DARI GARUDA TURUN KE DAPUR: Dongeng “Ratu Panci” Beromzet 63 Miliar

Tulisan : Lhynaa Marlinaa (Marlina)

Nasional151 Dilihat

Jakarta, 13 Februari 2026.

JAKARTA, PROMEDIA.NEWS |

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) baru seumur jagung, tapi konon sudah melahirkan seorang “Ratu”.

Namanya Yasika Aulia. Narasi yang beredar membuat bulu kuduk merinding: Mengelola 41 Dapur, dengan omzet Rp 63 Miliar per bulan.

Gaya hidupnya? Bolak-balik luar negeri.

Di saat ribuan emak-emak pemilik katering rumahan dan warteg berharap dapat cipratan orderan barang 50-100 porsi, ada satu orang yang memborong rezeki setara APBD satu kabupaten.

 

KEAHLIAN ATAU KONEKSI? 🤔

Pertanyaan publik sederhana:

BACA JUGA :  TAK BERGEMING DITENGAH GUGATAN DAN LAHAN KORUPSI DI PROYEK MBG

Apakah 41 dapur itu dikelola karena keahlian manajemen logistik level dewa? Atau karena faktor “X”?

Judul beritanya memberi petunjuk nakal: “Ternyata Ayahnya Ada di Lambang Garuda.”

Jika “Garuda” yang dimaksud adalah simbol kekuasaan atau partai tertentu (lihat logo di foto), maka ini menjelaskan segalanya.

Ini bau anyir Konflik Kepentingan.

Ketika proyek negara yang didanai pajak rakyat, justru jatuh ke tangan keluarga penguasa/partai, maka kompetisi yang adil sudah mati.

 

OBESITAS REKENING DI TENGAH ISU STUNTING

Program MBG tujuannya mulia: Mencegah stunting (gizi buruk) pada anak-anak.

BACA JUGA :  Ikut BoP Dan Proyek MBG Apa Manfaatnya?

Tapi ironisnya, yang terlihat “sehat dan makmur” duluan justru rekening pengelolanya. Rp 63 Miliar per bulan.

Bayangkan berapa banyak UMKM lokal yang bisa hidup jika angka itu dipecah ke 1.000 pengusaha kecil, bukan dimonopoli satu orang.

Ini bukan lagi pemberdayaan ekonomi rakyat, ini adalah Oligarki Nasi Bungkus.

 

UJIAN BAGI “SI GEMOY”

Pak Presiden pernah bilang, jangan ada yang main-main dengan uang rakyat.

Kasus “Ratu MBG” ini adalah ujian nyata. Apakah jargon “Kebocoran Anggaran” yang dulu sering diteriakkan, kini justru terjadi di halaman rumah sendiri?

BACA JUGA :  OPINI: KETIKA RI-1 "HERAN", PROFESOR "JAGAIN GAWANG"

Rakyat tidak rela jika pajak mereka yang dipotong 12% itu hanya berakhir menjadi tiket liburan ke luar negeri bagi anak-anak “Orang Dalam”.

Kami dukung anak-anak makan kenyang. Tapi kami menolak kenyang itu dinikmati sendirian oleh mereka yang berlindung di bawah ketiak Garuda.

 

Penulis: Lhynaa Marlinaa (Marlina) https://www.facebook.com/share/1CtvyzonYV  Daily Vlog | News Agregator | Citizen Journalist

By: Syafaruddin Sikumbang,