Malam Tasyakuran MKGR Sumut: Menjaga Bara Teladan dalam Sunyi Siantar

Sumut447 Dilihat

MEDAN, PROSMEDIA. NEWS – Dimalam yang tenang pada Senin (18/11/2025), DPD Ormas MKGR Sumatera Utara kembali menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan pengabdian tak pernah redup. Berlokasi di Café Masyahmidun, Jalan Kasuari, Sipinggol-Pinggol, acara tasyakuran atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto berlangsung dalam suasana hangat yang jauh dari hiruk-pikuk politik.

Acara ini dipimpin oleh Dharma Putra Rangkuti, Ketua DPD Ormas MKGR Sumut yang juga menjabat sebagai Ketua Bapemperda DPRD Sumut. Sejak awal, Dharma menekankan bahwa tasyakuran ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang kontemplasi untuk kembali menimbang nilai keteladanan.

“Penghargaan kepada seorang pahlawan bukan hanya tentang nama besar, tapi tentang nilai yang masih sanggup kita hidupkan hari ini,” ujar Dharma dalam sambutan yang mengalir pelan namun berkarakter.

BACA JUGA :  Ir Kabir Bedi Soroti Pentingnya Sistem Pembinaan Atlet Akuatik yang Berjenjang di Sumut

Rangkaian Syukur di Kota Santun

Acara berlangsung mulai pukul 20.00 WIB, diawali lagu Indonesia Raya, dilanjutkan hymne dan mars MKGR. Malam itu menjadi salah satu simbol syukur atas perjalanan panjang pengabdian Jenderal Besar Soeharto.

Di sela acara, hadir berbagai tokoh Kota Pematangsiantar, termasuk Drs. H. Syahmidun Saragih, mantan Ketua DPRD Simalungun yang hingga kini masih aktif sebagai pembina masyarakat. Sosoknya yang merakyat menjadi penguat bahwa nilai pengabdian tak pernah mengenal masa purna tugas.

“Pengabdian itu bukan jabatan. Ia cara hidup,” ujar salah seorang tamu, meresapi suasana hangat malam itu.

BACA JUGA :  LIPPSU: Di Tengah Seruan Efisiensi, Pemko Pematangsiantar Beli Lima Mobil Mewah

Rangkaian bakti sosial menandai komitmen MKGR Sumut untuk terus bergerak melalui tindakan kecil yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Di sudut-sudut ruangan, obrolan para kader dan tokoh berlangsung ringan tetapi berisi, menyentuh kenangan masa lalu dan harapan masa depan. Dari percakapan-percakapan itulah tersirat bahwa tasyakuran ini telah melampaui batas administrasi organisasi ia berubah menjadi ruang bertemu antara nilai, sejarah, dan empati.

Ketika Dharma kembali naik ke podium, suasana mengerucut dalam satu pesan kuat:

MKGR Sumut ingin merawat nilai, bukan nama. Menghidupkan tindakan, bukan seremoni. Menyambung manfaat, bukan sekadar mencatat momen.

BACA JUGA :  PAPDESI Sumut Nyatakan Siap Jadi Pelopor Koperasi Desa Merah Putih

Simalungun Menyusul Malam Ini

Menariknya, rangkaian syukur tidak berhenti di Pematangsiantar. Malam ini, MKGR Simalungun dijadwalkan menggelar tasyakuran serupa pada pukul 20.00 WIB di tempat yang sama.

Meski dalam format yang hampir sama, kegiatan versi daerah ini dipastikan membawa warna lokal dan kekhidmatan yang berbeda.

Dua kabupaten/kota, satu nilai yang sama:

Menjaga bara keteladanan agar terus menyala.

Akhir Malam yang Tenang

Menjelang penutupan, doa dipanjatkan, lampu-lampu diredupkan, setelahnya para undangan berkumpul untuk sesi foto bersama.

Di keheningan itu, seakan ada bisikan yang sama dari setiap wajah yang hadir:

Bahwa pengabdian tidak pernah usai, ia hanya menemukan bentuk-bentuk baru.(520)