News

Prabowo: Iran itu Bangsa Keras Kepala; Analogi Keteguhan di Tengah Tekanan Global

JAKARTA, PROMEDIA.NEWS  | Pak Presiden yg terhormat, tanggal 5-6 April kemarin, negosiasi terkahir anda lewat Bahlil dan Sugiono ditolak Iran. Bahwa Iran menolak permintaan Anda untuk loloskan kapal Pertamina di Hormuz.

Hanya saja tidak diberitakan media-media Indonesia. Mungkin ditutup rapat atau tidak berani karena ditekan.

Hal ini membuat Anda makin frustasi. Pasokan BBM impor tetap tersendat, harga dunia tetap meroket. Moneter dan fiskal domestik tambah rusak berantakan. Untuk penolakan Iran dan semua dampak yg memukul ekonomi Indonesia dgn hebat, membuat Anda jengkel, marah-marah, menyebut Iran bangsa keras kepala.

Pak Presiden yg terhormat, cobalah tengok asumsi dasar makro ekonom terkait target produksi minyak APBN 2026 cuma 610rb barel. Kebutuhan 1,6jt barel. Praktis Indonesia Impor sekitar 1jt barel per hari. Lonjakan harga minyak dunia di atas US$ 100 per barel.

Dampaknya moneter goyang karena rupiah anjlok dipicu tinggi permintaan impor valuta asing (Dollar US) utk bayar impor minyak. Fiskal kepukul berantakan karena naikanya pembiayaan subsidi di tengah harga minyak impor mahal. Picu lonjakan defisit APBN 240,1 triliun.

Apapun mitigasi risiko yg anda lakukan, itu hanya bersifat menahan sementara, efisiensi-refocusing APBN gak bakal lama. Sampai kapan anggaran efisiensi itu bertahan ? Sampai kapan SAL di BI bisa bertahan hadapi goncangan harga minyak dunia ?

Dalam waktu kurang dari sebulan defisit APBN melonjak dari Rp 135 triliun jadi Rp 240,1 triliun. Di saat yg sama kurang dari 2 minggu, SAL pemerintah di BI menipis dari Rp 420 triliun jadi Rp 120 triliun.

Artinya krisis harga minyak menggerogoti anggaran negara begitu cepatnya. Setelah dana efisensi APBN dan SAL tidak bisa lagi diandalkan, hanya ada satu pilihan terkahir, naikan harga BBM, cabut subsidi. Itulah saatnya anda diamuk seluruh warga Indonesia. Dampak ini yg bikin anda saat ini duduk dalam keadaan yg tidak tenang, dipukul rasa frustasi. Teriak Iran bangsa keras kepala.

Kedepannya, ketika konflik mereda dan ketika krisis harga minyak turun, bangsa ini tetap dirundung masalah jangka panjang karena tingginya impor minyak. Kita tertolong Hanya soal harga. Harga turun biaya impor murah, harga mahal biaya impor naik dan menekan. Artinya, Secara fundamental jangka panjang tetap rapuh.

Soal konflik, pasokan tersendat, anda mengemis. Buruknya, karena salah diplomasi, berpihak pada penjahat, anda dikerdilkan Iran, ditolak Iran.

Pada 6 April kemarin, permintaan terkahir anda lewat Bahlil ditolak Iran. Kapal Pertamina gagal lewat. Iran membalas anda dgn menyebut: kami tidak akan membuka hormus kepada pihak yg berkawan dgn penjahat amerika-israel. Iran tolak buka hormuz sebagai imbalan gencatan senjata dgn Amerika. Karena sejak awal memang bukan Iran yg ajukan gencatan senjata tapi amerika.

Iran hanya hanya akan membuka hormuz jika ada kesepakatan sebagian dari pendapatan transit kapal di Hormuz diserahkan kepada Iran utk pulihkan kerusakan dalam negerinya akibat diserang Amerika-Israel. Respon ini membuat Anda mencak-mencak sebut Iran bangsa keras kepala.

Bukan keras kepala pak Presiden. Tapi bangsa yg punya harga diri. Menolak menyerah atau dikendalikan siapapun, termasuk Amerika-Isarel meskipun ditekan serangan militer.

Anda harusnya bisa menjadikan Iran sebagai contoh. Ini hanya soal keberanian. Jangan salah pilih lawan, jangan mau terjajah dalam konteks hubungan politik-ekonomi.

Langkah pertama, anda harus punya martabat di hadapan Trump. Batalkan perjanjian ekonomi terutama pada sisi energi yg sudah anda sepakati. Batalkan kesediaan impor minyak US$ 15 miliar dgn Amerika. Lalu Lakukan dengan serius diversifikasi alihkan ketergantungan dari fosil ke EBT yg sampai hari ini masih jalan di tempat. Porsinya dalam bauran energi mix nasional hanya 16%. Sisanya masih didominasi fosil.

Gunakan pajak rakyat dengan bijak. Jangan pemborosan untuk program basis proyek. Undang investor asing, tapi pola relasi bisnisnya harus B to B bukan B to G, sehingga anda punya kedaulatan dan tidak didikte seperti kambing.

Penulis: Bang Andriansyah;  https://www.facebook.com/share/1GFHj6AwmV/

By: Syafaruddin Sikumbang.

redaksipro

Recent Posts

LIPPSU: Rp14 Triliun Kredit Macet, BNI Medan Jangan “Lari Malam”

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…

31 Mei 2026

Di Tembung, Abang Beradik Jalankan Bisnis Gelap Jual Sepedamotor Sistem Online Di Gudang Misterius

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, menyoroti…

31 Mei 2026

Titi Gantung Dulu Bangunan Cagar Budaya Bersejarah, Kini Dibiarkan Semrawut dan Belepotan di Sana-Sini

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…

31 Mei 2026

LIPPSU: Di Sini Pertalite Dibatasi, Di Tempat Lain Mafia BBM Pesta Keuntungan

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik,…

31 Mei 2026

Aku Taat dan Menyembah-Mu, Mengapa Ujian Ini Tak Berkesudahan Ya Rabb?

Karya : Ust. Abdul Latif Khan. MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Setiap manusia dilahirkan diatas bumi, tetap…

31 Mei 2026

LIPPSU: PT PSU Salah Urus Sejak Awal, Kini Semua Hancur Lebur Jadi “Tepung Terigu”

MEDAN, PROMEDIA.NEWS - Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Jumat…

30 Mei 2026