Medan, 25 Januari 2026 .
MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Pasca pencopotan Ijeck sapaan akrab Musa Rajekshah sebagai ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara, diduga tudingan ini langsung ke kubu Gubernur Bobby Nasution yang sebelumnya berhasil meloby menempatkan Erni Ariyanti Sitorus sebagai Ketua DPRD Sumatera Utara, setidaknya ada lima episode dugaan permintaan Bobby Nasution Gubernur Sumut kepada Ketua Umum DPP Golkar Bahlil Lahadalia, dua episode sudah berjalan tinggal tiga episode lagi. Untuk yang ketiga ini, Bobby Nasution Gubernur Sumut menginginkan “jagoannya” Hendri Yanto Sitorus, saat ini menjabat sebagai Bupati Labuhan Batu Utara, untuk dapat mengganti posisi ijeck sebagai ketua Golkar Sumatera Utara pada Musda ke XI.
Erni Ariyanti Sitorus dan Hendri Yanto Sitorus keduanya anak dari Khairuddin Syah Sitorus yang akrab disapa Haji Buyung, mantan Bupati Labuhan Batu Utara, dan mantan narapidana KPK terkait kasus suap eks pejabat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Yahya Purnomo dan Rifa Surya terkait Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2018 melalui program ePlanning dengan DAK sebesar Rp.504.734.540.000.

Terbitnya SK Ahmad Doli Kurnia Tanjung sebagai Plt. Ketua DPD Partai Golkar Sumut untuk menghadang majunya Ijeck sebagai ketua Golkar yang ke dua kalinya, dan terbitnya SK Revitalisasi dengan ketua harian Yasir Ridho Lubis. Perjalanan menuju Musda Golkar Sumut ke XI, situasi internal partai bisa berubah-ubah dalam hitungan detik, dengan singkat dan inilah demokrasi di Golkar. Ini sebuah perjalanan politik, Partai Golkar yang sudah sangat matang dan memiliki banyak kader. Pasca Ijeck dicopot, riakpun bermunculan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk internal partai sendiri. Musa Rajekshah di copot, dalam waktu singkat loyalis Musa Rajekshah, Reza Fahrumi Taher ketua PDK Kosgoro 1957 Sumut turut di non aktifkan dengan Plt. Lamhot Sinaga.

Musa Rajekshah berhasil Jadikan Pohon Beringin Emas dan Magnit Politik Sumut, walau di jegal tetap tenang “Politik Santun”
Memperhatikan perjalanan Partai Golkar Sumatera Utara, partai pemenang Pemilu 2020 yang dipimpin Musa Rajekshah bagaikan “Magnit Politik”, banyak pihak ingin menggoyang dan mencari tempat. Ini berawal dari pecahnya pasangan Eramas (Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah) sebagai Gubernur dan wakil Gubernur Sumut periode 2019-2024. Selesainya masa jabatan Eramas, dilanjuti dengan Bobby-Surya yang memenangkan dalam Pilkada Sumut 2024. Musa Rajekshah ke DPR-RI dan tetap membangun konsolidasi organisasi Partai Golkar Sumut, walau di jegal untuk maju dua periode dalam Musda ke XI, Ijeck tetap tenang dan santun berpolitik demi menjaga semangat persaudaraan antar kader.
Perjalanan Ijeck menuju dua periode digoyang, di jegal dan kandas, Partai Beringin bagai pohon emas, beringin telah lama dilirik Bobby Nasution Gubernur Sumut, berharap untuk maju kedua kali sebagai Gubernur Sumut dengan memakai kapal Golkar. Setelah berhasil meloby dan menempatkan Erni Ariyanti Sitorus sebagai ketua DPRD Sumut. Dua episode telah berlalu, menempatkan Erni Ariyanti Sitorus sebagai ketua Golkar dan menjegal Ijeck dari ketua Golkar Sumut, rencana Bobby Nasution ini terlihat mulus berjalan. Memasuki episode ke tiga, Bobby Nasution menginginkan “jagoannya” Hendri Yanto Sitorus putra dari H. Buyung Sitorus yang juga mantan Bupati Labura dan senior Golkar, berupaya untuk menggolkan Hendri Yanto Sitorus sebagai calon tunggal ketua Partai Golkar Sumut dalam Musda ke XI.

“Episode ke tiga, empat dan ke lima belum masuk, situasi Musda Golkar berubah, muncul dua pesaing Hendri Yanto Sitorus yang tampil dengan gagah maju mencalonkan diri dalam Musda Golkar ke XI, yang sebelumnya ada calon yang sudah mundur.” jelas Azhari A.M Sinik, Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), yang mengamati dinamika Politik, Sosial, Ekonomi dan Pembangunan di Sumatera Utara, saat berbincang dengan awak Media di Medan, Minggu (25/1/2026).
Andar Amin Harahap Menguat di Akar Rumput, Jagoan Bobby Nasution Hendri Yanto Sitorus Telungkup
Azhari Sinik menyebut, pemilihan kursi ketua partai beringin yang memenangkan pemilu 2024 di Sumatera Utara, ini sebagai momentum meraih kemenangan partai untuk yang kedua kalinya kedepan. “Saat ini, Golkar Sumut membutuhkan tokoh kader partai yang mumpuni dan setara dengan Musa Rajekshah, matang berpolitik dan diterima disemua pihak serta mampu untuk meraih kemenangan kedepan yang lebih baik,”kata Azhari Sinik.

