Ketika Buka Puasa Bersama Masih Jauh dari Nilai Puasa Itu Sendiri

News252 Dilihat

Medan, 11 Maret 2026.

MEDAN, PROMEDIA,NEWS |Ada satu pemandangan yang sering kita lihat setiap Ramadhan.

  • Orang-orang berkumpul.
  • Meja dipenuhi makanan.
  • Tawa terdengar.
  • Foto diambil.

Status media sosial diperbarui. Semua tampak indah. Namanya buka puasa bersama.

Namun kadang ada satu pertanyaan yang pelan-pelan muncul di dalam hati: Apakah kebersamaan itu benar-benar lahir dari ruh puasa?. Atau hanya sekadar acara makan bersama yang dipindahkan waktunya ke maghrib?

 

Puasa Itu Bukan Sekadar Menahan Lapar

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad — dinilai hasan)

Hadits ini seperti cermin bagi kita. Karena puasa bukan hanya menahan lapar diperut. Puasa adalah menahan hati, menahan lisan, menahan ego. Jika setelah seharian menahan lapar, lalu ketika berbuka kita kembali kepada: Ghibah, pamer kemewahan, saling sindir, atau sekadar berlomba menunjukkan status, maka nilai puasa itu perlahan memudar.

BACA JUGA :  LIPPSU: Lagu Siti Mawarni Ya Incek, Gugah Kesadaran Kolektif Tabuh Genderang Perang Lawan Narkoba

 

Ketika Buka Puasa Berubah Menjadi Ajang Dunia

Kadang buka puasa bersama berubah menjadi: Ajang memperlihatkan siapa yang paling sukses, memperlihatkan makanan paling mahal, foto paling ramai, atau sekadar acara sosial tanpa ruh ibadah

Padahal orang yang berpuasa sejatinya sedang belajar kerendahan hati.

  • Ia baru saja merasakan bagaimana rasanya lapar.
  • Ia baru saja menyadari betapa banyak manusia yang hidup tanpa makanan yang cukup.
BACA JUGA :  Bupati Deli Serdang dan Wakilnya “Pecah Kongsi.?". Diduga Penyebabnya Masalah Penentuan Pejabat Eselon di Jajaran Pemkab DS

Seharusnya puasa melembutkan hati. Bukan justru membuat kita sibuk dengan dunia.

 

Ruh Buka Puasa yang Sesungguhnya

Buka puasa yang benar seharusnya sederhana.

  • Ada doa sebelum berbuka.
  • Ada rasa syukur saat air pertama menyentuh tenggorokan.
  • Ada keheningan hati ketika menyadari:

Allah masih memberi kita kesempatan hidup hari ini. Dan Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak ketika ia berbuka.” (HR. Tirmidzi)

Bayangkan… Di detik-detik itu langit terbuka doa diangkat ampunan ditawarkan.

Namun kadang kita justru sibuk dengan kamera, obrolan, dan hidangan.

 

Muhasabah Sebelum Kita Berbuka

Menjelang adzan maghrib, mari kita bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah puasaku hari ini mendekatkanku kepada Allah?
  • Apakah lisanku lebih terjaga?
  • Apakah hatiku lebih lembut kepada sesama?
  • Ataukah aku hanya menahan lapar… tanpa memperbaiki diri?
BACA JUGA :  Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis (19/2/2026)

Karena Ramadhan bukan sekadar bulan lapar.

 

Ramadhan adalah bulan perubahan hati

Ketika kita duduk di meja berbuka hari ini, mari kita ingat satu hal: Yang Allah lihat bukan banyaknya makanan di meja kita. Tapi perubahan hati di dalam dada kita.

Semoga Ramadhan ini tidak hanya membuat kita kenyang saat maghrib, tetapi juga membuat kita lebih dekat kepada Allah.

Allahumma taqabbal minna shiyamana wa qiyamana. Ya Allah, terimalah puasa dan ibadah kami.

Penulis: Ustad Abdul Latif Khan

By: Syafaruddin Sikumbang