TABAGSEL, PROMEDIA.NEWS – Isu pemekaran Daerah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) kembali menguat. Wilayah di ujung barat Provinsi Sumatra Utara ini dinilai masih kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah provinsi, terutama setelah batalnya proyek pembangunan jalan yang sangat dibutuhkan warga.
Kekecewaan ini diungkapkan oleh salah satu tokoh pemuda Tabagsel Tan Gozali Nasution, pendiri Ikatan Pemuda Mandailing. Menurutnya, kepemimpinan era saat ini Gubernur Bobby Nasution masih terkesan diskriminatif terhadap Tabagsel selaku kampung halaman nya.
Ia menilai menantu mantan Presiden Joko Widodo itu seakan mengabaikan kebutuhan pembangunan di daerah tersebut.
“Seharusnya seorang gubernur adalah pemimpin untuk semua wilayah, bukan hanya untuk daerah yang memberi dukungan suara besar saat pemilu. Kalau pun suara di Tabagsel kecil, bukan berarti pembangunan boleh diabaikan,” tegas Tan, Selasa (30/9/2025) di Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal.
Tabagsel bukanlah daerah miskin sumber daya. Wilayah ini dikelilingi potensi alam melimpah, mulai dari tambang emas, minyak, pembangkit listrik, hingga perkebunan sawit skala besar.
Bahkan, perusahaan-perusahaan besar dengan plat kendaraan BK, BM, dan BA beroperasi di kawasan ini, meski Tabagsel memiliki plat tersendiri, yakni BB.
Ironisnya, dengan kekayaan alam yang begitu besar, masyarakat Tabagsel masih menghadapi keterbatasan infrastruktur. Jalan banyak yang rusak parah, fasilitas kesehatan dinilai tidak memadai, dan kualitas pendidikan masih tertinggal jauh dibandingkan daerah lain di Sumatra Utara.
“Bahkan perkebunan milik perusahaan Sumut mayoritas berada di Mandailing Natal. Tapi lihat kondisi daerahnya, jauh dari kata sejahtera,” kata Tan menambahkan.
Selain hasil bumi, Tabagsel juga menyimpan kekayaan ekologis. Hutan tropis Taman Nasional Batang Gadis dan Ekosistem Batangtoru menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, sekaligus paru-paru dunia. Garis pantai yang panjang menambah nilai strategis wilayah ini.
“Jangan lupa, oksigen yang dihirup masyarakat Medan dan juga gubernur hari ini sebagian besar berasal dari hutan di Tabagsel,” ujar Tan menegaskan.
Melihat kondisi ini, desakan agar Tabagsel dimekarkan menjadi provinsi sendiri semakin nyaring terdengar.
Menurut Tan, secara historis Tabagsel punya identitas berbeda, termasuk dengan adanya plat nomor kendaraan khusus “BB” yang menjadi bukti pemisahan identitas dari daerah lain.
“Kami sudah menjalin komunikasi dengan para tokoh di Mandailing. Saatnya Tabagsel merdeka dari Sumut, supaya tidak terus dimiskinkan oleh pusat provinsi,” tutupnya.
Untuk diketahui, Tabagsel saat ini terdiri dari lima daerah otonom hasil pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni:
1. Kabupaten Tapanuli Selatan
2. Kabupaten Mandailing Natal
3. Kabupaten Padang Lawas
4. Kabupaten Padang Lawas Utara
5. Kota Padangsidimpuan
Berbagai potensi besar yang dimiliki, harapan masyarakat Tabagsel untuk mendapatkan perhatian lebih dalam pembangunan semakin kuat, sekaligus membuka wacana pemekaran provinsi baru sebagai solusi jangka panjang.
Di sisi lain Pemerhati Pembangunan TABAGSEL Bang Regar merasakan kekecewaan yang mendalam terhadap sosok Bobby Nasution selaku Halak Hita dia seakan lupa akan janjinya yang sudah diucapkan selama beberapa bulan dalam kampanye pilgub tahun kemaren
“Rasanya sakit kalau dikhianati putra asli sendiri ketimbang janji orang lain, Hati-hati,Karma Sampuraga “,Ujar Bang Regar
Janji Pasca dilantik menjadi Gubernur Sumatera Utara akan berkantor di beberapa kabupaten kota wilayah Tabagsel selama 3 bulan menjadi sorotan masyarakat hingga saat ini tak satupun terealisasikan,apa lagi pembangunan.(red)