Munculnya kader yang siap maju, sebagai pesaing Hendri Yanto Sitorus, diantaranya mantan Bupati dan ketua Golkar Padanglawas Utara (Paluta) yang juga Anggota DPR-RI, Andar Amin Harahap putra dari Bahrum Harahap mantan Bupati Paluta dan juga tokoh Politisi Senior Golkar Sumatera Utara yang tidak diragukan militansinya. Selanjutnya muncul seorang sosok muda, mantan ketua AMPG Sumut Abdul Rahman yang disapa Dedek Ray.
“Abdul Rahman atau Dedek Ray adalah kader muda Golkar yang gigih dalam berjuang, memiliki rekam jejak dalam berpolitik yang santun dan mandiri. Sedangkan Andar Amin Harahap yang juga tokoh muda, memiliki rekam jejak yang sangat elegan dalam berpolitik, beradab, santun dan mandiri, masing-masing ke tiga calon mendeklarasikan diri untuk siap maju,” jelasnya.

Azhari Sinik memperhatikan situasi Musda, sosok Andar Amin Harahap menduduki di tempat paling kuat, setidaknya sudah mendapat dukungan 30 kabupaten kota dari 33 DPD, dan telah mendeklarisakan bersama di Hotel Green City Medan, Sabtu (17/1/2026) yang lalu. “Dukungan ini lahir didasari satu motivasi, yang terbangun dalam konsolidasi internal Partai, bagaimana partai Golkar bisa solid, lebih kuat, dan lebih maju di masa depan tanpa ada campur tangan pihak-pihak lain yang berambisi mencengkram dan merusak batang dan ranting pohon beringin yang kokoh, itulah dasar utama dukungan mereka kepada Andar Amin,” ujarnya.
“Namun dalam dukungan yang disampaikan 30 DPD Kabupaten Kota, tidaklah semulus begitu saja, sebelum masuk pendaftaran. Ada kekecewaan yang muncul dari kamar-kamar gelap melalui perpanjangan tangan dengan corong-corong kaleng, memunculkan berbagai riak dan isu. Diantara suara corong itu, muncul dari internal partai sendiri, yang mengatakan, bahwa dukungan yang lahir diduga ada tekanan dan dikordinir oleh Yasir Ridho cs,” kata Azhari Sinik.
Musda Golkar Sumut Memanas, Tudingan, Isu dan Politisasi Mengudara
Mengutip dari apa yang dinyatakan Sahlul Umur Situmeang “Apa yang dilakukan dari manuver politik kelompok Ridho Lubis cs dinilai mengarah pada politik balas dendam. Ini tidak baik bagi arah Partai Golkar lima tahun ke depan,” pernyataan ini di ditanggapi dengan santun dan tidak emosional ; “Menekankan pentingnya menjaga suasana Musda tetap sejuk dan penuh kegembiraan. Berpolitik jangan pakai perasaan, karena ini bukan percintaan, Musda adalah rutinitas organisasi yang biasa dilakukan, dan ini ruang demokrasi internal partai yang wajar diwarnai dinamika, perbedaan pandangan, serta adu gagasan. Dan harus dijalankan dengan mengedepankan logika, etika dan semangat persaudaraan antar kader.” kata Yasir Ridho Lubis.

Azhari Sinik memperhatikan pernyataan pengurus Golkar; Apa yang disampaikan Yasir Ridho menanggapi pernyataan Sahlul Umur, itu sebuah pesan saling mengingatkan agar Sahlul tidak terjebak dalam dinamika menuju Musda dan emosional. Tudingan itu tidak layak sampai kepublik, saya rasa tidak ada dendam dalam berpolitik di Golkar, kader Golkar itu sudah dewasa berpolitik. Ridho, selaku ketua harian hasil Revitalisasi sudah menjalankan amanah Partai dan melaksanakan konsolidasi organisasi, bila salah yang dijalankan, seharusnya Sahlul Umur meminta penjelasannya dalam Rapat Partai, tidak perlu berkomentar di publik, itu menunjukan kurangnya kedewasaan dalam berorganisasi, sementara Reza Fahrumi Taher menyatakan “Andar Amin Harahap itu pilihan Golkar Sumut dan dibutuhkan Partai Golkar, berarti semua kader harus mendukung Andar, tanpa kecuali,” ujarnya.

Tidak hanya riak dalam Partai, Andar Amin Harahap pun di uji emosionalnya dalam menuju Musda, walaupun Amin didukung semua pihak, tantanganpun datang dari luar, walaupun itu suara dari kaleng-kaleng kegelapan dan pesanan yang terselubung untuk memainkan dinamika politisasi menuju Musda. Hal ini Andar Amin jangan menanggapinya dengan murahan dan sepele, ini harus disikapi dengan sabar dan tenang. Ini bagian dari strategi menggagalkan maju menjadi calon Ketua Golkar Sumut, walaupun terpaan isu itu muncul dengan deras saat mau berlangsungnya Musda Golkar. “Yang menjadi pertanyaan, mengapa isu ini muncul di saat mau Musda, padahal kasus ini sudah lama, ada apa dan siapa yang bermain dibelakangnya ?,” pungkasnya.
By: Syafaruddin Sikumbang.






