Medan – PROMEDIA.News, Pemerhati sosial, politik dan Pembangunan, Ari Sinik, mengkritik pernyataan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) yang merasa pernah sebagai penggagas program pembinaan pemuda melalui pelatihan di lingkungan TNI.
Menurut Ari, klaim tersebut terlalu berlebihan karena konsep pembinaan pemuda seperti itu bukan hal baru. Ia mencontohkan sosok Kang Dedi Mulyadi yang lebih dulu mengirim anak-anak nakal ke barak TNI untuk dibina agar menjadi sadar dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan masyarakat Jawa Barat sangat berterima kasih.
“Jelas beda. Kalau Kang Dedi itu mengirim anak-anak yang bermasalah ke barak TNI supaya sadar dan berubah, masyarakat Jawa Barat berterima kasih. Sementara program pembinaan pemuda ke TNI yang dimaksud Gubsu itu kan melibatkan pemuda pilihan, bukan karena mereka bermasalah atau nakal, dan tidak ada pula ucapan terimah kasih masyarakat,” ujar Ari Sinik.
Ari menilai tidak sepatutnya seorang kepala daerah merasa sebagai pencetus pertama atas suatu program yang pada kenyataannya telah lebih dulu dilakukan oleh pihak lain.
“Inikan pencitraan namanya,” ujarnya.
Ia menyarankan agar setiap program lebih difokuskan pada kebermanfaatan bagi masyarakat, bukan pada klaim pencetusannya.
Ari mengingatkan agar pemerintah daerah tidak mudah merasa paling pertama atau paling inovatif dan bersih, terutama dalam hal program yang sejatinya sudah lebih dulu dilakukan oleh tokoh atau daerah lain. (red)








