Ir Kabir Bedi Soroti Pentingnya Sistem Pembinaan Atlet Akuatik yang Berjenjang di Sumut

Sumut357 Dilihat

MEDAN,PROMEDIA.NEWS | Ketua Umum Akuatik Provinsi Sumatera Utara, Ir. Kabir Bedi, menegaskan pentingnya sistem pembinaan atlet yang terstruktur dan berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Akuatik Provinsi Sumatera Utara Kabir Bedi kepada Media, Senin 20/4/2026.

Ia berharap seluruh pengurus Akuatik di kabupaten/kota dapat mempersiapkan para calon atlet secara matang agar mampu bersaing di ajang nasional, khususnya kejuaraan yang digelar di Jakarta.

BACA JUGA :  Pelanggan Wajib Tahu, Air PAM Tirtanadi Diduga Tidak Standar Air Bersih, Disedot Pipa Tua Dan Kotor Tak Terawat

Menurutnya, keikutsertaan dalam kejuaraan di luar kalender nasional, seperti event di Malaysia, dinilai kurang tepat dalam konteks pembinaan prestasi. Hal tersebut karena hasilnya tidak tercatat secara resmi dalam sistem nasional, sehingga tidak dapat dijadikan tolok ukur perkembangan atlet.

“Pembinaan sebaiknya dimulai dari seleksi di tingkat kabupaten, kemudian bertanding di level provinsi, dan dilanjutkan ke kejuaraan nasional di Jakarta. Di sanalah prestasi atlet bisa tercatat dan terukur,” ujarnya.

BACA JUGA :  LIPPSU: Ada Suara Nyaring “Lantai 10” Diduga Perintahkan Aksi Dukung MBG di Eks Medan Club. Rasanya Tak Mungkin Aset Bersejarah Diizinkan Jadi Titik Kumpul Unjuk Rasa

Kabir mencontohkan pada ajang KRAPSI sebelumnya, di mana terdapat dua atlet Sumatera Utara yang berhasil menembus limit dan diberangkatkan ke Kejuaraan Nasional di Jakarta. Hasil catatan waktu mereka pun diakui secara nasional.

Ia juga menegaskan, bagi atlet yang mampu memenuhi limit akan difasilitasi pembiayaannya oleh pihak provinsi. Sementara bagi yang belum mencapai standar, tetap diberikan kesempatan bertanding dengan biaya mandiri.

BACA JUGA :  LIPPSU: PT PSU Salah Urus Sejak Awal, Kini Semua Hancur Lebur Jadi “Tepung Terigu”

Dengan sistem tersebut, para atlet akan dihadapkan pada persaingan yang lebih kompetitif, khususnya melawan atlet-atlet muda potensial dari berbagai daerah di Indonesia.

“Dengan pola ini, pembinaan menjadi lebih terarah, terukur, dan memiliki tujuan yang jelas. Harapannya, dapat mendorong lahirnya atlet-atlet berprestasi dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional,” pungkasnya. (SS).

Penulis : Syahdan.