Belajar Makna Hidup Dari Kematian

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ragam37 Dilihat

Oleh : Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Serial Muhasabah dari Mihrab Maya selanjutnya membahas tentang Makna Hidup Dari Kematian. Kematian itu sebenarnya kejujuran yang tidak engkar. Tidak ada tipu daya dan rekayasa.

Ketika Kubur Mengajarkan Apa yang Gagal Diajarkan oleh Dunia

Allah ﷻ berfirman:

«”Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)»

Pengantar

Tidak ada kepastian yang lebih pasti daripada kematian.

Kita tidak tahu berapa lama lagi akan hidup. Kita tidak tahu di mana akan meninggal. Kita tidak tahu apa kalimat terakhir yang akan keluar dari lisan kita.

Namun satu hal yang pasti, kematian sedang berjalan mendekati kita setiap detik.

Ironisnya, manusia sering takut kehilangan dunia, tetapi jarang takut kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan kematian.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

«”Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. at-Tirmidzi no. 2307, dinilai hasan)»

Mengapa Nabi ﷺ memerintahkan kita banyak mengingat kematian?

Karena kematian mampu mengembalikan hati kepada kebenaran.

Ia menghancurkan kesombongan.

Ia melemahkan cinta dunia.

Ia membangunkan manusia dari kelalaian.

*1. Kematian Mengingatkan Bahwa Kita Hanya Musafir*

Allah ﷻ berfirman:

«”Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”
(QS. Al-A’raf: 34)»

Kita sering hidup seolah-olah akan tinggal selamanya di dunia.

Kita membangun impian yang sangat panjang, tetapi sering lupa bahwa umur belum tentu panjang.

Rasulullah ﷺ pernah memegang pundak Abdullah bin Umar lalu bersabda:

BACA JUGA :  "Para Penghuni Neraka”

«”Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. al-Bukhari no. 6416)»

Musafir tidak menjadikan tempat singgah sebagai tujuan akhir.

Musafir tidak menghabiskan seluruh energinya untuk menghias tempat persinggahan.

Musafir selalu memikirkan tujuan akhirnya.

Tetapi banyak manusia justru menjadikan dunia sebagai rumah permanen, padahal ia hanyalah tempat transit menuju akhirat.

*2. Kubur Menghapus Semua Gelar dan Kebanggaan*

Ketika kematian datang, seluruh atribut dunia runtuh.

Yang kaya dan miskin sama-sama dibungkus kain kafan.

Yang berpangkat dan rakyat biasa sama-sama dimasukkan ke dalam liang kubur.

Allah ﷻ berfirman:

«”Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakan kamu pada mulanya.”
(QS. Al-An’am: 94)»

Tidak ada mobil mewah di alam kubur.

Tidak ada rekening bank.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada pengawal.

Yang tersisa hanyalah amal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«”Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka dua kembali dan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”

(HR. al-Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960)»

Betapa sering manusia menangis karena kehilangan harta.

Padahal yang seharusnya lebih ditangisi adalah kurangnya amal yang akan menemani di alam kubur.

*3. Kematian Membongkar Tipuan Dunia*

Allah ﷻ berfirman:

«”Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta dan anak.”
(QS. Al-Hadid: 20)»

Dunia tidak pernah menjanjikan kepuasan.

Ketika satu target tercapai, muncul target berikutnya.

Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan yang baru.

Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

«”Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang dapat memenuhi rongga mulutnya selain tanah.”

BACA JUGA :  Menjadi Hamba Allah Seutuhnya

(HR. al-Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)»

Tanah yang dimaksud adalah tanah kuburan.

Manusia baru benar-benar berhenti mengejar dunia ketika tubuhnya telah dimasukkan ke dalam liang lahat.

*4. Kematian Adalah Nasihat yang Paling Jujur*

Ketika menghadiri pemakaman, sesungguhnya Allah sedang memperlihatkan masa depan kita.

Jenazah yang kita shalatkan hari ini adalah cermin diri kita esok hari.

Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

«”Aku dahulu melarang kalian berziarah kubur. Maka sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur dapat mengingatkan kepada akhirat.”

(HR. Muslim no. 977)»

Kuburan mengajarkan banyak hal.

Ia mengajarkan bahwa hidup sangat singkat.

Ia mengajarkan bahwa kesombongan tidak berguna.

Ia mengajarkan bahwa semua manusia akan pulang kepada Allah.

Kadang satu liang kubur lebih mampu melembutkan hati daripada seratus ceramah.

*5. Penyesalan Terbesar Terjadi Setelah Kematian*

Allah menggambarkan penyesalan orang yang lalai:

«”Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat beramal saleh yang dahulu aku tinggalkan.”

(QS. Al-Mu’minun: 99-100)»

Tetapi permintaan itu tidak akan pernah dikabulkan.

Kesempatan beramal hanya ada selama nafas masih berhembus.

Begitu kematian datang, lembaran amal ditutup.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«”Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim no. 1631)»

Karena itu, orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak hartanya.

Bukan yang paling tinggi jabatannya.

Bukan yang paling terkenal namanya.

Tetapi yang paling siap ketika dipanggil menghadap Allah.

*6. Mengingat Kematian Adalah Tanda Kecerdasan Seorang Mukmin*

Suatu hari Rasulullah ﷺ ditanya:

BACA JUGA :  Haji Mabrur Bukan Sekadar Pulang Membawa Gelar

«”Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”»

Beliau menjawab:

«”Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah kematian.”

(HR. Ibnu Majah no. 4259, hasan)»

Ukuran kecerdasan dalam Islam bukan sekadar kemampuan berpikir.

Kecerdasan sejati adalah kemampuan melihat akhir perjalanan.

Banyak orang cerdas dalam urusan dunia, tetapi lalai mempersiapkan akhirat.

Banyak orang mampu menghitung keuntungan bisnis, tetapi tidak pernah menghitung bekal kuburnya.

*Muhasabah dari Mihrab Maya*

Wahai diri…….

Berapa banyak hari yang telah berlalu tanpa taubat?

Berapa banyak shalat yang dikerjakan tanpa kekhusyukan?

Berapa banyak kesempatan berbuat baik yang disia-siakan?

Jika malam ini adalah malam terakhirmu.

Sudahkah engkau siap?

Sudahkah engkau meminta maaf kepada orang yang pernah kau sakiti?

Sudahkah engkau memperbaiki hubunganmu dengan Allah?

Sudahkah engkau menyiapkan jawaban ketika malaikat bertanya di alam kubur?

Jangan tunggu kematian datang untuk berubah.

Karena tidak ada seorang pun yang diberi kesempatan kembali ke dunia setelah kematian.

*Penutup*

Kematian bukanlah akhir cerita seorang mukmin.

Ia adalah awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang.

Karena itu, jangan jadikan kematian sebagai sesuatu yang ditakuti semata.

Jadikan ia sebagai guru yang setiap hari mengingatkan kita untuk memperbaiki diri.

Sebab orang yang paling siap menghadapi kematian adalah orang yang paling memahami makna kehidupan.

Semoga ketika ajal datang menjemput, Allah mendapati kita dalam keadaan beriman, bertaubat, dan sedang berusaha mendekat kepada-Nya.

«”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

(QS. Al-Fajr: 27-30)»

✍️ Editor : Ust M. Ismail Chair Tanjung, SH.I