MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Tidak semua orang yang banyak bicara tentang agama telah menjadi ulama rabbani.
Tidak semua yang hafal dalil telah dekat dengan Allah.
Tidak semua yang dikenal umat telah selamat dari ujian popularitas.
Ulama rabbani bukan sekadar orang yang luas ilmunya. Ia adalah orang yang ilmunya menuntun manusia kepada Allah. Ucapannya menghidupkan hati. Sikapnya menenangkan jiwa. Kehadirannya membuat manusia ingat akhirat.
Ia tidak menjadikan agama sebagai jalan mencari kemuliaan di tengah manusia. Ia menjadikan ilmu sebagai jalan merendahkan diri di hadapan Allah.
*Allah berfirman :*
«“Akan tetapi, jadilah kalian orang-orang rabbani, karena kalian selalu mengajarkan Kitab dan terus mempelajarinya.”
(QS. Ali ‘Imran: 79)»
Ilmu yang Melahirkan Ketakutan kepada Allah
Ciri utama ulama rabbani bukan sekadar kefasihan berbicara.
Bukan jumlah pengikut.
Bukan banyaknya panggung.
Bukan pula ramainya pujian.
Ciri mereka adalah rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman:
«“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)»
Semakin dalam ilmunya, semakin lembut hatinya.
Semakin tinggi kedudukannya, semakin kuat rasa takutnya.
Semakin banyak manusia memujinya, semakin ia khawatir amalnya tidak diterima.
Ulama rabbani tidak merasa aman hanya karena telah mengajar manusia. Ia takut ilmunya menjadi hujah yang memberatkannya pada hari kiamat.
Ia tidak sibuk menghitung berapa orang yang mengikutinya. Ia lebih sibuk menilai apakah Allah meridhainya.
Tidak Menjual Agama untuk Kepentingan Dunia
Ulama rabbani tidak mengubah hukum karena tekanan penguasa.
Ia tidak menyembunyikan kebenaran demi menjaga kedudukan.
Ia tidak memelintir dalil agar sesuai dengan kepentingan pihak yang membayarnya.
– Ia tahu bahwa dunia akan berakhir.
– Panggung akan sepi.
– Jabatan akan berganti.
– Kekuasaan akan runtuh.
Namun setiap kata yang pernah ia ucapkan akan dimintai pertanggungjawaban.
Ia lebih takut kehilangan ridha Allah daripada kehilangan fasilitas.
Ia lebih rela dijauhi manusia daripada harus mendekati kemungkaran.
Ia tidak mudah memvonis. Namun ia juga tidak diam ketika kebenaran harus disampaikan.
– Lembut tidak membuatnya lemah.
– Tegas tidak membuatnya kasar.
– Ia meletakkan setiap sikap pada tempatnya.
– Mengajarkan Ilmu dengan Kasih Sayang
*Ulama rabbani tidak merasa dirinya lebih suci dari umat.*
– Ia tidak memandang pendosa dengan kebencian yang mematikan harapan.
– Ia melihat mereka sebagai orang sakit yang membutuhkan pengobatan.
– Ia menasihati tanpa mempermalukan.
– Ia menegur tanpa merendahkan.
– Ia mengajak tanpa merasa paling berjasa.
– Ia tahu bahwa hidayah milik Allah.
Tugasnya hanya menjelaskan, membimbing, dan mendoakan.
Ketika melihat orang awam keliru, ia tidak sibuk menertawakan kebodohannya. Ia mendekatinya dengan kesabaran.
Ketika melihat anak muda jauh dari agama, ia tidak langsung mencap mereka rusak. Ia mencari pintu untuk memasukkan cahaya ke dalam hati mereka.
Sebab ulama rabbani tidak hanya ingin memenangkan perdebatan.
Ia ingin menyelamatkan manusia.
Berani Berkata, “Saya Tidak Tahu”
Di antara kemuliaan seorang ulama adalah keberaniannya mengakui keterbatasan.
