Jembatan Roboh, Biarkan Siswa Sebrangi Pipa Tirtanadi Jatuh, Mana Tanggungjawab Pemko Medan ? “Cukup Bobby Nasution Saja Yang Bohong, Rico Jangan Ikutan”

Sumut146 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS | Direktur Eksekutif LIPPSU, Azhari AM Sinik, membuka hasil penelusuran lapangan terkait ambruknya jembatan penghubung di Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun.

Ia menegaskan kasus ini merupakan rangkaian pembiaran panjang yang kini memaksa pelajar mempertaruhkan nyawa setiap hari.

“Ini bukan kejadian tiba-tiba. Ini akumulasi kelalaian bertahun-tahun,” tegas Azhari, Minggu (19/4).

Azhari merespon video sejumlah siswa SMP 34 yang nekat menyeberangi Sungai Deli dengan berjalan di atas pipa air Tirtanadi.

Jembatan Roboh, Biarkan Siswa Sebrangi Pipa Tirtanadi Jatuh, Mana Tanggungjawab Pemko Medan ? “Cukup Bobby Nasution Saja Yang Bohong, Rico Jangan Ikutan”.

Dalam rekaman tersebut, para siswa tampak berjalan perlahan di atas pipa tanpa pengaman, dengan risiko terpeleset ke sungai.

Jarak dari sekolah yang berada di Jalan Zein Hamid Gg Perbatasan Baru No 6, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, ke jembatan itu tidak terlalu jauh.

“Ini bukti nyata. Anak-anak dipaksa jadi penyeimbang di atas pipa demi sekolah. Ini tidak boleh dianggap biasa,” katanya.

Ia menilai video tersebut sebagai alarm keras atas kondisi darurat keselamatan yang selama ini diabaikan.

BACA JUGA :  Topan Ginting Sudah Gol, Sikat Di Hilir Proyek Bau Amis Di PUPR

Sejak jembatan roboh, warga dan pelajar menggunakan pipa Perumda Tirtanadi sebagai jalur alternatif. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya, terutama saat hujan ketika permukaan pipa menjadi licin dan arus sungai meningkat.

Berdasarkan investigasi LIPPSU, jembatan yang roboh berada di Gang Perbatasan, Lingkungan IX, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan.

Jembatan ini melintasi Sungai Deli dan menghubungkan langsung wilayah Kelurahan Pangkalan Mansyur (Kecamatan Medan Johor) serta akses menuju kawasan Medan Polonia.

Jembatan ini merupakan bekas jalur perlintasan kereta api peninggalan zaman Belanda yang membentang sekitar 50-60 meter. Sejak roboh sepenuhnya pada Juli 2024, posisi pipa Tirtanadi yang sering diseberangi siswa berada tepat di samping atau sejajar dengan struktur jembatan yang ambruk tersebut.

Letaknya yang berada di kawasan padat penduduk dan minim jalur alternatif menjadikan jembatan ini sebagai akses utama dan tercepat bagi warga, khususnya pelajar.

Para siswa nekat menggunakan jalur ini karena jembatan eks perlintasan kereta api yang berada di Jalan Brigjend Katamso, Gang Perbatasan telah roboh sepenuhnya sejak Juli 2024.

BACA JUGA :  KAMAK Sumut Desak APH Usut Tuntas Dugaan Korupsi di Dinas PUPR Sumut

Pipa air Tirtanadi tersebut memiliki ketinggian sekitar 10 meter di atas permukaan sungai dan menjadi satu-satunya akses cepat bagi warga yang tidak memiliki biaya transportasi untuk mengambil jalur memutar yang jauh

Era kolonial menjadi awal keberadaan jembatan ini sebagai jalur rel kereta api yang kemudian dimanfaatkan warga.

Memasuki tahun-tahun sebelum 2024, kondisi jembatan dilaporkan semakin rapuh—besi berkarat, lantai kayu lapuk, serta terdampak banjir dan pohon tumbang.

 

Konstruksi Tua

Pada 2024, jembatan tersebut akhirnya ambruk akibat usia konstruksi yang tua dan tidak lagi mampu menahan beban. Sejak saat itu, akses warga terputus tanpa adanya pembangunan pengganti hingga 2026.

Azhari menyimpulkan adanya pembiaran sistemik, dualisme kewenangan antara PT KAI dan Pemko Medan, serta risiko nyata terhadap keselamatan warga yang terus berlangsung hingga kini.

“Kalau satu video saja sudah cukup menggambarkan ancaman nyawa, maka tidak ada alasan lagi untuk menunda. Jangan tunggu korban jatuh baru bergerak,” tegas Azhari.

BACA JUGA :  DIALOG PUBLIK PMPHI-SU; Pencabutan Izin 28 PT, Diperbolehkan Beroperasi Oleh Presiden Prabowo

Ia mendesak pemerintah segera membangun jembatan darurat, menyelesaikan persoalan status lahan, serta memastikan akses aman bagi pelajar.

“Ini soal keselamatan. Negara tidak boleh kalah oleh alasan administrasi,” tutupnya.

Selain itu, Azhari menilai langkah pemasangan pengaman di atas pipa oleh pihak terkait bukanlah solusi jangka panjang.

Ia menegaskan, tindakan tersebut hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan utama, yakni ketiadaan infrastruktur penghubung yang layak dan aman bagi masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi insiden yang lebih serius.

LIPPSU, kata Azhari, akan terus mengawal persoalan ini hingga pemerintah benar-benar membangun jembatan tersebut.

Dan kita minta Rico harus bangun tahun ini, jangan ikutan berbohong, cukup Bobby Nasution saja pejabat yang berbohong, pungkasnya.

Laporan : Suardi, SH.

Editor: Syafaruddin Sikumbang.