“SURGA” Tempat Pulang yang Dirindukan atau Dilupakan?

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ragam59 Dilihat

Oleh : Ust Abdul Latif Khan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Dalam perjalanan hidup manusia, kita mengejar segala hal, hanya memuaskan nafsu tanpa henti, tapi sedikit kali waktu yang diberikan untuk Ruh Qolbi.

Di dunia ini, manusia berlari tanpa henti.

– Mengejar harta,
– Mengejar jabatan,
– Pujian, dan
– Kenikmatan yang fana.

Namun, di balik semua itu, ada satu tempat yang sering kita sebut, tetapi jarang benar-benar kita rindukan dengan sungguh-sungguh: Surga, itulah tujuan akhir setiap jiwa.

1. Surga:
Janji Allah yang
Pasti

Allah ﷻ berfirman:

> وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali ‘Imran: 133)

Surga bukan khayalan.
– Ia nyata.
– Ia disiapkan.
– Ia menunggu.

Pertanyaannya:
Apakah kita sedang berlari menuju ke sana, atau justru menjauh tanpa sadar?

BACA JUGA :  Haji Itu Bukan Status Sosial, Tapi Prosesi Kejujuranmu sebagai Hamba di Hadapan Rabb-mu

2. Gambaran Surga yang Tak Pernah Terbayangkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

> قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Allah berfirman: Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bayangkan, semua keindahan dunia ini hanyalah bayangan samar dari kenikmatan Surga.
Sungai mengalir tanpa keruh, istana tanpa retak, kebahagiaan tanpa luka.

Allah ﷻ juga berfirman:

> مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى
“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa: di dalamnya ada sungai-sungai air yang tidak berubah, sungai susu yang tidak berubah rasanya, sungai khamar yang lezat, dan sungai madu yang murni…”
(QS. Muhammad: 15)

BACA JUGA :  “Apakah Engkau Yakin Masih Hidup Sampai Siang, Wahai Ayah?”

3. Kenikmatan Tertinggi: Melihat Allah

Semua kenikmatan Surga, masih belum apa-apa dibanding satu hal ini:

> وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Qiyamah: 22–23)

Itulah puncak kebahagiaan: bertemu dengan Allah, yang selama ini kita sembah tanpa pernah melihat-Nya.

4. Jalan Menuju Surga Tidak Mudah

Rasulullah ﷺ bersabda:

> حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai (berat), sedangkan neraka diliputi oleh syahwat.”
(HR. Muslim)

Surga itu mahal, Ia dibayar dengan sabar, air mata, perjuangan melawan hawa nafsu, dan keikhlasan yang sering tak terlihat oleh manusia.

5. Renungan:
Kita Sebenarnya
Ingin Surga, atau
Dunia?

Kita berkata ingin Surga, namun shalat masih kita tunda.
Al-Qur’an masih jarang kita sentuh.
Dosa masih kita ulang tanpa tangis penyesalan.

BACA JUGA :  Fitnah Kubur dan Cara Selamat Darinya

Jika Surga benar-benar kita rindukan, mengapa langkah kita justru menjauh?

Penutup:
Sebuah Tangisan yang Terlambat Jangan Terjadi

Kelak, ada manusia yang menangis di depan pintu Surga
bukan karena tidak tahu jalannya, tetapi karena dulu ia tidak mau berjalan ke arahnya. Hari ini kita masih punya waktu.

Mari berdoa:

> اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu Surga dan segala yang mendekatkan kepadanya berupa ucapan dan amal. Dan kami berlindung kepada-Mu dari Neraka dan segala yang mendekatkan kepadanya berupa ucapan dan amal.”

Surga itu dekat…
Tapi hanya bagi mereka yang benar-benar berjalan menuju-Nya.

Editor : Ustad Ismail Chair Tanjung, S.PdI