Karya: Ust. Abdul Latif Khan
MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Setiap manusia pasti akan menuju kematian, tapi apakah kita bagaimana kita akan mati, dimana kematian itu datang, hari apa, pukul berapa, semua tidak akan tahu. Maka persiapkanlah diri ini menuju kematian.
Allah menjadikan kematian sebagai nasihat yang paling jujur bagi manusia. Tidak ada yang dapat mengingkarinya. Tidak ada yang dapat melarikan diri darinya.
Namun ironi zaman ini adalah, kematian semakin sering kita saksikan, tetapi semakin sedikit yang mau mengambil pelajaran darinya.
Jangan-jangan bukan kematian yang kehilangan pesannya, tetapi hati kita yang kehilangan kepekaannya.
1. Ketika Kabar Kematian Hanya Menjadi Sebuah Notifikasi
Dahulu kabar duka membuat orang terdiam.
Kini kabar kematian hanya muncul di antara ratusan pesan dan unggahan media sosial.
Kita menulis, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
Lalu beberapa detik kemudian tertawa melihat hiburan.
Seolah-olah kematian hanya terjadi pada orang lain.
Padahal setiap berita duka sedang berkata,
“Bersiaplah. Suatu saat namamu yang akan disebut.”
2. Hati yang Tidak Lagi Bergetar adalah Musibah yang Sebenarnya
– Musibah terbesar bukan banyaknya orang yang meninggal.
– Musibah terbesar adalah ketika hati tidak lagi takut kepada Allah.
– Tangisan semakin sedikit.
– Taubat semakin ditunda.
– Dosa semakin dianggap biasa.
– Maksiat semakin dinormalisasi.
Inilah tanda hati mulai mengeras.
3. Setiap Jenazah Sedang Menyampaikan Ceramah Tanpa Kata-Kata
Orang yang meninggal tidak lagi mampu berbicara.
Tetapi jenazahnya sedang memberikan pelajaran yang sangat keras.
Ia berkata,
“Aku pernah memiliki rencana seperti kalian.”
“Aku pernah sibuk mengejar dunia.”
“Aku juga pernah berkata ‘nanti’.”
“Tetapi hari ini semua kesempatan telah berakhir.”
Tidak ada ceramah yang lebih jujur daripada sebuah jenazah.
4. Dunia yang Diperebutkan Ternyata Tidak Ikut Dikuburkan
Saat seseorang wafat..
– Rumahnya tetap berdiri.
– Hartanya tetap tersimpan.
– Kendaraannya tetap dipakai.
– Jabatannya segera digantikan.
– Rekeningnya berpindah kepada ahli waris.
Yang ikut masuk ke liang kubur hanyalah amalnya.
Saat itu baru terasa betapa kecilnya dunia yang dahulu begitu diperebutkan.
5. Kubur Adalah Tempat yang Akan Kita Datangi Sendiri
– Di rumah sakit banyak yang menemani.
– Di rumah duka banyak yang menangisi.
– Di masjid banyak yang menyalatkan.
– Di pemakaman banyak yang mengantar.
Tetapi ketika tanah mulai ditimbunkan.
– Semua pulang.
– Kita tinggal sendirian.
Yang menemani hanyalah iman dan amal.
6. Mengapa Rasulullah Memerintahkan Kita Banyak Mengingat Mati?
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian.”
Orang yang sering mengingat mati akan:
– Lebih khusyuk dalam Shalat.
– Lebih mudah memaafkan.
– Lebih ringan bersedekah.
– Lebih berhati-hati terhadap dosa.
– Lebih sedikit mencintai dunia.
Mengingat mati bukan membuat hidup suram.
Justru membuat hidup lebih bermakna.
7. Jangan Menunggu Nama Kita Menjadi Berita Duka
Hari ini kita membaca nama orang lain yang meninggal.
Suatu hari nanti…
– Orang lain akan membaca nama kita.
– Foto kita akan dipasang.
– Doa akan dipanjatkan.
– Lalu kehidupan terus berjalan tanpa kita.
Pertanyaannya bukan kapan kita mati. Tetapi dalam keadaan apa Allah memanggil kita.
8. Selama Napas Masih Ada, Pintu Taubat Masih Terbuka
Hari ini kita masih diberi kesempatan, untuk :
– Bisa bersujud, maka sujudlah.
– Masih bisa membaca Al-Qur’an, bacalah ia setiap waktu.
– Masih bisa meminta maaf, maka mintalah maaf.
– Masih bisa memperbaiki hubungan dengan keluarga, perbaiki segera.
– Masih bisa meninggalkan dosa, tinggalkanlah segala yang membuat dosa.
Jangan menunggu Waktu esok. Karena tidak ada seorang pun yang dijamin masih hidup sampai esok pagi.
Penutup:
Sebelum Kita Benar-Benar Dipanggil Pulang.
Suatu hari akan datang saat nama kita disebut, Innalillahi wa inna illahirojiun.
– Tubuh kita dimandikan.
– Dikafani.
– Dishalatkan.
– Lalu diturunkan ke liang lahat.
Saat itu, tidak ada lagi kesempatan untuk menambah satu rakaat shalat.
Tidak ada lagi kesempatan memperbaiki satu kesalahan.
Tidak ada lagi kesempatan meminta maaf.
Yang tersisa hanyalah amal.
Semoga setiap kabar kematian yang kita dengar menjadi pengingat, bukan sekadar berita.
Semoga Allah melembutkan hati kita, membimbing kita untuk selalu bertaubat sebelum ajal menjemput, dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Editor : Ust Ismail Chair Tanjung, Sh.I







