Oleh: Erni/by Dr M Abd Ghani
MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Saat kapal-kapal uap dari Eropa mulai menyibak Selat Malaka pada pertengahan abad ke-19, pesisir timur Sumatra sedang bersiap menjadi panggung besar sebuah perubahan yang tidak pernah benar-benar padam dalam ingatan kolektifnya. Kawasan yang ketika itu disebut Sumatra Timur -berbatasan dengan Aceh, Bengkalis, dan Selat Malaka-bertransformasi dari pelabuhan dagang sederhana menjadi pusat perkebunan paling sibuk di Asia Tenggara.
Semuanya bermula dari pertemuan kepentingan antara kolonialisme, teknologi industri, dan kekuasaan lokal yang terikat oleh perjanjian politik bernama Tractaat Siak.
Awal Ledakan Perkebunan di Timur Sumatra
Sebelum pengusaha Eropa datang, masyarakat Melayu, Karo, dan Simalungun sudah lama berdagang lada, rotan, pinang, hingga getah perca. Namun potensi agraris Sumatra Timur baru benar-benar masuk radar global setelah Belanda menandatangani Tractaat Siak (1 Februari 1858). Perjanjian itu menjadikan Deli, Serdang, dan Langkat berada di bawah perlindungan kolonial, membuka ruang luas bagi campur tangan ekonomi dan militer Hindia Belanda.
Hanya berselang 15 tahun, pada 15 Mei 1873, sejumlah kerajaan digabung menjadi Karesidenan Sumatra Timur cikal bakal provinsi yang kelak menjadi kawasan perkebunan paling agresif di luar Jawa.
Tiga Nama yang Mengguncang Tanah Deli
Ledakan tembakau Deli tidak mungkin terjadi tanpa tiga sosok:
1. Jacobus Nienhuys – pengusaha Belanda dari Jawa yang menjadi motor ekspansi perkebunan.
2. Said bin Abdullah bin Umar Bilfagih – pedagang keturunan Arab-Surabaya, orang pertama yang melihat potensi tembakau lokal Deli.
3. Sultan Deli – pemegang legitimasi tanah yang menyediakan konsesi ribuan hektare.
Melalui hubungan kekerabatan-karena Said menikahi adik Sultan-Nienhuys dipertemukan dengan istana. Dari perjumpaan inilah dimulai sebuah proyek agraria raksasa.
Tanggal 7 Juli 1863, kapal Josephine merapat di muara Sungai Deli, membawa tenaga ahli dan modal besar. Tahun pertama Nienhuys gagal. Tetapi pada 1869, tembakaunya menembus lelang Rotterdam sebagai pembungkus cerutu kelas dunia. Dari sini nama Tembakau Deli resmi lahir.
Permintaan pasar meningkat liar. Ribuan tenaga kerja kontrak diimpor dari berbagai penjuru Asia:
Cina (Swatow, Amoy, Kanton) Tamil/Koromandel, Siam, Jawa (Bagelen), Penang dan Singapura.
Pada 1 November 1869, Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij, perusahaan perkebunan paling berkuasa di Asia pada zamannya.
Dari Deli ke Langkat Lahan Dibuka, Kota Baru Lahir. Dalam waktu satu dekade, jalur dari Sungai Wampu hingga Sungai Ular penuh perusahaan baru. Pada 1884, jumlah kebun tembakau sudah mencapai 76 perusahaan, menyebar sampai Padang (Sumatera Barat).
Kebijakan besar datang lagi pada Agrarische Wet 1870, hukum agraria yang mengizinkan investor asing menyewa tanah Sultan hingga 75 tahun. Sistem konsesi raksasa inilah yang mempercepat kelahiran konglomerasi perkebunan
Deli Maatschappij, Senembah Maatschappij, Harrison & Crosfield (Inggris)
Tembakau bukan lagi satu-satunya primadona.
Tonggak-tonggak berikut memperluas lanskap perkebunan. 1902 – kebun karet pertama di Serdang
1909-1914 – raksasa Amerika masuk (US Rubber & Goodyear)
1916 – jumlah perusahaan perkebunan menyentuh 320 perusahaan
Medan-yang ditetapkan sebagai ibukota Karesidenan tahun 1887-menjadi kota kolonial paling modern setelah Batavia dan Surabaya.
Gilang-Gemilang Para Planter, Gelapnya Nasib Para Koeli.
Di balik kejayaan gedung kantor para planter Eropa, kehidupan buruh kontrak berlangsung keras, sistem kerja berikat barak penuh sesak, hukuman fisik, kontrol mandor yang brutal
Banyak yang datang dari Tiongkok dan India, berakhir tanpa kubur.
Wilayah ini tumbuh menjadi pusat ekonomi berbasis ekspor, tembakau, karet, kopi, dan kelapa sawit. Dan dari situlah struktur ekonomi Sumatra Utara bertahan hingga hari ini.
Kesimpulan: Jejak yang Tidak Pernah Hilang
Sejarah perkebunan Sumatra Timur adalah kisah panjang:
Modal asing, kekuasaan kerajaan, politik kolonial, arus migrasi tenaga kerja
perubahan bentang alam dan lahirnya identitas ekonomi baru.
Dari Deli, Serdang, Langkat, Asahan, hingga Simalungun- semua tersambung dalam jaringan agraria raksasa sejak 1863 hingga awal abad ke-20.
Mesin uap, pembukaan Terusan Suez (1869), dan kebijakan liberal Belanda mempercepat ledakan ini.
Warisan paling besar bukan hanya kejayaan tembakau, tetapi lahirnya Sumatra Timur sebagai pusat agroindustri Indonesia sebelum akhirnya tembakau tersingkir oleh perkembangan kota dan perubahan global.
Hari ini, ingatan tentang Tembakau Deli seperti bara yang dipadamkan. Tapi jejak kekuasaan, modal, dan luka sejarahnya masih terasa dalam denyut kota Medan.






