Diduga Bank Sumut ‘Pengisap Darah’ ASN di Sumut

LIPPSU : Rekening ASN Diduga Terkunci, Pola Kredit Payroll Bank Sumut Disorot

Hukum76 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Belum usai dugaan kredit macet dan fiktif yang menimpa Bank Sumut, Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), menyoroti kembali persoalan yang ada di badan usaha milik daerah Bank Sumut, terkait keluhan ASN di sumatera utara, beberapa ASN yang dikonfirmasi menyatakan Di layar ponsel aplikasi M.Banking para aparatur sipil negara (ASN) di Sumatera Utara, satu pesan yang sama kembali muncul: *saldo tertahan, rekening tidak dapat digunakan untuk transaksi*.

Di balik notifikasi itu, muncul kegelisahan yang semakin meluas di kalangan pegawai negeri khususnya di sumatera utara yang menggantungkan hidup pada sistem gaji dan tunjangan daerah.

Fenomena ini mencuat bersamaan dengan tekanan cicilan kredit di Bank Sumut, bank daerah yang selama ini menjadi simpul utama kredit payroll ASN. Sejumlah ASN menyebut, rekening mereka masih menunjukkan saldo, namun tidak dapat ditarik, ditransfer, atau digunakan untuk transaksi digital.

“Di aplikasi tertulis saldo ada, tapi statusnya dibatasi, dan tidak bisa dilakukan transaksi, Tidak ada penjelasan resmi,” ujar seorang ASN di Medan, tegas Azhari A.M Sinik

Di atas kertas, skema payroll ASN adalah model ideal. Gaji tetap, potongan otomatis, risiko rendah bagi bank, dan akses kredit yang mudah bagi pegawai negeri. Namun dalam praktiknya, sistem ini membentuk ketergantungan berlapis: ASN bergantung pada tunjangan daerah, bank bergantung pada stabilitas pendapatan ASN, dan pemerintah daerah bergantung pada kelancaran sistem perbankan untuk menjaga sirkulasi ekonomi internalnya.

POLA YANG BERULANG:
GAJI MASUK, LANGSUNG HABIS

Di balik keluhan itu, pola yang sama terus berulang: gaji pokok masuk, lalu langsung terpotong cicilan kredit. Sementara tunjangan kinerja yang selama ini menjadi bantalan ekonomi justru tidak cair tepat waktu.

Dalam skema ini, ASN menjadi nasabah sekaligus debitur aktif, dengan sistem potong otomatis yang berjalan di latar belakang.

BACA JUGA :  Hasil Audit BPK, Ditemukan Dugaan Pemufakatan Jahat Dalam PT Pengembangan Investasi Riau (PIR), Rugikan Negara Miliaran Rupiah

Sejumlah pengamat menilai, model ini menciptakan ketergantungan ganda: pada bank sebagai kreditur dan pada pemerintah daerah sebagai pemberi tunjangan.

Ketika salah satu unsur tersendat, sistem langsung kehilangan keseimbangan.

BEBAN KREDIT PAYROLL:
SISTEM YANG TERLALU TERKUNCI

Skema kredit payroll ASN selama ini dianggap aman karena berbasis pendapatan tetap. Namun dalam praktiknya, risiko tersembunyi justru muncul dari keterlambatan tunjangan dan akumulasi kredit konsumtif.

Menurut Azhari A.M Sinik dalam beberapa kasus yang diperoleh tim LIPPSU dari berbagai sumber lapangan, satu ASN dapat memiliki lebih dari satu fasilitas kredit aktif, mulai dari multiguna, kendaraan, hingga pinjaman konsumtif lain.

Ketika seluruh cicilan berjalan otomatis, ruang likuiditas rumah tangga ASN menjadi sangat tipis.

“Masalahnya bukan hanya kredit. Tapi sistem yang terlalu mengunci pendapatan masa depan,” ujar Azhari A.M Sinik.

ISU “SALDO TERTAHAN” DAN KETIDAKJELASAN MEKANISME

Keluhan terbaru muncul dari istilah yang tertera di m-banking:

Saldo tertahan atau rekening dibatasi sementara.

Meski secara teknis perbankan istilah ini bisa berkaitan dengan pengamanan risiko atau status kredit tertentu, tidak ada penjelasan terbuka dari pihak bank mengenai kondisi yang dialami nasabah ASN.

Menurut Azhari A.M Sinik, Ketiadaan klarifikasi ini membuat istilah teknis berubah menjadi persepsi publik: pembatasan akses rekening dan menambah celah buruknya tata kelola Bank Sumut dimana disisi lain para pelaku kredit macet di Bank Sumut tak kunjung ditindak.

SOROTAN BERGESER KE RISIKO SISTEMIK

Di tengah kondisi tersebut, perhatian mulai bergeser dari keluhan individu menuju potensi risiko yang lebih luas: Ketergantungan portofolio kredit bank daerah pada segmen ASN.

Jika benar terjadi tekanan pada pembayaran cicilan secara bersamaan akibat keterlambatan tunjangan, maka dampaknya tidak lagi bersifat personal, melainkan dapat memengaruhi kualitas kredit secara agregat.

