MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Minggu (24/5), mengkritik keras kembali terjadinya gangguan distribusi air bersih yang membuat pelayanan Perumda Tirtanadi terganggu di sejumlah wilayah Kota Medan dan sekitarnya.
Menurut Azhari, pola yang terjadi di Perumda Tirtanadi mulai mirip dengan persoalan blackout dan pemadaman listrik berulang yang terjadi di PLN, yakni gangguan terus terjadi, permohonan maaf disampaikan, namun keesokan harinya persoalan serupa kembali terulang.
“Jangan sampai Tirtanadi mengikuti pola PLN. Hari ini mati air, besok minta maaf, lusa kejadian lagi. Masyarakat akhirnya melihat ini bukan lagi gangguan biasa, tetapi ada persoalan serius dalam manajemen dan sistem antisipasi,” tegas Azhari.
Ia mengatakan, masyarakat sudah terlalu sering menerima alasan klasik seperti gangguan teknis, perbaikan instalasi, penurunan tekanan air hingga dampak pemadaman listrik. Namun di sisi lain, langkah konkret untuk mencegah kejadian berulang dinilai belum terlihat nyata.
“Kalau gangguan yang sama terus berulang, berarti evaluasi mereka tidak berjalan maksimal. Jangan setiap krisis hanya sibuk membuat permohonan maaf tanpa pembenahan total. Ini pelayanan publik, bukan sekadar formalitas,” ujarnya.
Azhari menilai, kondisi tersebut perlahan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan BUMD. Sebab, air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat yang menyangkut aktivitas rumah tangga, usaha kecil, rumah ibadah hingga layanan kesehatan.
Menurutnya, persoalan ini menjadi semakin serius karena masyarakat akan menghadapi Hari Raya Iduladha pada 27 hingga 29 Mei mendatang, di mana kebutuhan air bersih dipastikan meningkat tajam, terutama bagi panitia kurban di masjid dan lingkungan permukiman.
“Pada saat Hari Raya Haji, masyarakat sangat membutuhkan air. Panitia kurban perlu air untuk penyembelihan, membersihkan lokasi, mencuci daging dan kebutuhan konsumsi warga. Jangan sampai saat momentum ibadah besar seperti ini justru air mati lagi,” katanya.
Azhari menegaskan, Perumda Tirtanadi harus memastikan distribusi air berjalan normal menjelang dan selama Iduladha. Ia meminta manajemen tidak hanya mengeluarkan permohonan maaf apabila terjadi gangguan, tetapi benar-benar menyiapkan langkah antisipasi dan mitigasi yang matang.
“Rakyat tidak butuh permintaan maaf setiap hari. Yang dibutuhkan masyarakat adalah kepastian air mengalir normal dan tidak terus-menerus mati dengan alasan yang sama,” tegasnya lagi.
LIPPSU juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola kerja dan kesiapan manajemen Perumda Tirtanadi dalam menghadapi gangguan operasional.
“Jangan sampai kasus PLN terulang di Tirtanadi. Gangguan terjadi berulang, masyarakat dirugikan, lalu permintaan maaf dijadikan solusi utama. Intinya sekarang adalah pembenahan manajemen, SDM, jaringan dan peningkatan kualitas pelayanan, apalagi tanggal 27 s/d 29 Hari Kuban, khususnya Panitia Qurban membutuhkan air, dan air jangan sempat mati,” pungkasnya.
Laporan : Heriyanto






