LAPORAN KHUSUS; Piring Emas-Otak Lemas: Membedah Paradoks Anggaran Triliunan dan Anjloknya Skor TKA 2026

News78 Dilihat

JAKARTA, PROMEDIA.NEWS | Data terbaru Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2026 telah menjadi lonceng kematian bagi narasi manis pemerintah. Di balik angka-angka statistik yang dingin, tersimpan realitas pahit: ada jurang menganga antara triliunan rupiah yang digelontorkan dengan kualitas kognisi siswa yang justru terjun bebas. Laporan ini merupakan bedah forensik atas apa yang kami sebut sebagai “Stunting Intelektual” yang dilegalkan negara.

 

1. Paradoks Stella: Ketika Sains Bertabrakan dengan Realitas

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknlogi; Stella Christie kerap menggaungkan optimisme bahwa asupan gizi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan menjadi katalisator fungsi kognitif, terutama pada kemampuan kuantitatif dan matematika. Namun, data TKA 2026 berkata lain.

Temuan: Skor Matematika dan Logika Analitik nasional justru merosot tajam antara 12% hingga 15% dibandingkan tahun sebelumnya.

Analisis: Gizi tidak bisa bekerja secara instan dalam ekosistem pendidikan yang sedang kolaps. Klaim tersebut kini terlihat lebih seperti “Pseudo-Science Marketing” yang digunakan untuk menjustifikasi anggaran jumbo Badan Gizi Nasional (BGN).

BACA JUGA :  OPINI: KETIKA RI-1 "HERAN", PROFESOR "JAGAIN GAWANG"

Indikasi Malapraktik: Muncul dugaan bahwa kualitas protein yang sampai ke meja siswa adalah “kualitas sisa” akibat rantai markup kartel vendor. Sinapsis saraf tidak akan terbangun dari asupan ampas; yang terbangun justru hanyalah saldo rekening para makelar.

 

2. Infrastruktur Mati vs Investasi Manusia

Pemerintah tampaknya lebih terobsesi pada benda mati daripada kualitas otak anak negeri. Dalam 1,5 tahun terakhir, arah kebijakan terlihat melenceng jauh dari substansi kurikulum.

Ironi Laptop: Pengadaan laptop senilai Rp60 juta per unit dan motor listrik siluman menjadi sorotan. Laptop mahal tersebut terindikasi hanya menjadi alat input data kehadiran fiktif dalam sistem IT yang dikelola secara tertutup.

Kontras Anggaran: Harga satu laptop tersebut setara dengan gaji satu tahun bagi 10 guru honorer di Yogyakarta. Di saat teknologi dipuja sebagai solusi, kesejahteraan pendidik justru terabaikan.

 

BACA JUGA :  Ikut BoP Dan Proyek MBG Apa Manfaatnya?

3. Yogyakarta: Laboratorium Kegagalan Sistemik

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi bukti paling telak. Sebagai wilayah dengan alokasi alat makan mencapai Rp4,1 Triliun dan biaya operasional dapur yang fantastis, DIY seharusnya menjadi standar emas keberhasilan.

Anomali Data: Skor rata-rata Matematika di DIY justru anjlok 14,2%—angka terendah dalam lima tahun terakhir.

Temuan Lapangan: Meski anggaran piring dan sendok mencapai angka triliunan, menu harian siswa tetap didominasi karbohidrat berlebih. Protein berkualitas tinggi yang dijanjikan menguap dalam jalur pengadaan vendor B-Food yang sarat kepentingan.

Kesimpulan Auditor: Dana tersebut habis di “Infrastruktur Mati” yang menjadi lahan basah korupsi, sementara “Infrastruktur Hidup” (gizi dan stimulus belajar) hanya mendapat sisa-sisa.

“Matematika pejabat jago dalam hal markup, tapi matematika siswa hancur karena gizinya hanya ‘gizi kertas’.”

 

4. Disonansi Data: Manipulasi vs Realitas

Terdapat jurang persepsi yang diciptakan melalui kanal-kanal komunikasi publik. Survei Poltracking menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap program MBG mencapai 75,1%.

BACA JUGA :  KAMAK Apresiasi Kejagung atas Mutasi dan Evaluasi Kejatisu dan Kejari Karo

Namun, hasil TKA adalah realitas objektif yang tidak bisa disogok. Kepuasan publik adalah hasil dari mesin propaganda dan pembentukan persepsi, sementara skor akademik adalah bukti nyata kegagalan intelektual yang sistemik. Wamen Stella kini berada di posisi sulit; gelar akademisnya tidak lagi mampu membungkus kebijakan yang secara empiris gagal total di lapangan.

Penutup: Kejahatan Terhadap Peradaban

Membuang Rp4,1 Triliun untuk piring di saat skor akademik terjun bebas bukan sekadar kesalahan administratif. Ini adalah bentuk Kejahatan Terhadap Peradaban. Kita sedang menyaksikan sebuah generasi yang masa depannya ditukar dengan tumpukan piring plastik demi memperkaya segelintir elit.

Negara ini tidak butuh piring emas jika hanya digunakan untuk menyajikan ampas kepada pemilik masa depan. Kini, data telah bicara, dan narasi tidak bisa lagi berbohong.

Status: Kebohongan Akademik Terbongkar.

Penulis: Lhynaa Marlinaa (Marlina)  https://www.facebook.com/share/1CtvyzonYV Daily Vlog | News Agregator | Citizen Journalist

By: Syafaruddin Sikumbang.