Diduga Lift Bekas, Anggaran Fantastis Rp632,5 Miliar Jadi Sorotan, Revitalisasi Lapangan Merdeka Diterpa Skandal

News117 Dilihat

MEDAN – PROMEDIA.NEWS – Proyek revitalisasi Lapangan Merdeka Medan yang menelan anggaran dengan Tahap I 97, 5 M, Tahap II 497 M dan Tahap III 38 M sehingga total sangat fantastis mencapai Rp 632,5 miliar dan telah diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, beberapa bulan lalu, kini tengah disorot tajam.

Dugaan penggunaan elevator (lift) bekas alih-alih perangkat baru menjadi pemicu utama polemik yang mengancam kredibilitas proyek kebanggaan Kota Medan ini.

Dugaan tersebut mencuat setelah penelusuran media yang mengidentifikasi adanya indikasi kuat bahwa elevator (lift) yang terpasang adalah unit bekas pakai. Elevator (Lift ) dan Eskalator yang digunakan bermerek XioLift buatan Cina. Keterlibatan Pihak Terkait dan Perubahan Merek, diduga juga Escalator dan Elevator (Lift) diduga juga belum di Reksa Uji K3 Alat.

Nama Vincent disebut-sebut sebagai pemborong escavator dan eskalator yang diduga bawaan Topan Ginting sewaktu menjadi Pj Sekda Kota Medan. untuk proyek ini. Ironisnya, merek XioLift ini diduga bukan pilihan awal.

BACA JUGA :  Dewan Pertimbangan Golkar Sumut Curiga Penunjukan Plt Untuk Kepentingan Penguasa

Pada masa Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (Perkim) Kota Medan Sutan Endar Lubis, merek escavator (lift) dan eskalator yang direncanakan berbeda. Namun, setelah Topan Ginting menjabat sebagai Pj Sekda dan Alexande Sinulingga menjadi Kepala Dinas Perkim, Vincent disebut membeli merek XioLift. Lebih lanjut, Topan Ginting juga disebut sebagai pihak yang merekomendasikan Vincent sebagai rekanan pengadaan escavator (lift) dan eskalator.

Penggunaan escavator (lift) bekas dalam proyek infrastruktur publik berskala besar dan beranggaran fantastis ini menimbulkan banyak pertanyaan. Mulai dari kualitas dan standar keamanan dan keselamatan, hingga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana publik yang seharusnya digunakan untuk pembangunan fasilitas terbaik bagi masyarakat.

BACA JUGA :  Timbun Lahan Mangrove, DPRD Medan Pertanyakan Izin PBG PT CPI di Sicanang Tanpa Amdal

Kondisi Bangunan Bawah Tanah dan Permasalahan Multi-Kontraktor
Proyek revitalisasi Lapangan Merdeka ini mencakup pembangunan ruang bawah tanah (basement) yang dirancang untuk area komersial, parkir, dan museum. Meskipun Bobby Nasution sempat menyatakan basement sudah selesai dan akan segera diresmikan pada 15 Februari 2025, laporan terbaru menunjukkan bahwa proyek secara keseluruhan belum sepenuhnya rampung.

Bahkan, beberapa kerusakan fasilitas sudah dilaporkan setelah peresmian, seperti bagian yang terkelupas dan taman yang rusak akibat penggunaan tidak semestinya oleh masyarakat. serta bagian bawah kebanjiran setiap hujan datang.Kondisi proyek juga diperparah dengan adanya dua pemborong yang mengerjakan satu pekerjaan.

Proyek ini dibagi menjadi beberapa tahap, di mana Gayo Lues Grup mengerjakan Tahap 1 dan 2, dan masih memiliki kewajiban menyelesaikan sisa pekerjaan tahap 2. Sementara itu, Rizal dan rekannya disebut sebagai pemenang tender dan mengerjakan Tahap 3 Lapangan Merdeka.

BACA JUGA :  BPK Temukan Kontrak Penjualan Teh PTPN IV Sekitar Rp29,43 Miliar Yang Tidak Terealisasi

Adanya multi-kontraktor ini diduga menjadi salah satu penyebab amburadulnya pengerjaan proyek dan keterlambatan penyelesaian.
Tuntutan Klarifikasi dari Masyarakat
Proyek multiyears ini seharusnya rampung pada akhir 2024, namun hingga saat ini masih menyisakan pekerjaan hingga awal 2025.

Keterlambatan ini berujung pada pengenaan denda harian yang besar kepada pihak kontraktor.

Sementara itu dikonfirmasi mantan Kadis Perkim Medan yang saat ini menjadi Kadis Pendidikan Sumut Alexander Sinulingga, terkait berbagai permasalahan lapangan merdeka tersebut, hingga berita ini ditayangkan belum juga memberikan klarifikasi.

Masyarakat dan berbagai pihak kini menantikan klarifikasi dan tindakan tegas dari pemerintah terkait polemik yang menyelimuti proyek kebanggaan Kota Medan ini. (tim)