Petani Disuruh Mikul Combine Harvester, Sama Beratnya dengan Mobil Fortuner, LIPPSU: Kalau Gibran yang Buat Mungkin Ringan Kayak Bakul Jamu “Wapres Sakit”

News101 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menilai pernyataan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang sempat salah memahami keluhan petani di Gorontalo harus menjadi pelajaran bagi setiap pejabat publik agar lebih cermat mendengar dan memahami persoalan masyarakat sebelum memberikan tanggapan.

Azhari menyampaikan hal itu menanggapi dialog Wakil Presiden dengan petani saat membuka Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, 20 Juni 2026. Dalam dialog tersebut, petani mengeluhkan sulitnya akses mesin combine harvester menuju sawah karena tidak tersedia box culvert atau jembatan. Akibatnya, para petani harus memikul tangga darurat agar mesin pemanen dapat melintas.

Namun, Gibran sempat mengira para petani memikul mesin combine harvester. Belakangan diketahui bahwa yang dipikul petani adalah tangga darurat sebagai jembatan sementara, bukan mesin pemanen yang berbobot sangat besar.

Menurut Azhari, kesalahpahaman tersebut menunjukkan pentingnya seorang pejabat mendengarkan penjelasan masyarakat secara utuh sebelum memberikan respons.

“Seorang pejabat publik harus benar-benar mendengar sampai tuntas sebelum memberikan respons. Kalau tidak, pesan yang diterima bisa berbeda dengan fakta di lapangan dan menimbulkan kebingungan di masyarakat,” ujarnya, Minggu (28/6).

BACA JUGA :  Hasil Survey KPK Sumut Jeblok, KKN Sudah Bersifat Struktural Dan Sistemik di Era Bobby Nasution

Azhari menegaskan, secara teknis mustahil satu atau dua orang petani memikul mesin combine harvester. Bahkan, tipe mini sekalipun memiliki bobot sekitar 800 kilogram hingga 1 ton atau setara dengan sebuah mobil kota seperti Honda Brio.

Sementara tipe yang banyak digunakan di Indonesia berbobot sekitar 2 hingga 3 ton, setara dengan mobil Toyota Fortuner atau Mitsubishi Pajero Sport.

“Kalau benar petani disuruh memikul combine harvester, sama saja menyuruh mereka memikul mobil. Karena itu, yang dipikul petani sebenarnya adalah tangga besi darurat sebagai jembatan agar mesin bisa masuk ke sawah,” kata Azhari.

Azhari mengatakan, jika benar yang dipikul petani adalah combine harvester, maka hal itu jelas tidak masuk akal. Pasalnya, mesin pemanen padi tersebut memiliki bobot mulai sekitar satu ton hingga tiga ton, setara dengan sebuah mobil. “Kalau petani sanggup memikul mesin itu, berarti mereka bukan petani lagi, melainkan manusia super,” ujarnya.

BACA JUGA :  Dua Pilihan Palsu dalam Ompreng MBG

Logika

Menurut Azhari, anggapan bahwa petani memikul combine harvester hanya mungkin terjadi jika menggunakan logika yang keliru.

“Kalau Gibran yang buat, mungkin memang combine harvester-nya ringan kayak bakul jamu. Tapi faktanya, mesin itu beratnya setara mobil Fortuner, sehingga yang dipikul petani hanyalah tangga darurat untuk dijadikan jembatan agar mesin bisa melintas ke sawah,” pungkasnya.

Ia menambahkan, komunikasi yang akurat akan melahirkan kebijakan yang tepat, sedangkan kesalahpahaman dapat mengaburkan substansi persoalan yang sebenarnya membutuhkan solusi. Karena itu, LIPPSU berharap peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi agar setiap aspirasi masyarakat dipahami secara utuh sehingga solusi yang diberikan pemerintah benar-benar menjawab persoalan riil di lapangan, khususnya di sektor pertanian.

Cakap Belepotan Di Sana Sini

2023 – Salah ucap “asam sulfat”

Saat membahas pencegahan stunting, Gibran menyebut “asam sulfat” padahal yang dimaksud adalah asam folat.

Ia kemudian mengakui kekeliruan tersebut dan meminta maaf.

2023 – Pembagian susu di Car Free Day (CFD)

BACA JUGA :  LIPPSU: Nama “Pak Menir” Muncul Kelola Kilang Padi Pemprovsu di Sergai

Pembagian susu gratis di kawasan CFD Jakarta menuai kritik karena dinilai bernuansa kampanye.

Ini bukan salah ucap, melainkan kontroversi tindakan.

2024 – Gimik dalam Debat Pilpres

Beberapa aksi, seperti berjalan mendekati lawan debat dan membungkuk melihat catatan lawan, memicu kritik publik.

Ini merupakan kontroversi gaya komunikasi, bukan salah ucap.

2026 – Salah paham keluhan petani di Gorontalo

Saat dialog pada Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Gibran sempat mengira petani memikul mesin combine harvester.

Faktanya, petani menjelaskan bahwa yang dipikul adalah tangga darurat untuk dijadikan jembatan agar mesin dapat masuk ke sawah.

Peristiwa ini lebih tepat disebut salah paham atau miskomunikasi, bukan salah ucap.

Catatan

Hingga saat ini, kasus “asam sulfat” pada 2023 merupakan contoh yang paling jelas dikategorikan sebagai salah ucap. Sementara peristiwa lain lebih banyak berupa salah paham dalam dialog, gaya komunikasi, atau kontroversi tindakan, bukan kekeliruan mengucapkan istilah, Wapres Sakit.

Penulis : Heriyanto