MEDAN, PROMEDIA. NEWS – Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) menyoroti berbagai polemik yang menyeret nama Teddy Indra Wijaya atau Mayor Teddy dalam beberapa waktu terakhir. Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari AM Sinik, Rabu (13/5), menyebut sorotan terhadap Sekretaris Kabinet itu menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap figur-figur di lingkaran kekuasaan.
“Ini seperti roda copot yang lepas dari kendaraan yang terus mengejar Teddy, yakni ketika seseorang bergerak cepat dari lingkungan militer menuju pusat kekuasaan negara, maka pengawasan publik juga otomatis ikut mengejar. Ini menjadi konsekuensi jabatan publik,” ujar Azhari di Medan.
Menurutnya, polemik yang berkembang terhadap Teddy tidak bisa dilepaskan dari perjalanan kariernya yang terbilang cepat hingga masuk ke lingkar Istana Negara. Teddy diketahui merupakan lulusan Akademi Militer tahun 2011 dan pernah bertugas di pasukan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Perjalanan Teddy mulai menjadi perhatian publik ketika dipercaya menjadi asisten ajudan Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada periode 2014–2019. Setelah itu, ia menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat dan mendapatkan sejumlah penghargaan pendidikan militer internasional.
Sepulang dari Amerika Serikat, Teddy kemudian dipercaya mendampingi Prabowo Subianto saat masih menjabat Menteri Pertahanan. Kedekatan profesional itu terus berlanjut hingga masa Pilpres 2024 dan setelah Prabowo dilantik menjadi Presiden RI, Teddy resmi ditunjuk sebagai Sekretaris Kabinet pada 21 Oktober 2024.
LIPPSU menilai perjalanan karier tersebut menjadi alasan mengapa sosok Teddy kini terus menjadi perhatian publik, termasuk ketika muncul sejumlah isu dan tudingan di media sosial maupun kanal politik nasional.
Beberapa waktu terakhir, nama Teddy ramai diperbincangkan setelah politikus senior Amien Rais melontarkan kritik dan tudingan terkait dugaan penyalahgunaan kewenangan di lingkungan Istana, termasuk soal penyaringan tamu presiden dan kedekatan profesional dengan Presiden Prabowo.
Bantahan
Namun tudingan tersebut langsung menuai bantahan dari berbagai pihak. Sejumlah pengamat menilai kritik Amien Rais terlalu jauh masuk ke ranah pribadi dan tidak didukung bukti yang kuat. Bahkan, isu lain yang menyeret Teddy, mulai dari tudingan orientasi seksual hingga isu mistis seperti penggunaan “susuk”, disebut sebagai narasi hoaks dan fitnah yang berkembang di media sosial.
Pemerintah melalui sejumlah pejabat negara juga telah memberikan klarifikasi. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, M. Qodari, menyebut sebagian narasi yang beredar berasal dari video manipulatif berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dipotong dan disebarluaskan tanpa konteks. Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menegaskan tudingan moral terhadap Teddy tidak benar dan meminta publik tidak mudah terprovokasi disinformasi.
Kementerian Komunikasi dan Digital juga disebut telah mengambil langkah pemblokiran terhadap sejumlah konten yang dianggap mengandung unsur fitnah dan pencemaran nama baik.
Aktif
Di tengah polemik tersebut, Teddy sendiri tetap aktif menjalankan tugasnya sebagai Sekretaris Kabinet. Ia beberapa kali muncul memberikan respons terkait isu nasional, termasuk menegaskan situasi nasional dalam kondisi terkendali dan meminta publik tidak mudah terpancing narasi yang berpotensi memecah belah.
Azhari menilai perdebatan yang terjadi harus menjadi pelajaran penting bagi demokrasi Indonesia. Menurutnya, kritik terhadap pejabat publik tetap diperlukan, namun harus berbasis data dan fakta, bukan fitnah atau serangan personal.
“Demokrasi memang membuka ruang kritik, tetapi jangan sampai ruang publik dipenuhi narasi manipulatif, hoaks, dan pembunuhan karakter. Itu justru berbahaya bagi kualitas demokrasi kita,” pungkasnya.
*Kronologis Perjalanan Jabatan Teddy Indra Wijaya*
– Pendidikan Militer dan Awal Karier (2011)
Teddy Indra Wijaya merupakan lulusan Akademi Militer tahun 2011 setelah sebelumnya menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Setelah lulus, ia memulai karier militer di lingkungan Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
– Komandan Peleton Kopassus (2011–2014)
Pada awal penugasannya, Teddy menjabat sebagai Komandan Peleton (Danton) di satuan Kopassus. Posisi ini menjadi batu loncatan awal dalam karier militernya.
– Asisten Ajudan Presiden Joko Widodo (2014–2019)
Saat berpangkat Letnan Satu (Lettu), Teddy dipercaya menjadi asisten ajudan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Jabatan ini membuatnya mulai dikenal luas di lingkungan Istana Kepresidenan karena mendampingi aktivitas Presiden selama hampir lima tahun.
– Pendidikan Militer di Amerika Serikat (2019–2020)
Teddy kemudian dikirim mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Ia lulus dari US Army Infantry School dan mendapat predikat International Honor Graduate. Selain itu, ia juga mengikuti pendidikan elite di US Army Ranger School pada 2020.
– Ajudan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (2020–2024)
Setelah kembali ke Indonesia dengan pangkat Kapten, Teddy dipercaya menjadi ajudan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sejak September 2020. Kedekatan profesional itu terus berlangsung hingga masa Pilpres 2024.
– Wakil Komandan Yonif Para Raider 328/Dirgahayu (Februari 2024)
Teddy kemudian dipromosikan menjadi Wakil Komandan Batalyon Infanteri (Wadanyonif) Para Raider 328/Dirgahayu dengan pangkat Mayor.
– Sekretaris Kabinet Republik Indonesia (21 Oktober 2024)
Setelah Prabowo resmi dilantik sebagai Presiden RI, Teddy ditunjuk menjadi Sekretaris Kabinet (Seskab) Kabinet Merah Putih. Penunjukan ini menjadikannya salah satu Seskab termuda dalam sejarah Indonesia.
– Kenaikan Pangkat Letnan Kolonel (2025)
Saat menjabat Seskab, Teddy memperoleh kenaikan pangkat reguler percepatan menjadi Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri berdasarkan surat keputusan internal TNI AD per 25 Februari 2025.
Laporan : Suardi, SH






