Oleh: Wan Agus Yahya
MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Ada sebuah pepatah lama yang sangat relevan untuk menggambarkan arah kebijakan pembangunan manusia:
“Jangan beri ikan, tetapi berilah kail.”
Artinya, jangan hanya memberikan sesuatu yang habis dalam sehari, tetapi berikan kemampuan agar seseorang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri sepanjang hidup.
Dalam konteks pembangunan bangsa, pertanyaannya sederhana:
Apakah yang lebih penting, makan gratis atau pendidikan gratis?
Tidak ada yang menolak pentingnya gizi bagi anak-anak. Namun jika harus memilih prioritas jangka panjang, pendidikan gratis hingga tingkat menengah atas jauh lebih strategis dibandingkan program makan gratis yang manfaatnya hanya sesaat untuk isi perut.
Secara logika sederhana, dari 100 keluarga di Indonesia mungkin hanya sebagian kecil yang benar-benar tidak mampu menyediakan makanan bagi anaknya setiap hari.
Dengan segala keterbatasan ekonomi,
mayoritas orang tua tetap berusaha memasak dan memberi makan anak-anak mereka semampunya.
Namun coba lihat fakta lain. Dari 100 anak, masih ada yang putus sekolah, tidak tamat SMP, bahkan tidak menyelesaikan SMA karena alasan biaya, akses, maupun kondisi ekonomi keluarga.
Mereka kehilangan kesempatan memperoleh ilmu dan keterampilan yang dapat mengubah nasib hidupnya.
Makan gratis hanya menyelesaikan persoalan perut hari ini. Setelah makanan habis, persoalan ekonomi keluarga tetap ada.
Tetapi pendidikan gratis memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan daya saing yang dapat mengangkat derajat seseorang dalam jangka panjang.
Bangsa yang kuat bukan dibangun oleh generasi yang terbiasa menerima bantuan, melainkan oleh generasi yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian ekonomi.
Pendidikan melahirkan dokter, guru, insinyur, pengusaha, petani modern, dan berbagai profesi yang menjadi penggerak kemajuan negara.
Karena itu, negara seharusnya lebih fokus memastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang gagal sekolah karena alasan biaya.
Pendidikan gratis yang berkualitas hingga SMA bahkan perguruan tinggi bagi keluarga kurang mampu akan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar bagi masa depan bangsa dibandingkan program yang sifatnya konsumtif.
Tentu gizi dan pendidikan bukan untuk dipertentangkan.
Keduanya sama-sama penting. Namun apabila anggaran negara terbatas dan harus menentukan prioritas, maka investasi terbesar seharusnya diarahkan pada pendidikan.
Sebab pendidikan adalah *”kail”* yang akan membuat seseorang mampu mencari *”ikan”* untuk dirinya sendiri dan keluarganya sepanjang hidup.
Generasi yang terdidik akan mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Sebaliknya, generasi yang hanya menerima bantuan tanpa peningkatan kualitas pendidikan berisiko tetap bergantung pada bantuan negara di masa depan.
Makan gratis mengenyangkan sehari, dan manusia bukan mahkluk binatang, yang cukup diberikan makan.
Tapi manusia adalah tempat kumpulnya pemikiran dan ilmu pengetahuan.
Pendidikan gratis dapat mengubah masa depan bangsa untuk seumur hidup.