Ia tidak malu berkata, “Saya belum tahu.”
Ia tidak menjawab semua pertanyaan hanya demi menjaga wibawa.
Ia tidak memaksakan pendapat pada persoalan yang belum dipahaminya.
Baginya, mengatakan “saya tidak tahu” lebih ringan daripada memberi jawaban yang menyesatkan manusia.
Orang yang mengejar popularitas ingin selalu terlihat paling tahu.
Namun orang rabbani sadar bahwa ilmu Allah sangat luas, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas.
Semakin banyak ia belajar, semakin ia merasa sedikit yang diketahuinya.
Kesadaran itu membuatnya rendah hati.
Ilmunya Tampak dalam Akhlaknya
Ulama rabbani tidak hanya dikenal dari kitab yang dibaca.
Ia dikenal dari kesabarannya.
Dari kejujurannya.
Dari kezuhudannya.
Dari cara ia memperlakukan orang kecil.
Dari caranya menerima kritik.
Dari sikapnya saat tidak dihormati.
Sangat mudah terlihat saleh ketika semua orang memuji.
Namun kualitas hati tampak ketika seseorang direndahkan, disalahpahami, atau dilupakan.
Ulama rabbani tidak menggunakan ilmunya untuk membalas penghinaan.
Ia menjaga lisannya.
Ia menahan amarah.
Ia memilih kata-kata yang paling dekat dengan keridhaan Allah.
Ilmu tidak membuatnya merasa tinggi.
Ilmu justru membuatnya semakin sadar betapa besar kekurangan dirinya.
Tidak Mengumpulkan Manusia untuk Dirinya
*Ulama rabbani tidak membangun pengikut yang fanatik kepada pribadinya :*
– Ia membangun umat yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
– Ia tidak marah ketika muridnya belajar kepada ulama lain.
– Ia tidak gelisah ketika namanya tidak disebut.
– Ia tidak merasa tersaingi ketika ada orang lain yang lebih diterima umat.
Baginya, tersebarnya kebenaran jauh lebih penting daripada terkenalnya nama dirinya.
Ia tidak berkata, “Ikutilah aku.”
Hatinya berkata, “Ikutilah kebenaran.”
– Ia tidak menjadikan umat bergantung kepada sosoknya.
– Ia mengarahkan mereka agar bergantung kepada Allah.
Sebab seorang ulama bisa wafat.
*Al-Qur’an dan Sunnah tetap menjadi petunjuk sampai akhir zaman.*
Dekat dengan Umat, Dekat Pula dengan Allah
Ulama rabbani tidak hanya hadir di atas mimbar.
– Ia hadir ketika umat terluka.
– Ia menangis bersama orang yang berduka.
– Ia menguatkan keluarga yang sedang retak.
– Ia menasihati pemimpin yang menyimpang.
– Ia membela orang lemah yang dizalimi.
– Ia tidak hidup dalam kemewahan sementara umat yang dibimbingnya tenggelam dalam kesulitan.
– Ia mungkin tidak mampu menyelesaikan semua persoalan.
Namun umat merasakan bahwa ia peduli.
Di malam hari, ia menyebut nama-nama mereka dalam doa.
Di hadapan manusia, ia mengajarkan.
Di hadapan Allah, ia memohonkan ampunan untuk umatnya.
Ujian Terberat Ulama adalah Ketika Dipuji
Pujian dapat menjadi fitnah yang sangat halus.
Ia masuk tanpa terasa.
*Awalnya berdakwah untuk Allah.*
– Lalu hati mulai menikmati sanjungan.
– Awalnya ingin menyampaikan kebenaran.
– Lalu mulai takut kehilangan pengikut.
– Awalnya tidak peduli dengan kedudukan.
Lalu merasa sakit ketika tidak diundang.
– Ulama rabbani selalu mencurigai nafsunya sendiri.
– Ia tidak mudah tertipu oleh banyaknya manusia yang datang.
Sebab keramaian belum tentu tanda penerimaan Allah.
