OPINI: DARI PENEGAK JADI PELAPAK: Ketika “Lampu Hijau” Seharga 1 Miliar & Alphard

Tulisan : Lhynaa Marlinaa (Marlina)

Hukum257 Dilihat

Jakarta, 5 Februari 2026.

JAKARTA, PROMEDIA.NEWS | Di pundaknya tersemat dua melati emas. Simbol wibawa, simbol komando. Namun, pengakuan mengejutkan dari ruang pemeriksaan meruntuhkan wibawa itu hingga ke titik nol.

Seorang Kapolres (kini nonaktif) diduga bukan sibuk mengatur strategi menangkap bandar, melainkan sibuk mengatur “menu tagihan” kepada bawahannya: Uang Rp 1 Miliar dan sebuah mobil Alphard. Ini bukan skenario film mafia The Godfather. Ini realita (diduga) terjadi di Bima Kota.

 

LOGIKA TERBALIK: MEMBERANTAS ATAU MEMERAS? 🤔

Bayangkan posisi si bawahan (Kasat Narkoba). Tugasnya menangkap penjahat, tapi di sisi lain, ia “dicekik” oleh atasan sendiri untuk menyediakan upeti miliaran rupiah demi mempertahankan jabatan.

BACA JUGA :  Ada apa di balik Banyak Polisi Memanfaatkan Barang Bukti Narkoba untuk Dijual Kembali

Dari mana uang segitu? Gaji polisi jelas tidak cukup. Maka, jalan pintas pun diambil. Musuh negara (Bandar Narkoba) tiba-tiba berubah menjadi “Mitra Strategis”.

“Aturan mainnya bagaimana?”

Konon itulah kalimat sakti sang komandan saat dilapori ada bandar mau masuk. Kalimat itu bukan perintah penangkapan, melainkan sinyal dagang. Lampu hijau menyala, barang haram beredar, rekening gendut, dan rakyat jadi korban.

BACA JUGA :  Keluarga Wartawan Korban Pencurian Yang Jadi Tersangka Yang Merasa Dibohongi Kapolrestabes Medan Kirim Surat ke Presiden Prabowo, Komisi III DPR RI dan Kapolri !

 

BISNIS “FRANCHISE” KEJAHATAN

Kasus ini membuka kotak pandora yang mengerikan. Ternyata, bandar narkoba bisa masuk bukan karena polisi lengah, tapi karena polisinya “butuh dana” untuk melayani nafsu hedonisme pimpinannya.

Ini adalah Simbiosis Parasitisme yang sempurna. Bandar dapat perlindungan, Atasan dapat kemewahan, Bawahan dapat jabatan, Masyarakat dapat racunnya.

 

ALPHARD DI ATAS PENDERITAAN

Jika tuduhan ini terbukti benar, maka Alphard yang diimpikan itu sejatinya berbahan bakar air mata ibu-ibu yang anaknya sakau narkoba.

BACA JUGA :  LIPPSU Desak Bongkar Dalang Besar Dana Bobol Rp 123 M Di Bank Mandiri

Uang 1 Miliar itu adalah deviden dari kehancuran generasi muda di Sumbawa. Publik kini menunggu ketegasan Polri. Apakah “Presisi” hanya tajam ke bawah (masyarakat) tapi tumpul ke atas (pewira menengah)?

Jangan sampai institusi ini rusak hanya karena nila setitik—ah maaf, ini bukan setitik, ini sebelanga besar bernama “Keserakahan”.

 

Penulis: Lhynaa Marlinaa (Marlina) https://www.facebook.com/share/1CtvyzonYV  Daily Vlog | News Agregator | Citizen Journalist

By: Syafaruddin Sikumbang,