Ir Kabir Bedi Soroti Pentingnya Sistem Pembinaan Atlet Akuatik yang Berjenjang di Sumut

Sumut412 Dilihat

MEDAN,PROMEDIA.NEWS | Ketua Umum Akuatik Provinsi Sumatera Utara, Ir. Kabir Bedi, menegaskan pentingnya sistem pembinaan atlet yang terstruktur dan berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Akuatik Provinsi Sumatera Utara Kabir Bedi kepada Media, Senin 20/4/2026.

Ia berharap seluruh pengurus Akuatik di kabupaten/kota dapat mempersiapkan para calon atlet secara matang agar mampu bersaing di ajang nasional, khususnya kejuaraan yang digelar di Jakarta.

BACA JUGA :  Asri Ludin Tambunan Bupati Asbun, LIPPSU : Pembangunan Hak Seluruh Rakyat, Bukan Hadiah bagi Pembayar Pajak

Menurutnya, keikutsertaan dalam kejuaraan di luar kalender nasional, seperti event di Malaysia, dinilai kurang tepat dalam konteks pembinaan prestasi. Hal tersebut karena hasilnya tidak tercatat secara resmi dalam sistem nasional, sehingga tidak dapat dijadikan tolok ukur perkembangan atlet.

“Pembinaan sebaiknya dimulai dari seleksi di tingkat kabupaten, kemudian bertanding di level provinsi, dan dilanjutkan ke kejuaraan nasional di Jakarta. Di sanalah prestasi atlet bisa tercatat dan terukur,” ujarnya.

BACA JUGA :  LIPPSU: Aplikasi SPMB Sumut Berkah Diserang Dari Berbagai Penjuru Langit: Rawan Kecurangan, Intervensi, Suap Sana-Sini Hingga Siswa Titipan Pejabat

Kabir mencontohkan pada ajang KRAPSI sebelumnya, di mana terdapat dua atlet Sumatera Utara yang berhasil menembus limit dan diberangkatkan ke Kejuaraan Nasional di Jakarta. Hasil catatan waktu mereka pun diakui secara nasional.

Ia juga menegaskan, bagi atlet yang mampu memenuhi limit akan difasilitasi pembiayaannya oleh pihak provinsi. Sementara bagi yang belum mencapai standar, tetap diberikan kesempatan bertanding dengan biaya mandiri.

BACA JUGA :  Datok Arifin Dukung Percepatan Terwujudnya Provinsi Sumatera Pantai Timur, Dengan Pembina Bupati Batubara Selaku Ketua Dewan Pembina KPP Sumatera Pantai Timur

Dengan sistem tersebut, para atlet akan dihadapkan pada persaingan yang lebih kompetitif, khususnya melawan atlet-atlet muda potensial dari berbagai daerah di Indonesia.

“Dengan pola ini, pembinaan menjadi lebih terarah, terukur, dan memiliki tujuan yang jelas. Harapannya, dapat mendorong lahirnya atlet-atlet berprestasi dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional,” pungkasnya. (SS).

Penulis : Syahdan.