– Ia terus memperbaiki niat.
– Ia menyembunyikan amal.
– Ia memperbanyak istighfar.
Ia sadar bahwa popularitas dapat mengangkat nama di dunia, tetapi tidak selalu meninggikan derajat di akhirat.
*Ketika Ulama Wafat :*
– Kepergian ulama rabbani meninggalkan ruang kosong yang sulit digantikan.
– Bukan hanya karena luas ilmunya.
– Karena ketulusan hatinya.
– Umat kehilangan suara yang menenangkan.
– Orang lemah kehilangan pembela.
– Anak muda kehilangan arah.
– Para pendosa kehilangan sosok yang tidak lelah mengajak mereka pulang.
*Jejaknya tetap hidup*.
– Ilmu yang ia ajarkan terus diamalkan.
– Nasihatnya terus diingat.
– Murid-muridnya meneruskan kebaikan.
– Doa-doanya mungkin tetap menjadi sebab datangnya rahmat bagi banyak manusia.
Ia telah tiada, tetapi cahaya yang ia tinggalkan belum padam.
– Kita Membutuhkan Ulama Rabbani
– Zaman ini tidak kekurangan orang yang pandai berbicara.
– Kita kekurangan orang yang takut kepada Allah.
– Kita tidak kekurangan konten agama.
– Kita kekurangan keteladanan.
– Kita tidak kekurangan perdebatan.
– Kita kekurangan kasih sayang.
– Kita tidak kekurangan orang yang ingin didengar.
– Kita kekurangan orang yang bersedia mendengar luka umat.
*Umat membutuhkan ulama yang tidak terbeli :*
– Tidak mudah diprovokasi.
– Tidak mabuk pujian.
– Tidak takut dicela.
– Tidak keras kepada orang lemah, tetapi lunak kepada orang berkuasa.
Umat membutuhkan ulama yang berdiri bersama kebenaran, meski harus kehilangan banyak hal.
Menjadi Rabbani Sebelum Dikenal sebagai Ulama :
Tidak semua kita akan menjadi ulama besar.
Namun setiap kita dapat belajar menjadi rabbani.
– Belajar karena Allah.
– Mengajar karena Allah.
– Menasihati karena Allah.
– Diam karena Allah.
– Berbicara karena Allah.
– Menerima pujian dengan istighfar.
– Menerima kritik dengan muhasabah.
– Menerima amanah dengan rasa takut.
Wahai para penuntut ilmu,
– Jangan hanya mengejar banyaknya hafalan.
– Jagalah kebersihan hati.
– Jangan hanya mengejar kemampuan berbicara.
– Jagalah kejujuran niat.
– Jangan hanya ingin dikenal sebagai orang berilmu.
– Mintalah kepada Allah agar ilmu itu membawa kita lebih dekat kepada-Nya.
Sebab pada hari ketika semua gelar tidak lagi berarti, hanya satu yang kita harapkan :
– Allah menerima ilmu kita.
– Allah mengampuni kekurangan kita.
– Allah menjadikan setiap kata yang pernah kita ajarkan sebagai cahaya di dalam kubur.
Ya Allah, hadirkan di tengah umat ini ulama-ulama rabbani.
– Ulama yang takut kepada-Mu.
– Ulama yang mencintai umat.
– Ulama yang tidak menjual agama.
– Ulama yang teguh dalam kebenaran.
– Ulama yang lembut dalam membimbing.
Dan jadikan ilmu yang kami pelajari sebagai jalan menuju ridha-Mu, bukan jalan untuk membesarkan nama kami di hadapan manusia.
Editor : Ust M. Ismail Chair Tanjung, Sh.I
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari A.M Sinik, melontarkan…
MEDAN, PROMEDIA,NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari A.M Sinik…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari A.M Sinik…
Oleh : Suardi, SH MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Mantan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri), Komjen…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari A.M Sinik, menilai…
MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari A.M Sinik, menyoroti…