MEDAN, PROMEDIA.NEWS – Direktur Eksekutif Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Sabtu (23/5) menyoroti keras dampak pemadaman listrik total (blackout) yang melanda Pulau Sumatera pada Jumat malam (22/5/2026).
Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai bentuk kegagalan sistem kelistrikan yang membuat kehidupan masyarakat terganggu secara luas, mulai dari aktivitas ekonomi hingga sosial-keagamaan.
“Tidak terdengar lagi suara azan berkumandang sampai subuh, Sumatera seperti neraka, Tuhan dikambing hitamkan,” kata Azhari Sinik
Blackout dilaporkan terjadi mulai sekitar pukul 18.44 WIB dan menyebabkan hampir seluruh wilayah di Pulau Sumatera mengalami pemadaman serentak.
Gangguan ini berdampak di sedikitnya enam provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Barat, dan Lampung. Sejumlah kota besar seperti Medan, Pekanbaru, Padang, hingga Banda Aceh mengalami kegelapan total selama beberapa jam sebelum proses pemulihan bertahap dilakukan oleh PLN.
PT PLN (Persero) menyampaikan bahwa gangguan dipicu oleh masalah pada sistem transmisi interkoneksi Sumatera, termasuk pada jaringan 275 kV Lubuk Linggau–Lahat serta gangguan pada beberapa jalur 150 kV.
Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan sistem yang memicu mekanisme pengamanan otomatis sehingga sejumlah pembangkit terlepas dari jaringan dan menyebabkan pemadaman meluas.
PLN juga menyebut faktor cuaca di beberapa titik turut memperburuk stabilitas sistem kelistrikan saat kejadian berlangsung. Akibat blackout tersebut, sekitar 8,3 juta pelanggan terdampak sebelum pemulihan dilakukan secara bertahap oleh tim teknis di lapangan.
Dampak pemadaman dirasakan langsung masyarakat. Lampu lalu lintas di sejumlah titik tidak berfungsi, jaringan telekomunikasi mengalami gangguan, aktivitas UMKM terhenti sementara, dan layanan publik seperti rumah sakit serta perkantoran ikut terdampak.
Di beberapa wilayah, masyarakat juga melaporkan pengeras suara masjid tidak dapat berfungsi, sehingga kumandang azan sempat tidak terdengar melalui sistem pengeras suara seperti biasanya.
Kondisi gelap total itu membuat sejumlah masjid di berbagai daerah terpaksa menghentikan penggunaan pengeras suara karena listrik padam.
Di banyak tempat, azan tetap dikumandangkan secara manual di dalam masjid tanpa pengeras suara, sehingga tidak terdengar luas ke permukiman warga seperti kondisi normal.
Sejumlah warga juga mengaku suasana malam berubah drastis menjadi sunyi dan gelap, termasuk di kawasan perkotaan yang biasanya ramai aktivitas ibadah dan lalu lintas. Hilangnya suara azan dari pengeras suara masjid disebut menjadi salah satu dampak paling terasa secara sosial dan emosional bagi masyarakat Muslim di Sumatera.
Azhari AM Sinik menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya keandalan sistem kelistrikan di Sumatera dan mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PLN.
“Ini bukan sekadar gangguan teknis, tetapi bukti rapuhnya sistem. Sumatera tidak boleh terus-menerus berada dalam kondisi seperti ini, jangan kambing hitam maha pencipta alam, Allah,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah pusat dan PLN harus memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait akar masalah utama blackout tersebut, agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Menurutnya, transparansi menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan energi nasional, khususnya di wilayah Sumatera yang memiliki beban sistem cukup besar.
Selain itu, LIPPSU mendorong agar dilakukan audit menyeluruh terhadap infrastruktur transmisi dan pembangkit di Sumatera, termasuk evaluasi kesiapan mitigasi darurat jika terjadi gangguan serupa di masa mendatang.
Tanpa langkah konkret, Azhari menilai risiko blackout berulang masih sangat mungkin terjadi dan berpotensi merugikan masyarakat serta perekonomian daerah secara lebih luas.
Hingga Sabtu (23/5) pagi, PLN menyatakan pasokan listrik mulai pulih secara bertahap seiring perbaikan sistem interkoneksi Sumatera yang terus dilakukan hingga kembali normal. (Red)