BACA JUGA :  LIPPSU: Kapan Kadis Kominfo Medan Arrahman Pane Cium Dinding Penjara Dugaan Korupsi Proyek Pengadaan Jaringan Internet Rp15 Miliar

Namun hingga kini, tidak ada data resmi yang dipublikasikan ke ruang publik mengenai kondisi riil portofolio tersebut.

DESAKAN AUDIT MENGUAT

Direktur Eksektutif LIPPSU Azhari A.M Sinik menilai situasi ini tidak bisa dibiarkan hanya menjadi isu keluhan nasabah.

Azhari A.M Sinik dengan tegas mendorong adanya audit dan klarifikasi dari, Otoritas Jasa Keuangan terkait perlindungan nasabah dan praktik pembatasan rekening, Bank Indonesia terkait stabilitas sistem pembayaran daerah, dan meminta Aparat penegak hukum jika ditemukan indikasi pelanggaran tata kelola kredit atau transparansi informasi untuk melakukan penindakan secara hukum.

KEKOSONGAN INFORMASI YANG MEMPERLUAS SPEKULASI

Hingga berita ini diturunkan, Bank Sumut belum memberikan penjelasan resmi terkait keluhan “saldo tertahan” maupun kondisi kredit di segmen ASN.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga belum membuka data keterlambatan tunjangan secara detail.

Kekosongan informasi inilah yang kemudian menjadi ruang tumbuhnya spekulasi dari isu teknis perbankan hingga dugaan tekanan sistemik dalam pembiayaan daerah, tegas Direktur Eksekutif Azhari A.M Sinik.

PENUTUP:
SISTEM YANG MULAI RETAK DI TITIK PAYROLL

Yang sedang terlihat bukan sekadar persoalan rekening yang dibatasi dan di blokir. Ini adalah gambaran dari sistem yang saling terhubung terlalu erat: gaji, tunjangan, dan kredit.

Ketika satu komponen terganggu, efeknya menjalar cepat ke seluruh ekosistem. Dan di tengah ketidakjelasan itu, ASN menjadi pihak yang paling awal merasakan tekanannya.

Selama bertahun-tahun, kredit payroll ASN dianggap sebagai “segmen aman”.

Alasannya sederhana:

Pendapatan pegawai negeri relatif stabil dan pemotongan dilakukan langsung dari sumber gaji. Namun asumsi itu mengabaikan satu variabel penting: tunjangan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian utama dari struktur pendapatan ASN modern.

Azhari A.M Sinik menilai Masalahnya bukan hanya pada istilah teknis, tetapi pada ketiadaan komunikasi yang memadai. Dalam ruang kosong informasi, interpretasi publik selalu bergerak lebih cepat daripada klarifikasi resmi.

BACA JUGA :  PERMAK Desak Kejati Sumut Tetapkan Faisal Hasrimy Tersangka Korupsi Smart Board dan Meubilair Disdik Tahun 2024 senilai Rp50 miliar

Yang lebih mengkhawatirkan adalah perubahan skala risiko. Jika benar terjadi tekanan pembayaran pada segmen ASN secara simultan, akibat keterlambatan tunjangan dan beban kredit konsumtif, maka risiko tidak lagi berhenti pada individu, melainkan berpotensi menjadi risiko portofolio.

Dalam sistem perbankan, konsentrasi kredit pada satu segmen, seperti ASN selalu membawa konsekuensi:

Ketika segmen itu terganggu, dampaknya tidak menyebar perlahan, tetapi bisa terkonsentrasi dan cepat terlihat dalam kualitas aset.

Krisis Kepercayaan yang Diam-diam Tumbuh

Yang sedang kita hadapi bukan sekadar isu teknis perbankan atau keterlambatan administrasi pemerintah daerah. Ini adalah krisis kepercayaan yang tumbuh perlahan: kepercayaan ASN terhadap sistem penggajian, kepercayaan bank terhadap stabilitas fiskal daerah, dan kepercayaan publik terhadap transparansi pengelolaan keuangan. Tanpa keterbukaan data yang memadai, ruang spekulasi akan selalu lebih kuat daripada penjelasan resmi.

Negara, Bank, dan ASN dalam Satu Sistem yang Sama

Ada ironi yang sulit diabaikan:

ASN adalah aparatur negara, tetapi secara finansial mereka berada dalam posisi paling rentan dalam rantai sistem ini. Gaji mereka dikelola negara, tunjangan bergantung pada kebijakan daerah, dan kredit mereka dikelola oleh bank daerah.

Saatnya Membuka Kotak Hitam Payroll ASN

Sudah saatnya skema payroll ASN tidak lagi diperlakukan sebagai mekanisme teknis semata. Ia adalah infrastruktur keuangan publik yang menyangkut jutaan orang dan stabilitas ekonomi daerah.

“Tanpa audit menyeluruh, transparansi data, dan evaluasi model kredit yang terlalu terkonsentrasi, kita hanya akan terus melihat gejala yang sama berulang: rekening yang dibatasi, dan ASN yang menanggung beban dari sistem yang tidak pernah benar-benar mereka kendalikan,” tegas Azhari A.M Sinik.

Laporan : Zahrul