Demo di DPRD Sumut Berakhir Ricuh : Mahasiswa Dipukuli, Pedagang Kopi dan Kurir Shopee Ikut Terseret, Wartawan Dibentak Polisi dan Dipukuli

News548 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Yang tersisa dari unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPRD Sumut, Selasa (26/8/2025), bukan sekadar ban terbakar dan gerbang yang berguncang. Lebih dari itu, ada jerit mahasiswa, wajah lebam, pedagang kopikeliling yang ikut dipukul, kurir Shopee yang tiba-tiba ditarik, hingga wartawan yang dibentak aparat dan dipukuli.

Aksi yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB itu awalnya berlangsung dengan orasi lantang. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bersatu mengecam DPRD Sumut yang dinilai sibuk memperjuangkan tunjangan mewah ketimbang rakyat yang kian tertekan. Mereka menolak kenaikan iuran BPJS, menuntut kesejahteraan guru dan dosen, sekaligus mendesak agar RKUHP tak dijadikan alat represif.

“Uang rakyat habis untuk memperkaya legislatif, negara sedang giat efisiensi sementara rakyat kecil dicekik BPJS. Kami menolak!” teriak seorang orator dari atas mobil komando.

BACA JUGA :  LIPPSU : Nilai Sarat Unsur Korupsi, Bapenda Sumut Diduga “Tembak” Iklan Pemutihan Pajak di Tiga Media Online.

Dari Orasi ke Ricuh

Suasana berubah cepat menjelang sore. Ban bekas dibakar, pagar DPRD didorong. Lemparan botol plastik, batu, dan kayu melayang ke arah polisi serta Satpol PP. Aparat membalas dengan dorongan tameng, menghalau massa.

Sejumlah mahasiswa terseret. Di antara mereka, Muhammad Budi tampak pucat dan gemetar. Pipi kanannya sobek, mata sembab.

“Saya tadi hanya menenangkan kawan-kawan yang demo. Tiba-tiba ditarik, dipukul dan dijambak ramai-ramai. Polisi, Satpol PP semua ikut mukul. Saya nggak salah apa-apa,” bisiknya kepada wartawan dengan suara lirih.

Warga Sipil Ikut Jadi Korban

Ricuh itu tak hanya melibatkan mahasiswa, dan seorang kurir Shopee, yang kebetulan melintas, mengaku ikut jadi sasaran.

“Saya cuma nengok. Tiba-tiba dijambak, ditarik ke dalam. Ini katanya mau dites urine. Saya memang salah ikut ambil batu, tapi saya juga dipukuli,” ucapnya dengan wajah pucat sambil melirik kearahnpolisi.

BACA JUGA :  LIPPSU: Bantuan Bencana Alam Pun Diembat, Mental Pejabat Bobrok—Urat Malu Sudah Putus.

Nasib serupa dialami seorang pedagang kopi keliling yang sehari-hari mangkal di sekitar kantor Gubernur Sumut.

“Saya awalnya cuma mau nonton. Malah ditarik, dipukul rame-rame. Saya bukan peserta demo,” keluhnya dengan suara serak.

Tiga orang BR, RM, dan AM, kemudian digiring masuk ke dalam pos DPRD Sumut. Polisi hanya berkata singkat

“Tes urine.” Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari aparat mengenai dugaan pemukulan.

Wartawan Dibentak, Aparat dan Dipukuli

Ketegangan belum usai. Sekitar Pukul 18.00 WIB, usai pemeriksaan terhadap ketiga orang yang ditangkap, seorang mahasiswa berbisik kepada wartawan Promedia

“Kami mau dibawa ke kantor polisi.”

Belum sempat kalimat itu tuntas, seorang polisi berkemeja putih mendekat, suaranya meninggi.

“Kamu siapa, dari mana? Jangan ngambil foto sembarangan tanpa izin. Mentang-mentang wartawan. Apa ibu? dari mana? Bukan berarti bebas kali ngambil foto. Emangnya kalau wartawan bebas ngambil foto tanpa permisi?

BACA JUGA :  IRONI DI BALIK PIRING NASI: Karpet Merah untuk ‘Anak Emas’ BGN, Jalan Buntu bagi Pengabdi Lama

Bentakan itu menyentak suasana. Di satu sisi, tugas jurnalis adalah meliput dan menyampaikan kebenaran. Di sisi lain, tekanan aparat membuat ruang demokrasi terasa semakin sempit.

Pola Lama yang Terus Berulang

Aksi mahasiswa di DPRD Sumut bukan kali pertama berujung ricuh. Polanya berulang mahasiswa membawa tuntutan politik dan ekonomi, aparat berjaga dengan barisan tameng, pagar berguncang, lemparan batu melayang, dan di akhir, bukan hanya mahasiswa yang jadi korban tetapi juga warga sipil, bahkan wartawan.

Yang tersisa dari aksi ini bukan hanya asap ban terbakar, tapi juga pertanyaan keras, apakah demokrasi di negeri ini benar-benar memberi ruang aman bagi rakyat untuk bersuara. (520)