LIPPSU: Di Sini Sok Jadi Pahlawan Kesiangan, di Sana Raja Ulok, Masyarakat Jadi Korban Kalian Buat

Beda Penjelasan Gubsu dan Pertamina soal Antrean BBM di Sumut

News27 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari A.M Sinik, menyoroti perbedaan penjelasan antara Pertamina dan Gubernur Sumut Bobby Nasution terkait penyebab terganggunya distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang membuat masyarakat antre berjam-jam di sejumlah SPBU.

“Di sini sok jadi pahlawan kesiangan, di sana raja ulok. Masyarakat jadi korban kalian buat. Yang satu bilang konsumsi meningkat, yang satu bilang pengemudi diberhentikan massal. Jadi yang benar yang mana?” kata Azhari, Rabu (15/7).

Menurut Azhari Sinik, masyarakat tidak membutuhkan saling lempar penjelasan di tengah sulitnya mendapatkan BBM. Ia meminta Pertamina dan Pemprov Sumut terbuka menjelaskan akar persoalan yang sebenarnya kepada publik.

“Jangan masyarakat dibuat bingung. Antrean panjang terjadi di mana-mana, rakyat kehilangan waktu dan penghasilan. Tapi penjelasan yang muncul malah berbeda. Jangan pula tampil seolah-olah paling sibuk menyelesaikan persoalan setelah rakyat berhari-hari antre,” tegasnya.

Warga di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Utara hingga kini masih berjibaku mendapatkan BBM, terutama Pertalite. Antrean panjang kendaraan terjadi di berbagai SPBU dan membuat warga harus menunggu berjam-jam di tengah ketidakpastian pasokan.

Kondisi tersebut tidak hanya dikeluhkan warga Kota Medan. Pengendara di sejumlah daerah terpaksa berpindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya untuk mencari BBM. Sebagian datang sejak pagi dan bertahan dalam antrean, namun harus menelan kecewa ketika BBM keburu habis sebelum mendapat giliran.

BACA JUGA :  LIPPSU : Nilai Sarat Unsur Korupsi, Bapenda Sumut Diduga “Tembak” Iklan Pemutihan Pajak di Tiga Media Online.

Bagi pekerja, pengemudi angkutan, pedagang dan warga yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada kendaraan, gangguan BBM telah menambah beban. Waktu mencari nafkah terbuang di antrean, aktivitas usaha terganggu dan biaya operasional ikut terdampak.

Antrean BBM juga memaksa sebagian masyarakat menghentikan aktivitasnya. Warga harus memilih antara bekerja atau bertahan dalam antrean demi mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan yang digunakan mencari nafkah.

Situasi semakin berat bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota. Ketidakpastian pasokan membuat warga harus menempuh perjalanan mencari SPBU yang masih memiliki BBM, tanpa jaminan akan mendapatkan bahan bakar ketika tiba.

Di tengah kondisi tersebut, Pertamina menyebut antrean dan cepat habisnya BBM dipicu tingginya konsumsi selama masa libur sekolah.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan distribusi BBM ke seluruh SPBU di Sumut terus dioptimalkan.

“Monitoring terhadap kondisi stok dan penyaluran di seluruh Fuel Terminal serta SPBU terus dilakukan secara intensif agar distribusi berjalan optimal,” kata Fahrougi.

Pertamina juga mengaku telah menambah 15 unit mobil tangki dan 30 Awak Mobil Tangki (AMT) bantuan guna memperkuat distribusi BBM dari Fuel Terminal Medan menuju SPBU di berbagai wilayah Sumatera Utara.

BACA JUGA :  FERDY SAMBO; Judol 303, Pembunuhan dan Aliran Dana

Namun, penjelasan berbeda disampaikan Gubernur Sumut Bobby Nasution. Berdasarkan hasil koordinasinya dengan Pertamina, Bobby menyebut persoalan bukan terletak pada ketersediaan BBM, melainkan berkurangnya pengemudi mobil tangki akibat pemberhentian massal.

“Yang saya sampaikan dari hasil koordinasi dengan pihak Pertamina itu bukan kelangkaan BBM-nya. Tapi pengemudi yang antar BBM-nya terjadi pemberhentian massal,” kata Bobby di Kantor Pemprov Sumut, Selasa (14/7/2026).

Bobby mengatakan proses perekrutan pengemudi pengganti belum selesai. Pemprov Sumut kemudian meminta bantuan personel TNI dan Polri untuk sementara membantu distribusi BBM menggunakan mobil tangki ke SPBU.

“Jadi TNI-Polri ini untuk bisa mengganti sementara driver yang hari ini belum selesai perekrutannya. Jadi kami minta mulai malam ini dari TNI-Polri sudah ready untuk itu,” jelasnya.

Azhari Sinik menilai perbedaan penjelasan tersebut harus segera diluruskan. Sebab, kata dia, masyarakat yang menjadi pihak paling terdampak dari gangguan distribusi BBM.

“Pertamina bicara konsumsi, gubernur bicara pengemudi diberhentikan massal. Jangan rakyat dijadikan penonton dari ketidakjelasan kalian. Raja ulok jangan, pahlawan kesiangan pun jangan. Selesaikan masalah BBM ini, karena masyarakat yang kalian buat jadi korban,” pungkas Azhari.

TIPU SANA, ULOK DI SINI

10 Juli 2026: Kekosongan BBM mulai dirasakan di sejumlah SPBU Sumut.

BACA JUGA :  LIPPSU: Siapa Yang Bermain Api Di Tiga Paripurna Batal Di Deli Serdang

Antrean mulai mengular :
Warga harus menunggu berjam-jam untuk memperoleh Pertalite dan Solar.

Dampak meluas : Antrean terjadi di Medan, Deli Serdang, Binjai hingga Langkat.

Lalu lintas terganggu :
Antrean kendaraan meluber ke badan jalan dan memicu kemacetan.

Warga tersiksa : Pengendara bertahan di tengah panas dan hujan hingga berjam-jam.

Penjelasan awal Pertamina : Gangguan dikaitkan dengan lonjakan kebutuhan selama libur sekolah dan penyesuaian distribusi.

Isu sopir tangki mencuat :
Beredar kabar persoalan kerja dan hak/upah sopir tangki di tingkat vendor.

Bobby buka penyebab :
Gubernur Sumut menyebut stok BBM aman, tetapi distribusi terganggu akibat berkurangnya pengemudi dan adanya pemberhentian massal.

Penjelasan berbeda disorot :
Pernyataan Bobby memunculkan pertanyaan terhadap penjelasan awal Pertamina.

Pertamina membantah mogok: Pertamina menyebut persoalan sebagai penataan operasional dan manajemen sopir di tingkat vendor.

Terminal beroperasi 24 jam:

Fuel Terminal Medan Group dioperasikan nonstop mengejar ketertinggalan distribusi.

Armada dan AMT ditambah :
Mobil tangki serta awak pengemudi tambahan dikerahkan.

TNI-Polri turun tangan :
Personel disiapkan membantu sebagai pengemudi sementara dan mengamankan distribusi.

Alih suplai dilakukan: Pasokan diperkuat dari terminal penyangga untuk mempercepat pengiriman ke SPBU.

LIPPSU bereaksi: Pertamina diminta membuka akar persoalan secara jujur karena masyarakat telanjur dirugikan dan dibuat antre berhari-hari.

Laporan : Tim