LIPPSU: Infrastruktur IPAL Deli Tua Tirtanadi Sudah Uzur, Bocor Di Sana Sini Sampai Kapan Diperbaiki

Sumut255 Dilihat

MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Kembali terjadinya kebocoran pipa Jaringan Distribusi Utama (JDU) berdiameter 1.000 mm milik Perumda Tirtanadi di Jalan Purwo Gang Family, Delitua, Kabupaten Deli Serdang, memicu kritik dari kalangan pemerhati pembangunan. Gangguan yang berdampak pada ribuan pelanggan tersebut dinilai menunjukkan belum tuntasnya persoalan infrastruktur air bersih yang selama bertahun-tahun terjadi di jalur distribusi utama Delitua.

Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Selasa (9/6/2026), menilai kebocoran pipa induk di kawasan Delitua bukan lagi kejadian insidental, melainkan persoalan berulang yang hingga kini belum terselesaikan secara permanen.

“Setiap kali terjadi kebocoran, masyarakat menerima informasi gangguan distribusi air dan permohonan maaf dari perusahaan. Namun yang menjadi pertanyaan, kapan akar persoalan jaringan pipa tua ini benar-benar diselesaikan?” ujar Azhari.

Berdasarkan catatan berbagai kejadian sebelumnya, gangguan pada jalur pipa induk Delitua telah berulang kali terjadi. Pada April 2016, pipa transmisi utama pecah di Jalan Pamah Delitua dan mengganggu kapasitas distribusi air. Kemudian pada Oktober 2017 terjadi kebocoran besar pada pipa berdiameter 1.000 mm di kawasan Jalan Purwo Gang Anyelir/Jalan Stasiun Kereta Api Duren Delitua.

Selanjutnya pada April 2025 kembali terjadi gangguan pada jalur distribusi sumber air yang berdampak terhadap pasokan pelanggan di wilayah Delitua dan Medan Kota. Terbaru, pada Juni 2026, kebocoran kembali ditemukan pada JDU berdiameter 1.000 mm di Jalan Purwo Gang Family Delitua.

BACA JUGA :  Kanwil Kemenagsu, Katanya Komitmen Transparansi dan Integritas

Menurut berbagai penjelasan teknis yang pernah disampaikan Perumda Tirtanadi, sejumlah faktor menjadi penyebab kerusakan berulang tersebut. Di antaranya usia jaringan pipa yang telah tua, tekanan air yang tinggi pada jalur distribusi utama, getaran akibat lalu lintas kendaraan berat di atas jalur pipa, serta kondisi jaringan yang berada di kawasan permukiman padat sehingga menyulitkan peremajaan secara menyeluruh.

LIPPSU menilai kondisi tersebut seharusnya sudah menjadi dasar bagi perusahaan untuk menyusun langkah penyelesaian jangka panjang. Sebab selama ini penanganan yang dilakukan masih didominasi perbaikan darurat atau tambal sulam setelah kebocoran terjadi.

“Kalau penyebabnya sudah diketahui bertahun-tahun, mengapa persoalan pokoknya belum juga dituntaskan. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban gangguan air yang berulang,” kata Azhari.

Pola Komunikasi

LIPPSU juga menyoroti pola komunikasi publik Perumda Tirtanadi yang dinilai sangat aktif setiap kali terjadi gangguan distribusi air. Menurutnya, hampir setiap kebocoran pipa, perawatan instalasi, pemadaman listrik maupun gangguan pompa selalu disertai publikasi melalui media massa, media online, media sosial, dan layanan pelanggan.

BACA JUGA :  Ardan Noor Gagal Genjot Pajak, LIPPSU: Jangan Dipaksa, Mundur Saja, Bro !

Menurut Azhari, Perumda Tirtanadi memiliki anggaran operasional khusus untuk pengelolaan informasi, publikasi, dan hubungan masyarakat yang dikelola melalui Bidang Publikasi dan Komunikasi. Anggaran tersebut digunakan untuk menyebarluaskan informasi kepada pelanggan, termasuk saat terjadi gangguan layanan air bersih.

Dalam praktiknya, informasi gangguan distribusi disampaikan melalui kerja sama dengan media cetak dan media online, publikasi pada akun media sosial resmi perusahaan, website perusahaan, hingga layanan Call Center pelanggan.

“Dalam setiap gangguan air, masyarakat selalu menerima pemberitahuan melalui media online, media cetak, media sosial, hingga call center. Artinya memang ada anggaran operasional komunikasi yang disiapkan perusahaan untuk menyampaikan informasi kepada pelanggan. Namun masyarakat tentu berharap perhatian yang sama juga diberikan untuk menyelesaikan akar persoalan infrastrukturnya,” ujarnya.

Menurutnya, fungsi publikasi dan komunikasi kepada pelanggan memang penting sebagai bentuk keterbukaan informasi. Namun yang lebih penting adalah memastikan gangguan yang sama tidak terus berulang dari tahun ke tahun.

“Jangan sampai yang berulang hanya pengumuman gangguan airnya, sementara penyebab utamanya tetap terjadi. Yang dibutuhkan pelanggan bukan sekadar informasi mati air, tetapi kepastian bahwa masalah yang sama tidak terus berulang,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Publikasi dan Komunikasi Perumda Tirtanadi, Lokot Parlindungan Siregar, sebelumnya menjelaskan bahwa kebocoran JDU berdiameter 1.000 mm di Jalan Purwo Gang Family mengharuskan dilakukannya perawatan dan perbaikan mulai 9 Juni 2026 pukul 20.00 WIB hingga selesai.

BACA JUGA :  MPW Pemuda Pancasila Sumut Bagikan Ratusan Takjil, Ijeck: Wujud Kepedulian di Bulan Ramadan

Menurut Lokot, tim teknis telah diterjunkan ke lokasi sejak kebocoran terdeteksi untuk melakukan penanganan darurat. Selama proses perbaikan berlangsung, distribusi air bersih mengalami gangguan di wilayah pelayanan Cabang Delitua, Medan Kota, Medan Denai, HM Yamin, dan Tuasan.

Perumda Tirtanadi mengimbau pelanggan untuk menampung air secukupnya serta melakukan penghematan penggunaan air selama masa perbaikan. Perusahaan juga menyiapkan layanan mobil tangki air bagi pelanggan yang membutuhkan.

“Atas nama manajemen Perumda Tirtanadi, kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami menargetkan pekerjaan dapat diselesaikan secepat mungkin agar distribusi air kembali normal,” kata Lokot.

LIPPSU meminta manajemen Tirtanadi membuka secara transparan rencana induk peremajaan jaringan pipa tua, khususnya jalur transmisi Delitua yang dalam satu dekade terakhir berulang kali mengalami kebocoran. Menurut lembaga tersebut, masyarakat berhak mengetahui target penggantian pipa, kebutuhan investasi, tahapan pekerjaan, serta strategi jangka panjang perusahaan untuk mengurangi risiko gangguan distribusi air di masa mendatang.

Laporan : Heriyanto