Ternyata Kita Butuh Cahaya, Kita Butuh Terang

Belajar dari Ketika Listrik Padam

Ragam43 Dilihat

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Oleh : Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Padamnya listrik secara massal yang melumpuhkan sebahagian besar wilayah Sumatera pada Jum’at Ba’da Maghrib (22/5/2026),hal ini bukan sekadar “mati lampu biasa,” tapi padamnya listrik sebagai sumber cahaya (lampu) yang menerangi kehidupan kita sehari-hari, saat lampu padam kita gelisah dan gusar. Tapi hati gelap, dipenuhi dengan jabatan dan harta kita lupa mencari penerangnya. Padahal jabatan kedudukan dan harta yang tidak berkah itulah penyebab hati itu gelap.

Ketika listrik padam, barulah kita sadar:

Ternyata hidup ini sangat bergantung pada cahaya (Nur) .

BACA JUGA :  ASHABUL A‘RAF, Mereka yang Berdiri di Antara Surga dan Neraka

Rumah yang tadi terasa biasa, tiba-tiba menjadi gelap. Jalan yang biasa kita lewati, mendadak terasa asing. Benda-benda yang dekat pun sulit terlihat. Langkah menjadi pelan. Hati menjadi waspada.

Padahal yang hilang hanya satu:
Terang

Begitulah hidup manusia.

Selama hati masih diterangi iman, kita bisa membedakan jalan yang benar dan yang salah. Kita bisa melihat mana yang membawa kepada Allah dan mana yang menjauhkan dari-Nya. Tetapi ketika cahaya iman meredup, hidup menjadi gelap meski mata masih melihat.

– Kita bisa punya rumah terang, tetapi hati gelap.
– Kita bisa punya ilmu banyak, tetapi jiwa kehilangan arah.
– Kita bisa sibuk mengejar dunia, tetapi lupa jalan pulang kepada Allah.

BACA JUGA :  Menjadi Hamba Allah Seutuhnya

Allah berfirman:

> “Allah adalah cahaya langit dan bumi.”
QS. An-Nur: 35

Cahaya terbesar bukan lampu di rumah kita. Cahaya terbesar adalah hidayah Allah dalam hati kita.

Listrik padam mengajarkan bahwa manusia lemah. Sekejap saja terang dicabut, kita gelisah. Maka bagaimana jika Allah mencabut cahaya petunjuk dari hati kita?

Karena itu, jangan hanya panik ketika lampu padam.
– Takutlah ketika hati mulai padam.
– Ketika nasihat tidak lagi menyentuh.
– Ketika dosa terasa biasa.
– Ketika shalat terasa beban.
– Ketika Al-Qur’an jarang dibuka.
– Ketika air mata taubat mengering.

BACA JUGA :  Aku Taat dan Menyembah-Mu, Mengapa Ujian Ini Tak Berkesudahan Ya Rabb?

Saat listrik padam, kita mencari lilin.
Saat hati gelap, carilah Allah

Hidup ini butuh Cahaya:
– Cahaya iman.
– Cahaya taubat.
– Cahaya Al-Qur’an.
– Cahaya dzikir.
– Cahaya sujud di malam sunyi.

Ya Allah, jangan biarkan hati kami gelap setelah Engkau pernah meneranginya. Jangan cabut hidayah dari jiwa kami. Jadikan iman sebagai cahaya dalam hidup kami, dalam kubur kami, dan di hari kami menghadap-Mu.

Editor : M. Ismail Chair Tanjung, S.PdI