Saham Bank Mandiri Terjun Bebas, Usai Dirut Borong Saham

Sinyal Kepercayaan atau Gagal Redam Aksi Jual Asing?

News48 Dilihat

JAKARTA, PROMEDIA. NEWS – Pergerakan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) tengah menjadi sorotan pelaku pasar. Di tengah aksi pembelian saham oleh Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, harga saham emiten perbankan pelat merah tersebut justru terus mengalami tekanan dan mencatatkan penurunan beruntun selama enam hari perdagangan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor.

Apakah aksi pembelian saham oleh orang nomor satu di Bank Mandiri merupakan sinyal kuat terhadap prospek perusahaan, atau justru belum mampu membendung derasnya tekanan jual yang datang dari investor asing?

Berdasarkan data perdagangan, saham BMRI sempat menyentuh level Rp4.010 per saham pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Posisi tersebut menjadi titik terendah setelah saham ini bergerak turun secara konsisten sejak pertengahan Juni.

Sebelumnya, pada 15 Juni 2026, Riduan melakukan pembelian sebanyak 50.000 saham BMRI atau setara dengan 500 lot. Transaksi tersebut dilakukan pada harga Rp4.470 per saham dengan total nilai mencapai Rp223,5 juta.

Aksi korporasi itu membuat kepemilikan saham Riduan meningkat menjadi 14.597.800 lembar saham atau sekitar 0,0156 persen dari total saham yang beredar.

BACA JUGA :  PMPHI-SU; Ledakan Pengangguran Bertambah di Aceh, Sumut dan Sumbar - Pasca Ditutupnya Industri Perkayuan

Menariknya, transaksi tersebut dilakukan ketika saham BMRI sedang berada dalam tren positif. Pada hari yang sama, BMRI bahkan ditutup menguat 7,14 persen ke level Rp4.500 per saham.

Namun harapan pasar terhadap sinyal optimisme dari jajaran manajemen tampaknya tidak berlangsung lama. Setelah transaksi tersebut, saham BMRI justru berbalik arah dan masuk ke fase koreksi yang cukup dalam.

Jika dibandingkan dengan harga pembelian Riduan, posisi terendah intraday di level Rp4.010 menunjukkan saham BMRI telah mengalami penurunan sekitar 10,3 persen hanya dalam tujuh hari bursa.

Gelombang Jual Asing Jadi Beban Berat

Analis pasar menilai tekanan terhadap BMRI tidak lepas dari masifnya aksi jual investor asing yang terus berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,12 triliun selama periode koreksi enam hari perdagangan berturut-turut.

Rinciannya, investor asing mencatat net sell sebesar Rp204,38 miliar pada 17 Juni, Rp161,03 miliar pada 18 Juni, Rp196,45 miliar pada 19 Juni, Rp95,81 miliar pada 22 Juni, Rp386,60 miliar pada 23 Juni, serta Rp77,67 miliar pada 24 Juni 2026.

BACA JUGA :  JNE Raih  Dua Penghargaan di IOB Award 2025

Besarnya arus modal yang keluar tersebut menjadi faktor dominan yang menekan harga saham BMRI. Bahkan, sentimen positif dari aksi pembelian saham oleh Direktur Utama belum mampu mengubah arah pergerakan pasar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuatan dana asing masih memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan saham-saham berkapitalisasi jumbo di Bursa Efek Indonesia, termasuk Bank Mandiri.

Pasar Menunggu Bukti, Bukan Sekadar Sinyal

Secara teori, pembelian saham oleh direksi sering dianggap sebagai bentuk keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis perusahaan di masa depan. Investor biasanya membaca langkah tersebut sebagai sinyal bahwa harga saham berada pada level menarik atau undervalued. Namun dalam kasus BMRI, pasar tampaknya memilih untuk bersikap hati-hati.

Aksi pembelian senilai Rp223,5 juta memang menunjukkan komitmen dan kepercayaan dari manajemen. Akan tetapi, nilai transaksi tersebut relatif kecil dibandingkan kapitalisasi pasar Bank Mandiri yang mencapai ratusan triliun rupiah serta dibandingkan tekanan jual asing yang telah menembus Rp1 triliun dalam waktu kurang dari satu minggu.

BACA JUGA :  Maling-maling Bermuka Tembok Berkeliaran di PT Inalum

Fakta tersebut memunculkan pandangan kritis bahwa pasar saat ini lebih fokus pada faktor fundamental makro, arus modal asing, kondisi ekonomi global, hingga arah suku bunga dibandingkan sekadar sinyal pembelian oleh pejabat perusahaan.

Dengan kata lain, pasar membutuhkan bukti kinerja yang lebih kuat dan katalis positif yang nyata untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap saham BMRI.

Investor Menanti Arah Baru

Di tengah tekanan yang masih berlangsung, pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan dari manajemen Bank Mandiri serta perkembangan sentimen eksternal yang memengaruhi sektor perbankan nasional.

Jika aksi jual asing mulai mereda dan kinerja fundamental perseroan tetap solid, peluang pemulihan harga saham BMRI masih terbuka. Namun selama tekanan jual masih mendominasi, volatilitas diperkirakan akan tetap membayangi pergerakan saham bank terbesar di Indonesia tersebut.

Sebagai informasi, Riduan menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri sejak Agustus 2025 dan menjadi salah satu figur penting dalam menentukan arah transformasi bisnis perseroan ke depan.

Penulis : Heriyanto