Darah Wartawan Mengalir Ke Anak Cucu

Oleh : Suardi, SH

Ragam13 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Perjalanan hidup manusia memang tidak ada yang tahu. Mau menjadi apa, ke mana arah langkah akan dibawa, semuanya telah menjadi ketentuan Allah SWT dan tercatat di Lauhul Mahfudz.

Banyak kisah dalam hidup yang sulit ditebak. Ada orang yang berasal dari kehidupan sederhana, namun kemudian menjadi pemimpin besar. Ada pula yang sejak kecil tidak pernah membayangkan akan menekuni profesi tertentu, tetapi akhirnya menjalani jalan hidup itu dengan sepenuh hati.

Begitu pula dengan saya. Menjadi wartawan bukanlah sesuatu yang saya rencanakan sejak awal. Namun profesi itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Dunia jurnalistik mengajarkan keberanian, ketekunan, dan kemauan untuk mencari fakta, bahkan di tempat-tempat yang penuh risiko.

Pepatah mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ternyata pepatah itu saya rasakan sendiri.

Anak saya, Ayu Mustika Asih atau yang akrab dipanggil Ika, saat akan masuk kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU), pernah menjalani tes bakat. Dari hasil tes tersebut, salah satu bidang yang paling sesuai untuk dirinya adalah Ilmu Komunikasi.

BACA JUGA :  "SURGA" Tempat Pulang yang Dirindukan atau Dilupakan?

Hasilnya ternyata benar. Ika diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU dan berhasil menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi.

Keberaniannya mulai terlihat ketika menyusun skripsi. Demi mendapatkan data yang akurat, ia melakukan penelitian lapangan di lokasi yang tidak semua mahasiswa berani datangi. Bahkan, ketika berada di tempat tersebut, ada pelanggan yang mengira dirinya adalah pekerja baru. Namun pihak pengelola menjelaskan bahwa ia adalah seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir.

Keberanian Ika mendapat apresiasi dari dosen pembimbingnya. Tidak banyak mahasiswa yang berani terjun langsung ke lapangan untuk memperoleh data penelitian secara nyata.

Sebagai seorang ayah sekaligus wartawan, saya melihat ada sesuatu yang mengalir dalam dirinya. Keberanian untuk mendatangi tempat-tempat yang dianggap berisiko demi memperoleh informasi dan pengalaman. Sikap yang selama ini menjadi bagian dari profesi wartawan.

BACA JUGA :  NERAKA: Peringatan Bagi Hati Yang Lalai

Setelah lulus dari USU, kehidupan membawa Ika ke Jambi. Saat itu, calon suaminya yang merupakan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) sedang bertugas di sana.

Tinggal di Jambi dan menetap di kawasan sekitar Universitas Jambi (UNJA), Ika mencoba peruntungannya dengan melamar pekerjaan di sebuah klinik kecantikan yang baru dibuka.

Berkat bekal ilmu komunikasi yang dimilikinya, ia berhasil melewati proses seleksi dan diterima bekerja. Selama beberapa bulan, ia mendapatkan pelatihan intensif mengenai dunia kecantikan, pelayanan pelanggan, hingga penguasaan produk yang dipasarkan oleh klinik tersebut.

Setelah masa pelatihan selesai, Ika dipercaya memegang peranan penting dalam bidang komunikasi dan promosi. Setiap hari ia membuat berbagai konten menggunakan perangkat yang disediakan perusahaan. Tugas itu dijalaninya dengan baik karena memang sesuai dengan ilmu yang telah dipelajarinya selama kuliah.

*Kini Mengalir ke Cucu*

Jika darah komunikasi dan keberanian itu mengalir kepada anak, kini saya melihatnya mengalir pula kepada cucu saya, Fildzah Audy Ningrum.

BACA JUGA :  Ternyata Kita Butuh Cahaya, Kita Butuh Terang

Fildzah diterima kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Medan dan kini telah memasuki Semester VI. Sejak awal kuliah, ia memahami bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi oleh keluarga. Biaya kuliah memang dibantu, tetapi kebutuhan lain seperti tugas, kegiatan kelompok, transportasi, dan keperluan sehari-hari harus ia usahakan sendiri.

Karena itu, Fildzah memilih bekerja sambil kuliah.

Waktu bersantai sebagaimana kebanyakan anak muda seusianya hampir tidak ada. Siang hari digunakan untuk kuliah, sedangkan malam hari untuk bekerja.

Pernah ia bekerja di sebuah kafe di kawasan sekitar USU Medan. Jam pulangnya sering kali melewati tengah malam. Kadang pukul 24.00 WIB, bahkan tidak jarang hingga pukul 02.00 WIB.

Sebagai kakeknya, saya sering merasa khawatir. Kota Medan bukan tanpa resiko pada malam hari. Berita tentang begal, dan geng motor kerap terdengar. (Red)