangan serangan dan aksi balasan yang terjadi telah menimbulkan kekhawatiran global, terutama terhadap potensi krisis kemanusiaan, terganggunya keamanan sipil, serta ancaman terhadap stabilitas ekonomi dan politik internasional.

“Konflik yang terus bereskalasi ini bukan hanya persoalan antarnegara, tetapi sudah menyentuh rasa keadilan dan kemanusiaan dunia. Karena itu, umat Islam harus bangkit menyuarakan perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan,” ujar Azhari.

 

Momentum Ramadan dan Solidaritas Umat

LIPPSU menilai meningkatnya ketegangan yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan menambah beban psikologis umat Islam di berbagai negara. Ramadan yang semestinya menjadi masa refleksi spiritual dan penguatan nilai kemanusiaan justru dibayangi kekhawatiran akibat konflik bersenjata.

Azhari menegaskan bahwa kebangkitan yang dimaksud bukan dalam bentuk konfrontasi, melainkan penguatan solidaritas kemanusiaan, doa bersama, bantuan sosial, serta dorongan moral kepada komunitas internasional agar menghentikan kekerasan. “Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Dunia seharusnya menahan diri, bukan mempertontonkan kekuatan militer,” katanya.

BACA JUGA :  LIPPSU Dukung Rico Wali Kota Medan Percepat Pembangunan Infrastruktur Jalan, Jembatan dan Penataan Kawasan

 

Risiko Kemanusiaan dan Polarisasi Global

LIPPSU mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi menimbulkan dampak luas bagi masyarakat sipil, termasuk terganggunya akses terhadap kebutuhan dasar, meningkatnya jumlah pengungsi, serta munculnya ketegangan sosial akibat polarisasi opini publik di berbagai negara.

Selain itu, eskalasi konflik dinilai dapat memicu sentimen yang memperdalam perpecahan jika tidak diimbangi dengan narasi perdamaian dan langkah diplomasi yang serius dari para pemimpin dunia.

 

Dorong Kembali ke Jalur Diplomasi

Sebagai penutup, LIPPSU mendesak seluruh pihak yang terlibat untuk segera menghentikan aksi militer dan kembali ke meja perundingan guna mencegah krisis yang lebih luas.

“Perdamaian harus menjadi pilihan utama. Dunia tidak membutuhkan perang baru, melainkan komitmen bersama untuk menjaga kemanusiaan,” kata Azhari.

Azhari Sinik juga mengingatkan, tiada kekuatan yang kuat di alam ini, kecuali kekuatan dan kekuasaan Allah.

By: Tim