MEDAN – Ketika sebagian partai berlomba menunjukkan kekuatan di panggung politik, Partai Golkar Sumatera Utara memilih jalan yang lebih sunyi – jalan pengabdian.
Menyambut HUT ke-61, partai berlambang pohon beringin ini tak sekadar berpesta simbolik, melainkan turun langsung meneguhkan kembali akar ideologinya, karya nyata untuk masyarakat.
DPD Partai Golkar Sumut, di bawah arahan Ketua H. Musa Rajekshah (Ijeck) melalui Sekretaris DPD Datuk H. Ilhamsyah, menegaskan bahwa bakti sosial tahun ini bukan sekadar seremoni.
“Kita ingin rakyat merasakan kehadiran partai, bukan hanya menjelang pemilu, tapi setiap saat,” ujarnya dalam arahannya di Medan, Kamis siang (9/10/2025).
Ketua Panitia HUT 61 Tahun Partai Golkar Sumut H. Palaceta S. Subianto, bersama Sekretaris Panitia Frans Dante Ginting keduanya anggota DPRD Sumut menyiapkan berbagai kegiatan sosial, pemberian 1.500 paket sembako, pengobatan gratis, donor darah, dan ziarah ke makam pahlawan.

Puncak peringatan akan digelar pada 20 Oktober 2025, dengan rangkaian agenda penyerahan sembako di Pantai Labu, Deli Serdang, pada 18 Oktober mendatang.
Namun di balik angka dan kegiatan, tersimpan pesan politik yang lebih halus, Golkar sedang: menata ulang makna kekuasaan sebagai tanggung jawab moral. Bahwa kemenangan sejati bukan diukur dari kursi legislatif, tetapi dari seberapa dalam akar pengabdian tumbuh di hati masyarakat.
Partai ini memang telah melewati banyak gelombang. Dari masa keemasan Orde Baru hingga transformasi demokrasi, Golkar belajar untuk tidak hanya menjadi mesin politik, tetapi juga lembaga pembelajaran sosial. Di tubuh Fraksi Golkar DPRD Sumut, semangat itu berusaha dihidupkan kembali dengan program turun ke masyarakat, menyerap aspirasi, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.
HUT ke-61 menjadi momentum refleksi, apakah partai masih setia pada falsafah “Suara Golkar adalah suara rakyat”!
Ataukah beringin tua itu mulai kehilangan daun karena lupa pada akar?
Jawabannya kini sedang ditulis ulang oleh para kader muda di bawah pohon beringin yang sama.
Mereka percaya, politik yang sehat adalah politik yang hadir – bukan hanya dalam rapat, tetapi dalam denyut kehidupan masyarakat.
Jika Golkar ingin tetap hidup seratus tahun lagi, maka napas panjang pengabdiannya harus selalu berpangkal pada dua kata sederhana namun suci! Melayani rakyat. (Red)






