Dapur MBG Diduga Abaikan Dampak Lingkungan, Warga Dusun III Mekar Sari Terancam Banjir Permanen

Sumut197 Dilihat

DELI TUA, PROMEDIA.NEWS | Masyarakat Dusun III Desa Mekar Sari saat ini resah atas keberadaan Dapur MBG yang telah beroperasi di wilayah ini kini menuai keresahan serius. Dengan aktivitas pembuangan air limbah ke parit tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar dinilai sebagai bentuk ketidakpedulian yang berpotensi memicu konflik sosial.

Parit di Jalan Banteng Ujung saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Saluran air tersebut masih tertutup tanah dan batu akibat penimbunan sawah oleh pengusaha kaplingan, dan hingga kini belum dilakukan perbaikan.

BACA JUGA :  LIPPSU Desak Kejati Sumut Tetapkan Tiga Pejabat sebagai Tersangka Kasus Smart Board: “Ada Indikasi Inisiator Utama di Level Kepala Daerah”

Akibatnya, setiap aliran air yang masuk ke parit tidak dapat mengalir menuju Sungai Batuan sebagaimana mestinya. Kondisi ini diperparah dengan pembuangan air dari operasional Dapur MBG, yang membuat parit meluap ke badan jalan.

Ironisnya, meski tidak dalam kondisi hujan, genangan air tetap terjadi. Jalan berubah seperti kolam, dan dikhawatirkan jika hujan turun. Takut rumah warga menjadi korban. Situasi ini bukan hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat.

BACA JUGA :  Ketum DMDI Indonesia dan Ketua DMDI Sumut Gelar Pertemuan Silaturrahim, Bahas Persiapan Konvensyen DMDI ke-23 di Jakarta

Warga menilai, jika persoalan ini tidak segera ditangani secara serius oleh pemerintah daerah, maka potensi kemarahan masyarakat tidak dapat dihindari.

Kepala Desa Mekar Sari, Juliadi, disebut telah menerima laporan dari warga dan berjanji akan menegur pemilik Dapur MBG serta mencari solusi. Namun demikian, masyarakat berharap tindakan cepat dan nyata, bukan sekadar teguran.

Lebih memprihatinkan lagi, dampak terparah justru dirasakan oleh pihak lain di sekitar lokasi, termasuk dapur lain yang berada di hilir, tepatnya di Jalan Banteng Ujung No. 76, yang kini menjadi titik genangan paling parah setiap kali air meluap.

BACA JUGA :  LIPPSU: Siapa Aktor Intelektual Kredit Macet Bank Sumut dan Kemana Saja Mengalir Dananya?

Warga mendesak agar Bupati Deli Serdang turun langsung melihat kondisi ini.

Penanganan saluran drainase, penertiban usaha yang tidak memperhatikan lingkungan, serta tanggung jawab pengusaha kaplingan menjadi hal mendesak yang tidak bisa ditunda.

Jika dibiarkan, ini bukan lagi sekadar genangan air—melainkan awal dari bencana yang disengaja.

Laporan : Suardi.