Wilmar, Penghancur Sumatera Barat, Riau, Jambi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Papua Untuk Singapura

News352 Dilihat

Medan, 15 Desember 2025.

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Dari Sumatera Barat, orang suku Batak bernama Martua Sitorus dan keturunan China bernama Kuok Khoon Hong meraup cuan pertama, sehingga bisa berkembang menjadi perusahaan terbesar dunia di bidang Minyak kelapa sawit ,bukan untuk Indonesia tapi untuk Singapura.

Didirikan 1991 di Singapura dengan nama Wilmar Trading Pte Ltd, sebagai perusahaan dagang.

Proyek pertama perusahaan ini adalah PT Agra Masang Perkasa (AMP) – perkebunan kelapa sawit seluas 7.000 ha di Sumatera Barat, Indonesia.

Kini, Wilmar merupakan salah satu pemilik perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia dengan operasi hulu di Indonesia, Malaysia, Uganda, Pantai Gading, Ghana, dan Nigeria.

Proyek perkebunan ini diikuti oleh pembangunan pabrik pengolahan inti sawit berkapasitas 50 MT/hari di Sumatera Utara dan kilang berkapasitas 700 MT/hari di Dumai, Indonesia.

Didukung oleh bisnis penyulingan yang terus berkembang, kilang yang diresmikan pada tahun 1993 ini diperluas menjadi 2.400 MT/hari pada tahun 1995.

BACA JUGA :  Sumut Foundation Yakin Integritas Kakan Kemenag Labuhanbatu Tetap Terjaga

Bisnis di Indonesia berkembang pesat dan kini kami menjadi perusahaan penyuling minyak sawit, pengolahan inti sawit dan kopra terbesar, serta produsen lemak khusus, oleokimia, biodiesel, dan minyak kemasan konsumen di negara ini.

Wilmar Group kini pun menguasai hampir 500.000 hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia

Lahannya tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua

 

Penghancuran Indonesia oleh Wilmar

1. Wilmar di Kalimantan Barat dan Sumatra Barat tersangkut beberapa pengaduan oleh masyarakat setempat terkait melakukan pembakaran secara ilegal untuk membersihkan lahan, pembabatan hutan primer, pembabatan wilayah dengan nilai konservasi tinggi, pengambilalihan tanah adat dari masyarakat adat tanpa proses yang adil.

Banjir bandang dan Longsor di Sumatera

 

2. Sementara ranah Minang hanya kebagian rusaknya kesuburan alam , gundulnya hutan,banjir dan longsor.

3. Pembukaan lahan Wilmar menyebabkan kebakaran besar juga Bumi Lancang Kuning, Riau.

4. Di Jambi, masyarakat setempat yaitu masyarakat asat Batin Sembilan meminta Gubernur Provinsi Jambi untuk segera mencabut HGU (Hak Guna Lahan) karena dilihat bahwa hadirnya Wilmar di wilayah mereka memberikan kesulitan bagi masyarakat serta tidak ada manfaat atas kehadiran Wilmar.

BACA JUGA :  Penyidik Didesak Percepat Proses Penyelidikan Dugaan Korupsi PT TDM Anak Usaha PTPN I

5. PT. Mustika Sembuluh merupakan anak perusahaan Wilmar di Kalimantan Tengah juga menghadapi banyak laporan dari masyarakat setempat mengenai sengketa lahan terhadap pemakaman yang hancur, kurangnya identifikasi dan perjanjian yang terdokumentasi antara perusahaan dan masyarakat lokal menyangkut hak-hak tradisional mereka dan penggunaan lahan tersebut, kurangnya pemonitoran dan pengawasan wilayah yang bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value, HCV), dan kurangnya pemonitoran berkala dan manajemen dampak sosial; yang semuanya diwajibkan berdasarkan kriteria sertifikasi RSPO.

Selain itu, anak perusahaan Wilmar juga di pandang kurang memperhatikan lingkungan temapat perusahaannya beroprasi yang berakibat pada lahan kantong, polusi dari sungai-sungai lokal, nilai konservasi tinggi.

6. Anak-anak perusahaan di Kalimantan Barat, PT Wilmar Sambas Plantation (WSP), Buluh Cawang Plantation (BCP) dan Agro Nusa Investama (ANI) melanggar kebijakan tanggung jawab sosial korporat dari Wilmar sendiri, hukum Indonesia dan Prinsip-prinsip dan Kriteria dari RSPO, di mana Wilmar sudah menjadi anggotanya sejak 2005.

BACA JUGA :  Mobil Listrik Diduga milik Perusahaan Bobby Nasution Terbakar

7. Walhi atau disebut Wahana Lingkungan Hidup pada tahun 2013 menyebut sebanyak 27 perusahaan Grup Wilmar berkontribusi besar atas terjadinya kebakaran hebat di empat provinsi (Jambi, Sumsel, Riau, dan Kalteng).

8. Wilmar telah mengubah bentang alam Papua, dengan membabat hutan seluas 2 juta ha, untuk membangun kebun tebu dan pabrik gula di Merauke. Terjadi konflik dengan warga Papua.

Mengingat dampak kerusakan yang ditimbulkan di seluruh Indonesia, selama 30 thn beroperasi , dengan kontribusi sangat sedikit bagi warga setempat ,sementara penikmat terbesar adalah Singapura, dan bukan Indonesia ,menurutku sudah saatnya, mengusir Wilmar Group dari Indonesia. (Red.)