Medan, 31 Desember 2025.
MEDAN, PROMEDIA.NEWS — Polemik internal Partai Golkar Sumatera Utara yang berujung pada pencopotan Ketua DPD Golkar Sumut Musa Rajekshah (Ijeck) dan penunjukan Ahmad Doli Kurnia Tanjung sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Golkar Sumut menjadi perbincangan hangat publik menjelang akhir 2025. Isu ini bahkan menjadi trending topik dengan narasi keterlibatan “Keluarga Solo” dalam manuver politik Golkar Sumut.
Topik tersebut mengemuka dalam tayangan kanal YouTube Off The Record FNN berjudul “Demi Bobby 2029, Jokowi Obrak-Abrik Golkar Sumut! Pratikno Masih Tergopoh-gopoh Sowan Mulyono”, yang disiarkan pada 29 Desember 2025 dan dipandu wartawan senior Agi Betha dan Hersubono Arief.
Dalam diskusi tersebut, Agi Betha menyoroti kondisi ekonomi global yang dinilainya sedang memburuk. Ia menyebut target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 hingga 8 persen sulit tercapai di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, situasi politik yang saling tarik-menarik menjelang kontestasi 2029 justru dinilai tidak sensitif terhadap kondisi riil masyarakat.
“Hebat betul kita ini, sudah memikirkan 2029, padahal 2026 saja kita masih repot,” ujar Agi Betha dalam tayangan tersebut.
Polemik mencuat setelah Musa Rajekshah—yang disebut memiliki basis kuat di Sumatera Utara dan dinilai berhasil membawa Golkar menang pada Pemilu 2024—dicopot dari jabatannya dan digantikan Ahmad Doli Kurnia Tanjung sebagai Plt Ketua DPD Golkar Sumut. Pergantian ini menuai reaksi dari sejumlah tokoh Golkar senior.
Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Sumut Muhyan Tambuse mempertanyakan alasan pencopotan tersebut. Ia menilai peran Musa Rajekshah selama ini sangat besar dalam membesarkan Golkar di Sumatera Utara. Menurutnya, penunjukan Plt sebelum adanya jadwal Musyawarah Daerah (Musda) dinilai tidak lazim dan belum diterima secara administratif oleh Sekretariat DPD Golkar Sumut.
Pandangan serupa disampaikan Riza Fakrumi Tahir, yang menilai pencopotan Musa Rajekshah merupakan bagian dari skenario untuk melemahkan Golkar di Sumatera Utara. Ia menyebut langkah tersebut berpotensi menggerus soliditas partai menjelang kontestasi politik berikutnya.
Isu ini juga dikaitkan dengan dinamika Pilgub Sumut 2029. Sejumlah pengamat menilai Musa Rajekshah memiliki basis akar rumput yang kuat dan dinilai dapat menjadi “batu kerikil” bagi langkah Bobby Nasution—menantu Presiden RI ke-7 Joko Widodo—yang disebut-sebut berpotensi maju kembali sebagai Gubernur Sumatera Utara untuk periode kedua.
Sorotan tajam datang dari Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU). Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari A.M. Sinik, menilai penunjukan Ahmad Doli Kurnia Tanjung sebagai Plt Ketua DPD Golkar Sumut sarat kepentingan politik dan mencerminkan intervensi kekuasaan.
“Ini bukan lagi bau amis, tapi bau busuk kekuasaan. Jokowi dinilai masih mencengkeram Golkar meski sudah tidak lagi menjabat presiden,” ujar Azhari dalam keterangannya, Jumat (19/12).
Azhari juga menyoroti kedekatan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan Joko Widodo. Ia menduga hubungan tersebut menjadi bagian dari skenario untuk mengamankan kepentingan politik keluarga, khususnya dalam konteks Pilgub Sumut mendatang. Ia bahkan menyebut Bahlil sebagai figur yang memiliki pengaruh kuat dalam dinamika internal Golkar.
Di sisi lain, polemik ini juga menuai kritik karena terjadi di tengah Sumatera Utara yang sedang dilanda bencana alam. Sejumlah pihak mempertanyakan prioritas elite politik nasional yang dinilai lebih sibuk dengan manuver kekuasaan ketimbang menunjukkan empati langsung kepada masyarakat terdampak bencana.
Menyikapi perkembangan tersebut, LIPPSU menilai isu “obrak-abrik Golkar” yang menjadi tren sepanjang 2025 tidak boleh hanya dicermati, tetapi juga harus dihadapi secara kritis oleh kader dan masyarakat demi menjaga marwah demokrasi dan kemandirian partai politik.
By : Syafaruddin Sikumbang






